Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 151


__ADS_3

Atensi Rangga dan Rania harus terahlikan karena kedatangan Rayna bersama kekasihnya. Gadis belia itu terlihat sangat bahagia, membuat Rania ikut bahagia melihatnya.


"Mbak, bang, ini pacar Ina mau pamit pulang katanya," ucap Rayna menarik Radit agar semakin dekat.


Semua itu tak luput dari padangan Agas, ia menatap Rayna dengan senduh. Bukan, bukan karena laki-laki itu cemburu, melainkan takut Rayna di apa-apa in oleh Radit.


"Selamat mbak, bang," ujar Radit menjawab tangan Rangga dan beralih hendak menjawab tangan Rania, namun di tepis dengan cepat oleh Rangga.


"Asli Bandung bukan?" tanya Rangga.


"Iya bang."


"Pacaran udah berapa lama sama adik saya?" intro Rangga mengambil diri sebagai seorang kakak yang betanggung jawab, apa lagi Rangga sedikit tahu siapa Radit sebenarnya.


Laki-laki itu sempat terkejut mengetahui pacar adik iparnya adalah Radit.


"Hampir dua tahun Bang." Rayna menyela.


Radit meninggalkan pesta setelah berbincang-bincang dengan Rangga, begitupun Rayna pamit ke kamar untuk menemui Relia.


"Gue kira cuma gue yang ngeh tentang dia," ucap Agas tiba-tiba.


Rangga melirik Rania. "Mas bukannya ngelarang Ina pacaran sama Radit, Ran. Tapi laki-laki itu sering keluar masuk club bersama wanita."

__ADS_1


Kaget? Tentu saja Rania kaget mendegar semua itu dari mulut sang suami.


"Dulu?"


"Sampai sekarang, dua minggu yang lalu gue liat dia di club sama cewek, taulah kalau laki-laki sama cewek ke tempat seperti itu," celetuk Agas.


"Gua pamit, udah tengah malam."


***


Pagi yang cerah dengan matahari yang bersinar terang, tak mampu mengusik sepasang suami istri yang tengah memadu kasih didalam kamar hotel yang telah di dekor sedemikian rupa ala pengantin baru.


Peluh membasahi tubuh keduanya, Rangga seakan hilang kendali terus menjamah tubuh sang istri.


"Oek ... oek ... oek ...." Suara tagisan bayi mengelegar di ruangan itu.


"Sebentar lagi sayang," gumam Rangga terus menghentak hingga getaran hebat ia rasakan pertanda pelepasan itu datang untuk kesekian kalinya.


Rania mengatur nafasnya terenggah-enggah, langsung bangun dan meraih kemeja kebesaran Rangga di lantai.


Wanita itu buru-buru ke kamar mandi sekedar membersihkan diri sebelum mendekati Rayyan yang terus menangis, mungkin sudah lapar. Itu jelas, jarum jam sudah menunjukkan angka 9, perutnya saja sudah keroncongan.


Tapi apalah daya, selepas shalat subuh tadi, Rangga memgambil haknya tanpa ada kata lelah.

__ADS_1


"Cup ... cup ... anak Mama udah bangun." Rania mengendong Rayyan agar berhenti menangis. Melirik sang suami yang meringkuk di tempat tidur.


"Mama buat susu dulu. Rayyan bobo sama Papa." Rania meletakkan tubuh Rayyan perlahan-lahan di dekat Rangga.


"Mas anaknya di liatin jangan di tindih."


"Iya sayang."


Rania kembali dengan sebotol susu di tangannya, ia merangkak naik ke tempat tudur, duduk seraya memberi susu Rayya melalui dot.


"Anak Papa naka ya, udah mulai gangguin Papa sama Mama buat adik," gumam Rangga mengecup pipi Rayyan yang semakin berisi.


Rania? Pipi wanita itu memerah karena malu akan perkataan sang suami.


"Mas, jangan aneh-aneh deh."


"Siapa yang aneh-aneh sayang, emang nyatanya gitu kan? Mas cuma ngomong apa adanya. Rayyan aja nggak protes. Iya kan sayang?" Rangga kembali menatap Rayyan yang sibuk menyedot susu.


Bayi mungil itu menolehkan kepalanya menghadap Rangga, mencari asal suara, hingga dot terlepas dari mulutnya.


Rayyan menghisap-hisap bibirnya sendiri seperti menikmati bekas susu yang ada di mulutnya.


...****************...

__ADS_1


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน



__ADS_2