
Yuna terkejut dan menutup telinganya saat Zyan melempar sebuah buku persis di sampingnya. Tidak tinggal diam dengan apa yang dilakukan suaminya, Yuna mengambil buku yang dilempar suaminya dan membalas melemparkan buku itu persisi di dekat suaminya. Zyan terkejut dengan apa yang diperbuat Yuna. Tidak Ia sangka Yuna sekarang berani terhadapnya. Zyan menghampiri Yuna dan memegang tangan Yuna dengan kencang.
“ Apa maksudmu, kamu berani sama saya sekarang !” teriak Zyan.
Dengan amarah , Yuna melepas tangannya dari Zyan.
“ Kamu ingat mas. Wanita bisa melakukan apa saja saat anaknya terluka. Ingat itu mas !”
Yuna pergi meninggalkan Zyan. Zyan yang masih terkejut dengan sikap Yuna, duduk di bangku yang ada di kamar dan menyenderkan tubuhnya di bangku. Ia merasa bingung harus berbuat apa. Ia tidak bisa menceraikan YunaYuna, Ia tidak siap meninggalkan hidup mewah yang Ia miliki saat ini. Tapi di satu sisi Ia sangan mencintai Zyva. Semua dilema ini membuat Zyan frustasi hingga Ia memilih untuk keluar sejenak mencari angin.
“ Makasih ya Zyv, lo sudah bantuin Gue buat cari kado untuk Mama gue “
“ Sama – sama Vin. Sorry ya, gue nggak bisa jenguk Mama kamu sekarang. Gue nggak mungkinkan, bawa baby Kim ke rumah sakit ?”
“ Nggak apa – apa Zyv. Santai saja. Oh ya, kapan – kapan boleh dong gue main lagi sama baby Kim ?”
“ Boleh dong Kak Alvin, Baby Kim juga senang main sama Kak Alvin “ jawab Zyva dengan lucu.
“ Yaudah gue langsung ke rumah sakit ya, atau lo mau bareng gue sekalian ?”
“ Gue tadi bawa mobil sendiri kok “
“ Bawa mobil sendiri dengan bawa Baby Kim ?”
“ Iya “
“ Itu bahaya Zyv. Yaudah gue ikutin lo sampai rumah ya, buat memastikan lo sampai rumah dengan aman ?”
“ Nggak usahlah. Aku tadi kesini aman – aman saja kok “
“ Aku nggak suka dibantah ya, anggap saja ini ucapan terimakasih gue karena lo sudah bantuin gue tadi “
“ Ok deh “
Alvin mengikuti Zyva sampai rumahnya. Zyva sangat senang mendapat perhatian lebih dari Alvin. Entah kenapa, setelah mengenal Alvin Ia seperti mendapatkan kebahagiaan baru dalam hidupnya. Alvin bisa membuatnya bahagia dalam setiap hal. Tidak seperti Zyan yang hanya memikirkan masalah cinta dan tidak memperdulikan keluarganya.
“ Cye, yang dikawal pangerannya sampai rumah ?” ucap Syla yang mengejek kakaknya.
“ Itu siapa Syl ?” tanya Dinda, teman dari Syla.
“ Calon kakak ipar gue “
“ Ya ampun, ganteng banget ya. Sampai meleleh aku melihatnya”
__ADS_1
“ Inget Din, dia itu calon kakak ipar gue. Lo kalau mau cari cowok , cari yang lain sana !”
“ Iya, iya “
Pertengkaran dua gadis SMP itu membuat Zyva dan Alvin tertawa. Mereka seperti melihat diri mereka 3 tahun yang lalu. Anak remaja yang masih dipenuhi dengan kepolosan.
“ Gue yakin tingkah lo seperti itu 3 tahun yang lalu “ ucap Alvin.
“ Enak saja, gue nggak begitu tau “
“ Terus ?”
“ Tapi lebih parah lagi “
Keduanya tertawa hingga membuat Zyan yang melihat dari arah kejauhan mengepalkan tangannya. Ia tidak terima jika gadis yang dicintainya tertawa dengan laki – laki lain. Zyan mengirim pesan kepada Zyva, namun handpone Zyva ternyata mati sehingga pesan dari Zyan tidak diketahui oleh Zyva.
“ Sial ! Kenapa semua orang mengesalkan pada hari ini. Termasuk lo Zyv !”
Zyan menatap tajam ke arah Zyva yang menikmati kebersamaan dengan orang di sekelilingnya.
Mungkin ini adalah yang pertama kalinya Yuna melawan suaminya. Ia tidak tau harus berbuat apa selain merubah sifat lembeknya menjadi sifat keras dan berani. Ia tidak mau harga dirinya di injak – injak oleh suaminya. Apalagi suaminya sudah dalam fase melukai hati buah hatinya. Sebagai seorang Ibu, Yuna tidak akan terima anaknya disakiti oleh orang yang sudah mereka anggap sebagai Papanya sendiri.
“ Sayang, buah hati Bunda. Bunda berjanji akan menciptakan kebahagiaan untuk kalian berdua. Doain Bunda ya nak, semoga Bunda tetap kuat menghadapi sikap Papamu “ Ucap Yuna dengan mencium buah hatinya yang sedang tidur. Yuna melihat suaminya yang sudah pulang dari pintu kamar anaknya yang tidak tertutup sempurna. Yuna tidak memperdulikan suaminya, Ia fokus menemani anaknya hingga anaknya tertidur pulas.
Yuna diam dan terus membersihkan mainan anaknya tanpa memperdulikan kata - kata Zyan.
" Hey, kamu tuli. Aku bilang, Aku lapar "
" Kamu berbicara denganku Mas? "
" Iyalah , siapa lagi ? Di ruangan ini cuma ada kamu "
" Mau makan, panggil saja Bi Inah"
" Aku minta kamu yang masak buat Aku! "
" Aku nggak mau! "
" Kamu kenapa sih, selalu membesar - besarkan masalah kecil? "
Zyan berdiri dan menghampiri Yuna, tapi Yuna justru menghindar dan mengambil sebuah botol kosong dan ******* - ***** botol kosong itu sampai tidak terbentuk.
" Masalah kecil kamu bilang Mas. Lihat botol ini, botol ini adalah hatiku yang sudah kamu hancurkan dan kamu rusak demi wanita lain di luar sana Mas. Mungkin Aku bisa sabar jika hanya Aku yang merasakan sakit ini, tapi jika menyangkut anak - anak, jangan harap Aku akan bisa sabar Mas "
__ADS_1
" Ok, Aku minta maaf "
" Maaf, sudah berapa kali kamu minta maaf sama Aku Mas, sudah banyak sekali. Tapi apa, ujung-ujungnya kamu ingkar. Kenapa, kamu takut kehilangan semuanya jika Aku marah denganmu? "
Zyan tidak Terima dengan ucapan yang dilontarkan Yuna. Tapi Ia menahan amarahnya demi warisan keluarga Yuna.
" Ingat ya Mas, kalau bukan karena Kayana yang masih kecil, Aku tidak segan - segan untuk pisah dari kamu. Kalau bukan karena mamaku yang punya penyakit jantung, mungkin Aku juga sudah berpisah dari kamu "
Yuna masuk ke dalam kamar anak - anaknya dan menangis di dalamnya. Yuna tidak tahu lagi harus berbuat apa. Hatinya terlalu sakit untuk bisa memaafkan suaminya, tapi disisi lain anak - anak yang kini ada di sampingnya sangat membutuhkan sosok Papa. Apalagi Kayana yang belum mengerti apa - apa.
" Aaaaaaaa! " Teriak Zyan yang meluapkan emosinya di kamarnya. Sesaat setelah itu handphone Zyan berbunyi. Zyan mendapatkan kabar jika adik laki-lakinya terlibat tawuran hingga membuat salah satu temannya di rawat di rumah sakit. Dengan hati yang masih di penuhi rasa emosi, Zyan mendatangi adiknya untuk bertanggung jawab. Masalah yang bertubi - tubi membuat Zyan merasa emosi hingga tidak bisa mengontrol dirinya.
" Sorry sayang. Tadi baterai handphone ku habis jadi tidak tahu kalau kamu telfon dan mengirim pesan " Ucap Zyan yang menemui Zyan di sebuah restoran.
" Maaf katamu! Kamu pikir Aku tidak tahu tentang apa yang kamu lakukan di belakang ku? "
" Maksudnya, emang Aku melakukan apa? "
" Masih tanya lagi. Kemarin gimana, enak bisa jalan - jalan sama cowok lain? "
" Cowok lain, oh maksud kamu Alvin. Dia itu sahabat Aku sayang "
" Masih berani panggil nama cowok itu di depan Aku. Maksud kamu apa ya, apa kamu sudah bosan dengan hubungan kita? "
Zyva yang awalannya bersikap santai, mulai terpancing amarahnya ketika Zyan yang mulai berbicara dengan nada keras kepadanya.
" Zyan, Aku sudah mencoba sabar ya. Tapi akhir - akhir ini kamu sering merendahkanku, maksud kamu apa? Oh, atau kamu mau lari dari tanggung jawab sehingga kamu sengaja membuat masalah denganku! "
" Justru kamu yang sedang mencari masalah denganku ! "
Zyan menggebrak meja restoran hingga membuat orang-orang melihat ke arah Zyan dan Zyva. Zyva tidak bisa diam begitu saja. Selama ini tidak ada orang yang berani membentaknya atau mempermalukannya di depan umum. Zyva berdiri dan berkata kepada Zyan.
" Aku nggak nyangka ternyata sifat kamu seperti ini. Nyesel Aku sudah mengenal kamu ! "
Zyva pergi dari restoran meninggalkan Zyan. Zyan tidak tinggal diam dan berlari mengejar Zyva. Zyva mencoba berlari menuju sebuah taksi yang tidak jauh darinya, namun secara tiba-tiba perutnya terasa sakit. Darah segar mengalir di kakinya.
" Perutku sakit sekali. Ada apa ini? "
Zyva tetap melanjutkan langkahnya, sampai Zyan berhasil menyusulnya.
" Astaga Zyva, kamu mengalami pendarahan. Kita harus secepatnya ke rumah sakit! "
Zyan mencoba membantu Zyva tapi Zyva menolak dan menepis tangan Zyan.
__ADS_1
" Pergi kamu! Aku bisa sendiri "