Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 34 - Tak Nyaman


__ADS_3

Rania buru-buru mencepol rambutnya sembari berjalan keluar dari rumah. Mengunci pintu dengan sebelah tangan. Ia bangun kesiangan, kalau saja buka Agas yang menelpon bahwa sudah ada di depan, mungkin Rania akan telat masuk kelas.


"Maaf, buat kak Agas nunggu," ucap Rania tak enak.


"Santai aja Ran, gue malah takut lo telat." Agas memajukan tubuhnya untuk membatu Rania mesang seatbelt, setelahnya kambali ke posisi semula.


"Rambut lo."


"Ra-rambut aku? Kenapa?" bingung Rania, hendak mengambil ponsel untuk bercermin, tapi Agas lebih dulu memperbaikinya.


"Berantakan dikit, tapi sekarang udah cantik."


"Oh ... gi-gitu ya," gumam Rania memperbaiki posisi duduknya sediki menepi ke pintu karena Agas belum juga merubah posisinya.


Senyuman laki-laki itu sangat manis, dan mampu menghipnotis siapapun yang melihatnya



Tak ingin berada di situasi canggung karena tangannya yang selalu refleks saat berada di dekat Rania. Agas langsung melajukan mobilnya keluar dari gang kontrakan wanita itu.


Sesekali Agas melirik Rania yang sedang sibuk dengan buku di pangkuannya.


"Udah liat isinya?" tanya Agas.

__ADS_1


"Udah kak, makasih."


"Hm."


Keduanya sampai di kampus dan berpisah di parkiran, Agas kesebelah utara sementara Rania kesebelah selatan menuju kelas masing-masing.


***


Selesai dengan kelasnya, Rania berjalan menuju kantin untuk mengisi perutnya, belakangan ini ia sering lapar dan banyak mengingingkan sesuatu. Tapi ia tidak pernah menyusahkan siapapun, selalu memenuhi keinginannya sendiri, karena sadar statusnya yang hamil tanpa suami.


Baru saja duduk di bangku kantin, seseorang meletakkan kotak makan tepat di atas meja.


"Buat kamu, jangan jajan sembarangan," ucap Agas ikut duduk di hadapan Rania.


"Makan yang lahap calon ibu, biar sama-sama gede dan sehat."


Agas ikut makan bersama Rania, tanpa ia sadari wanita itu menatapnya sedari tadi dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kenapa kak Agas begitu peduli sama aku? Seandainya kak Rangga juga ada disini, ia pasti bakal lebih perhatian," batin Rania tidak mengerti akan sikap Agas yang terlalu baik padanya.


Usai makan siang bersama, Agas mengajak Rania ke taman yang lumayan teduh, di sana ada teman-temannya yang lain.


"Widih ngajak cewek, jadi ini yang nyita waktu lo?" celetuk salah satu teman Agas.

__ADS_1


"Hm, dia pacarnya Rangga," jawab Agas dengan jujur.


"Rangga anak Fk?"


"Iya."


"Bukannya udah punya ...."


"Bacot!" potong Agas langsung merebut gitar di pangkuan temannya kemudian menarik Rania pergi dari sana.


Niat hati ingin menghibur Rania bersama teman yang lainnya, malah jadi seperti ini. Salahkan juga dirinya karena terlalu jujur.


"Kak Agas," panggil Rania melepaskan ngenggaman Agas. "Lebih baik kakak jauh-jauh dari aku. Aku bisa jaga diri kok, lagian aku nggak bakal ngelakuin hal-hal seperti kemarin."


"Ngomong apa sih?"


"Makasih kak untuk waktunya belakangan ini." Rania senyum samar sebelum meninggalkan Agas di tengah lapangan.


Wanita itu kembali ke kelasnya dan memilih menyendiri agar tidak mendengar hal-hal yang tidak di inginkan, tentu saja setelah acara wisuda beberapa minggu yang lalu, nama Rania sudah tercemar sebagai pelakor karena kedatangan Melisha di kampusnya.


Rania menatap dari jendala aktivitas mahasiswa lain, ada yang sedang kejar-kejaran bersama teman-temannya, sekedar jalan berdua yang mungkin pasangannya, ada yang seperti dirinya duduk seorang diri dengan buku di tangan.


Rambut yang sempat tercepol itu kembali tergerai karena terpaan angin lumayan kencang.

__ADS_1



__ADS_2