
Rangga langsung duduk di samping Rania yang masih diam membeku, mengambil peci pemberian Agas. Peci yang di ambil laki-laki itu dari kepala Jeky saat di seret oleh polisi.
"Lanjutkan pak!" ulang Rangga mengulurkan tangannya setelah memperhatikan wajah Rania yang terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya juga make up ala pengantin.
"Bagaimana?" tanya pak penghulu meminta persetujuan saksi dan pihak keluarga perempuan.
Hingga gadis belia yang sedari tadi mencerna keadaan segera mendekat. "Lanjutkan pak, saya mewakili ibu dan bapak merestuinya," ucap Relia.
Pak penghulu menganggukan kepalanya, meraih tangan Rangga untuk ia jabat.
"Namanya siapa nak?"
"Nama saya Rangga Praditya bin Edwin kusuma," jawab Rangga.
Pak penghulu manarik nafas dalam-dalam. "Saya nikahkan engkau ananda Rangga Praditya ...." Kalimat pak penghulu terhenti karena Rania langsung beranjak dari duduknya.
"Rania?" panggil Rangga seraya mendongak, hatinya sedikit mencelos mendapatkan penolakan terang-terangkan dari wanita yang ia cintai.
Agas ikut berdiri dan menghampiri Rania yang sepertinya menahan tanggis, laki-laki itu menepuk pundak Rania pelan.
"Jangan egois Ran, pikirkan anak yang ada di kandunga lo. lo nggak mau dia lahir tanpa seorang ayah 'kan?" bisik Agas berusaha menyadarkan Rania akan tindakan gegabahnya itu.
"Aku nggak mau jadi istri kedua kak, sudah cukup hinaan yang selama ini aku terima karenanya," lirih Rania.
__ADS_1
"Dia udah cerai sama istrinya Ran, percaya sama gue. Sekarang duduk dan lanjutkan pernikahan kalian!" perintah Agas.
Rania bergeming, memikirkan kata-kata Agas barusan, benarkah Rangga sudah bercerai dengan istrinya?
"Ayo!" Agas membimbing Rania untuk kembali duduk, dan melajutkan ijab kabul.
***
Semua orang bubar setelah kalimat sakral di ucapkan oleh Rangga, mereka pulang kerumah masing-masing, terutama Rangga, Rania, Agas dan Relia. Sementara Rayna masih bersama polisi.
Keempatnya sampai di rumah. Kini status Rangga dan Rania resmi menjadi sepasang suami istri. Dan sejak itu pula Rania belum mengajak Rangga berbicara.
Rasa kecewanya terlalu dalam untuk Rangga, terlebih setelah ia mendapatkan ancaman dan hinaan dan Rangga tidak ada di sampingnya.
Sementara Rangga masih berdiri di depan rumah sang istri berbicara pada salah satu polisi, karena polisi yang lain sudah pergi membawa Jeky juga Winarti.
"Tidak perlu ada yang di sita pak, saya yang akan mengambilnya," ucap Rangga saat sang polisi mengatakan akan menyita barang-barang yang di beli dari uang penipuan.
"Baiklah, terimakasih pak Rangga."
Setelah kepergian Polisi, Rangga ikut masuk kerumah sederhana milik istrinya bersama Agas. Duduk di kursi rotan tanpa di persilahkan, ia mengerti akan perasaan Rania sekarang. Ia tahu dirinya salah karena terlalu lama memgambil keputusan.
"Diminum dulu bang," ucap Relia sopan.
__ADS_1
"Makasih," ucap Agas. "Tapi gue pengennya air Es."
Puk
Agas meringis karena geplakan Rangga di pundaknya. "Nggak usah nyusahin lo, minum aja yang ada," tegur Rangga.
"Lah gue cuma ngutarain apa yang gue mau, salah?"
"Nggak salah kok bang, tunggu Lia siapin dulu."
"Nama kamu Lia? Adik Rania juga?" tanya Rangga berhasil menghentikan langkah Relia yang hendak kedapur.
"Iya bang, makasih udah mau nolongin mbak Nia, juga mau tanggung jawab, walaupun Mbak Nia harus ...."
"Harus?" kepo Rangga.
"Eum, nggak ada bang." Relia tak jadi melanjutkan kalimatnya yang akan mengatakan bahwa Rania akan menjadi istri kedua Rangga.
"Dimana Rania?"
"Di kamar dekat dapur bang, masuk aja."
...****************...
__ADS_1