Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 63 - Bantuan


__ADS_3

Sejak kepergian Rania ke kampungnya, hidup Rangga sudah tidak baik-baik saja mencari kesana-kemari alamat Rania. Namun, nihil tidak menemukannya di manapun.


Hanya satu harapan Rangga saat ini, itupun ia sudah melakukan berbagai cara, tapi belum mendapatkannya. Sudah beberapa hari Rangga terus datang ke kampus untuk meminta alamat Rania di bagian administrasi, tapi jawabannya tetap sama.


Tidak bisa, karena itu informasi pribadi mahasiswa.


Rangga sudah pernah datang diam-diam ke kampus hendak membobol ruang administrasi bersama Agas, tetapi keburu ketahuan hingga ia dan Agas malah mendapatkan hukuman


Namun, Rangga tak pernah menyerah. Pagi ini, Rangga kembali ke kampus, bersujud di depan orang yang sedang bertugas di ruang administrasi.


"Pak saya mohon, tolong berikan alamat bernama Rania, dia dalam bahaya sekarang!" mohon Rangga. Laki-laki itu sudah merendahkan harga dirinya demi Rania.


Ia sangat takut, Rania dan calon anaknya di siksa di kampung.


"Jangan banyak alasan. Banyak orang yang datang dengan alasan yang sama! Saya sudah kebal, lagian bahaya apa yang akan menimpanya saat tinggal di rumah sendiri bersama ibunya? Bilang saja kau mau nguntit!" tuduh penjaga tak mendasar.

__ADS_1


Agas yang sedari tadi berdiri di belakang Rangga, segera menjauh saat pesan masuk di ponselnya.


085821××××××: Pagi bang, aku Rayna adiknya mbak Rania, tolong jawab terlpon aku ya bang, mbak Rania dalam bahaya.


Tanpa menunggu untuk di tepon, Agas terlebih dulu menelpon no asing yang baru saja masuk di ponselnya. Jika itu sudah menyangkut tentang Rania, maka Agas selalu berada paling depan.


"Halo, apa benar ini adiknya Rania?" tanya Agas.


"Iy-iya bang aku adiknya mbak Nia. Abang pacarnya mbak Nia ya? Tolongin mbak Nia bang, dia mau di nikahin sama duda di kampung, tapi dudanya sering mukul istri-istri sebelumnya, Ina takut mbak Nia juga di gituin," ucap Ina sedikit gugup di seberang telpon.


"Baik bang. Oh iya bang, abang mau datang sendiri? Kalau iya lebih baik jangan, bang Jeky punya kuasa di sini, polisi aja takut disini. Abang mau bantu Ina laporin bang Jeky sama polisi di kota nggak? Dia pengedar narkoba, juga punya kebun ganja."


"Anjir, lo punya bukti?"


Diseberang telpon Ina semakin gugup mendengar makian dari Agas. "Pu-punya, Ina bakal kirim foto kebun bang Jeky, tolong datang secepatnya ya bang, mbak Rania bakal nikah besok."

__ADS_1


Tut


Sambungan terputus. Agas segera berbalik dan memanggil Rangga. "Bro gue udah dapat alamat Rania!" teriak Agas membuat laki-laki yang sedang bersujud itu bangun dan menghampiri Agas dengan raut wajah tak percaya.


"Serius lo? Darimana?"


"Adeknya yang nelpon tadi, benar kata lo, Rania di jual sama ibunya, dia bakal di nikahin sama duda psyco plus pengedar," jelas Agas.


"Sialan." Tangan Rangga terkepal. "Tunggu apa lagi, ayo!"


Langkah laki-laki itu terhenti karena cekalan Agas. "Sebelum kita berangkat, kita ke kantor polisi dulu, buat laporin Jeky, polisi di sana pada laknat, mihak orang ber-uang."


"Ok, gue juga mau telpon polisi yang ngurus kasus penipuan, sekalian ngasih alamat biar mereka langsung bergerak."


Kedua laki-laki itu langsung meninggalkan kampus menuju kantor polisi. Terlebih Rangga sudah mengajukan kasus penipuan, demi mengetahui keberadaan Winarti dan Rania, tapi polusi pun kesusahaan karena tidak ada petunjuk yang jelas dan baru hari ini semuanya terpecahkan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2