
Usai mencuci mobil juga sarapan bersama Istri dan adik iparnya, Rangga segera menemui Rania di kebun belakang. Di lihatnya sang istri tengah sibuk mengisi pot-pot yang terbuat dari barang-barang bekas yang tidak terpakai.
Ia tersenyum melihat betapa bahagianya Rania bersama adik iparnya padahal hanya melakukan hal sepele seperti ini.
"Sayang?" panggil Rangga.
Rania yang mendengar itu segera berdiri dan mencuci tangannya, menghampiri sang suami. Ia sedikit terganga saat Rangga mengusap peluh di keningnya.
"Jangan jongkok kayak tadi, kasian anak kita," tegur Rangga.
"Itu cuma kebetulan mas liat aja kok, tadi aku duduk," jawab Rania. "Kenapa? Mas butuh sesuatu?"
"Temenin mas keluar bentar," ajak Rangga.
"Oh oke mas, emangnya mau kemana? Kok aku di suruh ikut, bukan soal pekerjaan ya?" tanya Rania seraya mengikuti langkah Rangga menuju kamar.
"Nggak ada, cuma mau jalan-jalan sama istri mumpung masih nggak sibuk. Bumil pemalasnya mas Rangga sana mandi jangan males-males, atau mau mas mandiin, hm?"
Tubuh Rania sedikit di dorong ke kamar mandi, saat ia hendak berjalan ke lemari untuk menganti baju. Percayalah ia sekarang sangat benci dengan air. Baru melihatnya saja ia sudah kesal, di setel bagaimanapun tetap saja dingin.
"Nanti aja mas, pulang dari jalan-jalan," rengek Rania setelah berada di kamar mandi bersama Rangga.
"Beneran mau di mandiin?" ulang Rangga.
Rania menelan salivanya kasar, jika urusan seperti itu, Rangga tidak pernah main-main, membantah sedikit saja maka yang di katakan akan benar-banar terjadi.
Rania memperhatikan sang suami mengunci pintu kamar mandi, mungkin agar ia tidak kabur. Berjalan menuju shower untuk menyetel air agar lebih hangat.
__ADS_1
"Udah hangat sayang, sini mandi!" lembut Rangga menarik Rania yang memasang wajah kesal.
"Mas Rangga jahat ih, maksa mulu perasaan," gurutu Rania. "Yaudah sana keluar ntar malah nggak jadi mandi."
Cup
"Jangan cemberut sayang."
Setelah mengatakan itu, Rangga keluar dari kamar mandi dan mulai bersiap-siap juga.
Rangga hanya memakai pakaian anak muda seperti umumnya, karena memang masih muda walau sudah dua kali beristri.
Hanya memakai baju kaos putih bergambar, kemeja kuning pudar yang di biarkan kusut tanpa mengancingnya. Celana hitam tak lupa sapatu putih.
Baru saja akan mengambil kacamata di laci, aroma wangi yang selalu membuatnya candu menguar di sekitar.
"Mau main dulu sebelum pergi?" seringai Rangga.
"Ish, mas udah rapi gitu masih aja pikirannya mesum. Ada ya suami kayak mas? Setiap ngomong pasti nggak jauh-jauh dari sana?" gerutu Rania seraya berjalan santai kesamping Rangga mengambil dress yang mungkin cocok untuknya.
"Mas Rangga!" Rania terkesiap saat Rangga memeluknya.
"Cium dulu setelah itu mas nggak ganggu lagi," ujar Rangga yang kini mengungkung tubuh Rania, handuk yang di kenalan wanita itu hampir melorot.
Cup
__ADS_1
Cup
Cup
"Udah mas sayangku, sekarang duduk aku mau pakai baju dulu," pasrah Rania, jika tidak begini maka Rangga akan memaksa.
Benar saja setelah mendapat ciuman, laki-laki itu duduk dengan tenang di sofa seraya memainkan ponselnya.
Diam-diam Rania melirik sang suami yang terlihat sangat tampan. Ia jadi senyum-senyum sendiri tanpa sadar.
"Mau di cium? Ngapain liatin mulu?"
"Si-siapa yang liatin, orang lagi anu ... itu ... lagi mikir mau pakai baju apa biar serasi sama Mas."
"Nggak usah cantik-cantik, mas nggak suka kalau laki-laki lain liatin kamu. Kalau perlu pakai baju longar biar perut seksinya nggak keliatan. Enak aja istri mas jadi tontonan."
Rania tertawa, pede banget Rangga bahwa ia akan menjadi tontonan di luar sana. Ia tidak sencantik itu yang bisa menarik perhatian semua orang.
"Mas nggak lagi bercanda Ran."
"Iya mas nggak."
"Nggak udah dandan juga!"
"Iya nggak sayang, cuma bedak dikit sama liptin biar nggak di kira pasien."
...****************...
__ADS_1
Tebar kembang sebanyak-banyaknya jangan lupa. Pencet yang kencang vote juga😘💃