Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 79 - Jalan-jalan


__ADS_3

Setelah mandi sekalian keramas, barulah Rania keluar dari kamar. Wanita itu benar-benar lupa tidak tinggal berdua saja, ada adik-adiknya yang mengkin sudah kelaparan.


Di tatapnya jam dinding, jarum jamnya sudah menunjukkan angka 10 dan mereka belum sarapan sama sekali. Kaki jenjang berbalut daster sampai lutut itu berjalan ke depan mencari keberadaan adik-adiknya karena di dalam rumah ia tidak menemukan siapapun.


Ia tersenyum melihat dua orang gadis memasuki pagar dan menghampiri dirinya. "Kalian dari mana? Maafin mbak telat bangun pasti kalian udah lapar," sesal Rania.


"Dari luar mbak, habis nyari tukang bubur. Santai aja, Lia sana Ina udah kenyang kok," jawab Relia dengan senyuman. Bagaimana tidak, ia mendapat makanan gratis dari kakak galaknya.


Rania mendesis. "Tunggu ya mbak pesan makanan dulu, kalau masak nggak keburu." Wanita itu kembali ke kamarnya dan mendapati sang suami masih berbaring sembari memeluk guling.


Ia menghiraukannya, mengambil benda pipih di atas meja. "Mau ngapain Ran?" tanya Rangga.


"Mau pesan makanan mas, aku baru ingat nggak ada bahan di dapur, belum belanja bulanan soalnya. Kasian Lia sama Ina. Emang mas nggak lapar?" tanya balik Rania seraya mengotak atik ponselnya.


"Mas," protes Rania saat ponselnya di rebut begitu saja.


"Pakai ponsel mas aja biar sekalian di bayar." Dengan ragu Rania menerima ponsel di tangan Rangga. "Sekalian tanyain Ina sama Lia mereka mau makan apa sayang. Mas mau mandi dulu." Rangga mengecup kening Rania sebelum berjalan ke kamar mandi.


"Mas mau apa?"


"Terserah kamu," sahut Rangga dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


***


"Mas malu ih," tegur Rania saat Rangga datang-datang langsung mengecup keningnya tepat di depan adik-adiknya yang lain.


"Emang kenapa? Salah nyium istri sendiri, hm?"


"Tapi ada ...."


"Ngapain malu sama kita mbak? Kita aja nggak keberatan tuh, iya nggak Lia." Rayna menyenggol tangan Relia yang kini sibuk makan. Sebenarnya gadis itu sudah kenyang, tapi saat di suruh milih makanan masing-masing ia paling cepat.


Entahlah, ada yang aneh di tubuh mungil Relia, banyak makan tapi tetap saja kurus.


Keempatnya makan dengan khidmat, sesekali Rangga mengambil wortel di piring Rania untuk ia makan. Kemudian memindahkan lauknya ke piring sang istri.


Setelah sarapan, Rangga mengajak Rania keluar sebentar, untuk belanja bulanan sekalian kerumah sakit untuk mengecek kondisi kandungan sang istri.


"Kalian mau ikut jalan-jalan nggak? Ayo!" ajak Rania setelah rapi.


"Ikut aja kalau mau, nggak usah malu sama abang." Rangga ikut menimpali, mencoba bergaul dengan adik-adik istrinya.


Tidak mungkinkan ida cuek-cuek aja, nanti malah adik-adik Rania mengira ia tidak suka keberadaan mereka.

__ADS_1


"Nggak udah deh mbak, ina tinggal aja lagian ada Wifi, sayang nggak di pakai nonton," jawab Ina.


"Betul mbak," sahut Relia sedari tadi sibuk dengan ponselnya.


Rania tertawa melihat kedua adik-adiknya. Umur meraka memang tidak terpaut jauh. Dirinya berusia 21, Rayna 19, dan Relia 16.


"Yaudah, pakai wifi sepuasnya aja. Mbak keluar bentar, kalau ada apa-apa langsung telpon ya. Oh iya, di kulkas masih ada makanan kalau lapar tinggal di panasin," ujar Rania sebelum mengikuti langkah Rangga yang lebih dulu keluar dari rumah.


Ia langsung saja naik ke mobil dan memasang seatbelt. "Adik-adik kamu lucu-lucu ya," ujar Rangga seraya membanting setir kemudian keluar dari pekarangan rumah.


"Belum tau aja mereka kayak gimana mas. Lia itu rada ngeselin, Ina galak," ujar Rania terkekeh geli. "Sekarang lagi jaim-jaim karena ada mas. Bentar lagi mereka gelud di rumah."


"Bisa aja istri mas, kalau mereka ngeselin dan ngalak, istri mas gimana dong?"


"Aku kan cantik, baik, ramah, murah senyum, nggak pendendam, nggak bisa lama-lama marah sama orang lain, di bujuk dikit luluh. Pokoknya sempurna deh." Rania langsung menutup wajahnya, ia sadar apa yang baru saja ia katakan sangatlah narsisi dan mungkin geli.


"Gemes banget deh, putar balik yuk, tinggak di kamar aja."


Pluk


"Ish otaknya."

__ADS_1


"Canda sayang."


...****************...


__ADS_2