Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 31 - Aku Akan Menjadi Ayah?


__ADS_3

Bugh!


Rangga jatuh tersungkur ke lantai karena serangan tiba-tiba sahabatnya yang baru saja datang. Ia yang tidak tahu apa-apa menatap bingung laki-laki dengan rahang mengeras seperti menahan sesuatu.


Rangga ikut berdiri saat Agas menarik kerah kemejanya, ia tidak melawan bukan karena takut, melainkan mencerna situasi yang ada. Agas tidak akan semarah ini jika ia tidak melakukan kesalahan fatal.


"Maksud lo apa nyuruh Rania gugurin kandungannya, Hm? Lo gila! Dia anak kandung lo. Bisa-bisanya lo pertanyakan tentang itu!" geram Agas kembali melayangkan tinjunya tepat di wajah tampan Rangga.


Bukannya meringis, laki-laki itu tersenyum mendengar kabar bahagia yang baru saja keluar dari Agas. "Rania hamil? Lo yakin?" tanya Rangga untuk memperjelasnya kembali.


Agas yang hendak kambali melayangkan tinjunya segera urung, sepertinya ada kesalahpahaman di sini, melihat raut wajah Rangga yang sangat bahagia.


"Lo nggak tau Rania hamil?" tanya balik Agas.


"Nggak, dan makasih udah nyampain kabar ini sama gue Gas, akhirnya sebentar lagi gua bakal jadi ayah." Terpancar jelas binar-binar bahagia di manik Rangga.

__ADS_1


Rasa lelah dan stresssnya sedikit terobati dengan kabar kehamilan Rania. Sekarang ia mempunyai alasan untuk membawa Ranianya kehadapan sang ayah.


"Dasar gila!" maki Agas tak habis pikira. "Sadar lo belum nikahin Rania, sampai kapan lo bakal gantung status dia!"


"Segera Gas, gue bakal nikahin dia secepatnya," jawab Rangga yakin. "Bagaimana keadaaan Rania dia baik-baik saja kan?"


"Nggak!" sanggah Agas. "Rania nggak baik-baik saja, dua kali ia ingin mengakhiri hidupnya juga mengugurkan kandungannya. Itu semua karena lo, sejak lo ninggalin dia tanpa kabar, dia seperti kehilangan arah, terlebih saat lo nyuruh dia gugurin kandungannya."


"Gugurin? Gue nggak pernah telponan atau bertukar pesan sama Rania." Bingung Rangga.


"Lalu ini apa, hm?"


"Gue pakai ponsel baru juga no baru Gas. Ponsel gue yang lama ada di bokap."


"Gue udah duga."

__ADS_1


Agas mendorong tubuh Rangga setelah mengetahui semuanya. "Lakukan sesuatu, atau lo benar-benar akan kehilangan Rania, dia mengira lo kirim itu semua."


Tangan Rangga terkepal mengigat pertemuannya dengan Agas beberapa hari yang lalu. Kabar yang di berikan Agas adalah kabar bahagia juga kabar buruk untuknya. Apa lagi saat mengetahui seseorang menggunakan ponselnya untuk menghubungi Rania.


Sudah beberapa hari ini Rangga tidak pulang kerumah dan malah menginap di kantor. Ia mempercepat segala urusannya agar segera menikahi Rania.


"Tunggu aku, aku akan kembali secepatnya." Menatap foto Rania yang ia sembunyikan di mejah paling bawah.


Sejak kepulangannya dari Bandung, semua yang bersangkutan dengan kedokteran juga Rania dilarang ada di permukaaan. Itulah mengapa ponselnya juga ikut di sita demi ia tidak bisa berhubungan dengan teman-temannya di Bandung, baik Agas sekalipun.


Itu adalah syarat agar ia bisa menjabat sebagai CEO dan Rangga menerimanya karena ingin masuk ke dunia bisnis untuk mengambil apa yang seharusnya sudah menjadi miliknya.


Terlebih semua yang di miliki ayahnya bukanlah murni jerih payah Edwin, melainkan milik almarhum ibunya.


Rangga beranjak dari duduknya untuk pulang menemui Edwin setelah mendengar kabar bahwa pria tua itu baru saja balik dari luar Negeri. Ia ingin memperjelas sesuatu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2