Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 130


__ADS_3

Prank


Suara barang pecah berhasil mengambil perhatian Rangga yang baru saja pulang dari kantor. Langkah laki-laki itu semakin melebar kala yakin suaranya berasal dari kamar sang ayah dimana istrinya berada.


Mata Rangga terbebelak melihat pecahan kaca berserakan di lantai, dengan Rania yang berusaha berjongkok untuk membersihkan di bantu pelayan.


Rangga langsung menarik sang istri menjauh dari ranjang juga pecahan beling ya ada. Rangga tidak akan rela istrinya meneteskan darah barang setitik saja.


"Mas Rangga?" Rania terkejut dan buru-buru mengubah ekspresinya menjadi tersenyum. "Banyak kerjaanya ya sampai lembur?"


Rangga tak menyahut, membiarkan Rania mencium tangannya, ia menatap pria paruh bayah yang sedang duduk seraya bersandar di kepala dipan.


"Ada yang sakit, hm? Mas udah bilang hati-hari Ran!"


"Iya udah hati-hati, tapi namanya juga mau terjadi mas, di hindarin kalau takdirnya pasti ketemu kan?"


"Piringnya kenapa bisa pecah?" tanya Rangga yang langsung di tujukan pada pelayan, jangan lupakan tatap menguntimidasi itu.

__ADS_1


"Katakan!" bentak Rangga. Dirinya sudah lelah berkerja dan mengurus masalah mantan istrinya, dan sekarang di suguhkan pemandangan tidak mengenakkan.


Rangga sangat yakin, piring itu jatuh bukan karena kecerobahan Rania. Melihat bagaimana tatapa Edwin pada istrinya membuat pikiran Rangga bercabang.


"Anu Tuan itu ...."


"Bu ...."


"Diam Rania!" perintah Rangga.


"Tuan Edwin melemparnya karena tidak mau di suapin dan di rawat oleh nona Rania, tapi nona Rania tetap ngotot dan sabar ngadepin Tuan Edwin."


"Mas, Ayah tuh butuh kita."


"Nggak Rania, dia itu nggak butuh siapapun. Jangan terlalu baik sama orang lain."


"Dia bukan orang lain mas, dia ayah mas Rangga. Dan tentang sikap ayah, aku bisa maklumin kok, terlebih ayah belum kenal sama aku. Lagian orang sakit memang emosinya nggak stabil asal mas Rangga tau. Kadang orang sakit bersikap arogan atau egois, suka marah-marah, bukan berarti dia nggak suka. Itu hanya pengalihan di saat rasa sakit tak tertahankan dia rasakan mas. Hanya dengan membentak orang bisa membuat perasaanya lega," jelas Rania masih egang pergi.

__ADS_1


Wanita itu benar-benar prihatin pada kondisi ayah mertuanya terlepas perlakuan Edwin seharian ini menguji kesabaran siapapun. Mungkin jika Rangga menyaksikan semuanya, sudah pasti mengamuk lebih dari ini.


"Kau dengar sendiri pak Tua? Harusnya kau beruntung mempunyai menantu sepertinya! Menantu yang tidak pernah kau ingingkan tapi dengan suka rela mau merawat kamu." Rangga menunjuk Edwin yang kini menatap dirinya dengan tatapan sulit di artikan.


"Dimana mantan menantu kesayanganmu itu? Apa dia ada saat kau butuh dan sakit seperti ini? Tidak. Asal kau tau, aku datang kesini hanya karena keinginan istriku Rania!"


"Udah mas, udah. Kita pulang, mas butuh istirahat.


"Menantu yang kau bangga-banggakan tidak pernah peduli sama kamu! Yang ada di pikirannya hanya harta dan harta. Aku kasihan melihatmu di manfaatkan selama ini hanya karena tidak ingin kehilangan perusahaan. Kalau saja kau mendukungku sejak awal mungkin kau masih mempunyai seorang putra."


"Hanya saham 50% tidak ada artinya di mata keluarga Fan tapi kau mati-matian mempertahakannya dan mengikuti semua keinginan wanita licik itu! Sekarang lihat sendiri siapa manantu yang lebih baik."


Bibir Edwin bergetar ingin mengatakan sesuatu. Namun, tak bisa berusara dengan jelas karena strok yang ia derita. Melihat itu Rania langsung maju, mengenggam tangan Edwin.


"Ayah mau ngomong apa? Biar Rania dengerin."


Edwin terus memandangi putranya dengan bibir bergetar seakan ingin menyampaikan sesuatu.

__ADS_1


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2