Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 106 - Bayi Besar Rania


__ADS_3

Rania yang hendak menutup mata dalam pelukan Rangga jadi urung saat mendengar deringan ponsel sang suami. Ia menatap Rangga.


"Siapa Mas?" tanya Rania seraya memperbaiki posisinya agar Rangga bisa sedikit bergerak.


Bagaimana Rania tidak bertanya, jarum jam sudah menunjukkan angka 10 dan mereka sudah bersiap-siap tidur malah ada yang menganggu.


"Lingga," jawab Rangga langsung menjawabnya tanpa menyingkir terlebih dahulu. Bahkan sebelah tangannya sibuk memainkan rambut Rania.


"Waktunya istirahat," peringatan Rangga saat sambungan telpon terhubung.


"Maaf Tuan saya menganggu waktu istirahatnya sebentar. Tapi saya baru saja dapat kabar dari salah satu perusahaan hiburan yang mengundang anda sebagai bintang tamu pemuda sukses setahun serakhir, besok jam 10 pagi," ujar Lingga tak enak, tapi ia harus menyampaikannya karena pihak perusahaan hiburan tengah menunggu jawaban.


"Jadwal besok gimana? Kalau kosong ambil aja."


"Baik Tuan, selamat istirahat."


"Hm." Rangga langsung memutuskan sambungan telpon dan kembali menatap sang istri.


"Kenapa mas, ada masalah lagi ya? Kok kak Lingga nelpon tengah malam."


Rangga mengeleng dengan senyuman bahagia terpancar di wajahnya, terbesit ide untuk acara hiburan nanti jika ia jadi datang.


"Nggak ada sayang, kabar bahagia malah. Besok kita ke salon, istri mas harus tampil cantik dan memukau biar netizen pada kebakar," bisik Rangga mengigit kecil telinga sang istri.


"Mau kemana emangnya?"

__ADS_1


"Nggak usah tau, yang jelas kabar bahagia. Mending ngasih mas jatah aja, dapat pahala."


"Nggak ada jatah malam ini mas, kan udah kemarin malam. Libur dulu ih, nggak bosan apa?"


"Ketagitan malah."


"Mas!"


"***** aja kalau gitu?" Rengek Rangga.


"Ya ... ya udah tapi jangan kebablasan," gugup Rania.


"Iya sayang, nggak."


Rangga langsung ganti posisi, memeluk tubuh istrinya dan mebenamkan wajahnya di antara gunung kembar sang istri, menjelajahi bukit yang lumayan besar itu sebagai pengantar tidur agar lebih nyenyak.


"Jangan gerak ih," kesal Rangga.


"Bentar mas, itu ada yang telpon, kalau gitu bantu ambilin biar aku nggak gerak."


Dengan dengusan kecil karena acara minum susunya terhenti, Rangga menyerahkan benda pipih itu pada sang istri, ia tidak bertanya karena sudah tau siapa yang menelpon.


"Kenapa Ina?" tanya Rania. Lucu bukan mereka satu rumah, tapi Rayna lebih berani menelpon daripada harus mengetuk pintu langsung.


"Ina bisa pinjem laptop mbak nggak? Ina ada tugas baru keingat sekarang," ujarnya tak enak.

__ADS_1


"Oh tunggu mbak tanya mas Rangga dulu." Rania langsung membisukan panggilan, takut Rayna mendengar kata-kata Rangga yang selalu saja mesum.


"Mas, pinjam laptop bentar ya, Ina ada tugas. Laptop aku masih di rumah Nenek Nena."


"Hm," gumam Rangga masih sibuk dengan aktivitasnya bahkan sesekali meremas yang satunya, berusaha memancing Rania mengeluarkan suara tapi wanita itu sepertinya sangat acuh, benar-benar tidak ada mood.


"Ya udah, minggir dulu aku mau ambil, atau mas mau Ina yang ambil sendiri? Mau liat mas kayak bayi kucing?" Rania terkekeh geli, kelakuan Rangga sekarang sangat mengemaskan dimatanya.


"Udah ah mas beneran ngambek sama kamu Ran. ***** aja harus di tunda-tunda mulu, matiin tuh ponsel kamu ganggu aja. Aaakkkhhhh," kesal Rangga langsung menyingkir dan menyembunyikan tubuhnya dalam selimut.


Cup


"Gemes banget bayi besar aku, sampai nangis cuma nggak dapat susu."


"Nggak usah nyium-nyium, mas beneran marah," gumam Rangga.


Rania tak mengubris, mengambil laptop Rangga di atas meja kemudian akan mengantarkannya ke kamar Rayna. Sebelum menghilang di balik pintu, Rania kembali bersuara.


"Karena mas ngambek aku tidur di kamar Ina aja kalau gitu."


"Sayang!"


"Canda mas."


...****************...

__ADS_1


Ritual tebar kembangnya jangan lupa yaw💃💃💃💃💃💃💃🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2