Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 19 - Melupakan adalah pilihan


__ADS_3

Langkah Rania berhenti di ambang pintu gedung tempat Wisuda berlangsung saat melihat pemandangan yang sangat indah mungkin jika orang lain yang melihatnya. Namun, baginya pemandangan itu sangatlah menyakitkan.


Seorang lelaki tampan dengan alis tebal tengah tersenyum lebar sembari memeluk pinggang seorang wanita cantik, tak sampai di situ saja. Rangga bahkan mengecepu kening istrinya di depan semua orang.


"Kenapa harus sedih? Mereka sudah menikah. Yang harusnya pergi kamu Rania karena bukan siapa-siapa," gumamnya pada diri sendiri.


Rania melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dan kembali ke kampus dengan perasaan berkecamuk dalam hatinya.


Kenyataan tetaplah seperti itu, sebanyak apapun ia berusaha, istri sahlah yang akan menjadi pemenangnya, ia hanya sekedar budak n*afsu dan pelampiasan Rangga selama ini.


Mungkin Rangga cuma kesepian saat jauh dari istrinya, itulah mengapa Rangga mendekati dirinya.


Rania terus menunduk sembari memeluk buket bunga di tangannya hingga tidak menyadari Agas yang kini berjalan berlawanan arah dengannya.


"Udah mau balik? Emang acaranya udah selesai?" tanya Agas berhasil menghentikan langkah Rania.


Wanita itu mendongak sembari melempar senyum, walau senyuman itu tidak tulus. Senyuman yang hanya menutupi luka yang sangat besar di hatinya.


"Udah kak, aku masih banyak urusan soalnya." Bohong Rania.


Agas mengernyit, melihat buket bunga di gendongan Rania.

__ADS_1


"Lalu bunga itu?"


"Oh ini, tadi di toko bunga sedang diskon. Kakak tau sendiri aku pemburu diskonan makanya beli dua." Rania menyerahkan buket bunga itu pada Agas.


"Buat kakak aja," ucap Rania.


"Serius ini?"


"Iya, daripada harus beli buat di kasih sama kak Rangga," jawab Rania.


Dengan senang hati Agas mengambil buket bunga itu.


"Gue bakal simpan di rumah, ya kali ngasih ke Rangga. Hati-hati di jalan, dah." Agas melambaikan tangannya setelah berlalu.


"Dari berita sih iya. Terus Rania gimana? Bukanya mereka pacaran?"


"Tau, mungkin cuma pelampiasan."


Rania menarik nafas dalam-dalam, mempercepat langkahnya meninggalkan area gedung yang masih dalam kawasan kampus.


Air mata tak mampu di bendung lagi. "Nggak, aku nggak boleh nangis, aku yang nyuruh kak Rangga untuk memperbaiki hubungannya dan sekarang sudah baik-baik saja. Jadi buat apa aku menangis. Bukankah ini baik, karena kak Rangga nggak ngejar-ngejar aku lagi?"

__ADS_1


Rania berusaha tersenyum kembali, mencoba menerima semua kenyataan yang ada walau itu sulit dan menyakiti hatinya.


Pada dasarnya apa yang bukan milik kita akan pergi dan bertahta pada pemiliknya.


Rania yakin akan ada hikmah di balik kisah hidupnya. Akan indah pada waktunya, tapi entah kapan waktu itu tiba.


Apakah iya bisa mendapatkan waktu indah itu?


Yang harus ia lakukan sekarang berusaha melupakan Rangga bagaimanapun caranya, menekankan pada diri sendiri bahwa Rangga adalah milik orang lain yang tidak mungkin ia miliki.


"Ngelamuin ae, napa sih?" tanya Dewi setelah Rania sampai di Cafe tempatnya bekerja karena di kampus ia tidak ada kelas siang ini. Mungkin sore ia akan kembali.


Toh bos tempatnya berkerja mengatakan Rania boleh bolak-balik ke kampus jika ada urusan, bisa masuk di Cafe walau hanya satu jam di waktu selingan.


"Nggak papa Wi, akhir-akhir ini banyak banget tugas, belum lagi prakteknya," jawab Rania.


"Semangat beb, teruslah berusaha, tidak ada hasil yang menghianati proses."


"Kami benar Wi."


Ting

__ADS_1


Kedua perempuan itu menoleh saat pintu Cafe berbunyi, Rania tertegung melihat sosok yang baru saja masuk.


...****************...


__ADS_2