Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 147


__ADS_3

Karena hari mulai sore dan Agas ingin beristirahat, laki-laki itu pamit, bukan pulang, melainkan akan menginap di hotel Rangga. Tidak mungkin ia akan tinggal di rumah sahabatnya yang di huni para gadis cantik.


Agas melirik sekilas pada Rayna yang juga berpamitan pada Rania.


"Ina berangkat ya mbak," izin Rayna seraya mengecup pipi Rayyan dalam gendongan Rania.


"Hati-hati, pulang jam berapa?"


"Jam limaan kayaknya."


"Sekalian bareng Agas aja, kalian searah," saran Rangga dan langsung di setujui oleh Rania.


"Ide bagus mas. Kak Agas Ina numpang nggak papa?"


"Boleh, ayo ntar lo telat lagi."


Gadis yang sedang di panggil bergeming di tempatnya, jujur saja ia masih malu jika mengingat omelannya pada Agas apa lagi ia sempat salah orang.


"Ina?" panggil Rania.


"Ah iya mbak, ayo bang." Rayna gelagapan sendiri, berlari kecil mengikuti langkah lebar Agas.


Ia membuka pintu belakang, baru saja akan masuk, suara Agas mengintrupsi. "Gue bukan sopir lo."


Rayna kembali menutup pintu dan memutuskan duduk di samping kemudi. Sepanjang jalan hanya keheningan yang terjadi antar keduanya. Agas yang sibuk menyetir, sementara Rayna sibuk memperhatikan gedung-gedung yang mereka lewati.


Deringan ponsel berhasil memecah keheningan, Agas melirik sekilas pada benda pipi di genggaman Rayna.


"Maaf bang, ganggu ya?" tanya Rayna tak enak langsung menolak panggilan, takut menganggu konsentrasi Agas.


"Angkat aja siapa tau penting!"


Mendapat persetujuan, Rayna langsung menjawab panggilan dari sang kekasih, atau ia akan di tanya macam-macam karena berani menolak panggilan.

__ADS_1


"Iy-iya halo bang."


"...."


"Ini Ina baru berangkat mau ke kampus, kalau mau telponan malam aja gimana?"


"...."


"Iya bang, Ina cuma milik abang kok," lirih Rayna mengigit bibir bawahnya, merasa malu harus mengatakan itu disaat ada orang lain di sampingnya.


Tidak mengikuti keinginan Radit, sama saja mengibarkan bendera pertengkaran padahal hubungan mereka baru baik-baik saja.


"Ternyata lo bucin juga ya jadi cewek," celetuk Agas setelah Rayna memutuskan sambungan telponya.


***


Rania senyum-senyum sendiri memperhatikan kepergian mobil Agas. Ia melirik sang suami.


"Mereka serasi ya mas?"


Laki-laki itu mengambil alih Rayyan dalam gendongan Rania, satu tangannya mengamit pingga sang istri memasuki rumah.


"Aku kan cuma bilang mereka cocok Mas, bukan mau jodohin."


"Sama aja, ujung-ujungnya jodohin yuk mas, Agas orangnya baik ini itu."


"Sayang, liat Papa kamu suka nuduh Mama yang nggak-nggak."


"Hm, ngadu teros kayak Rayyan bakal belain aja," sindir Rangga.


***


Hari H semakin dekat, membuat Rangga semakin sibuk sana-sini, karena harus mengurus semuanya sendiri. Mulai dari fitting gaun dan sebagainya, Rania hanya terima jadi saja.

__ADS_1


Ya Rangga akan melangsung pernikahan mewah untuk istrinya karena dulu tidak bisa melakukannya karena banyak hal. Sekarang laki-laki itu ingin membuat Rania mendapatkan semuanya, tidak peduli apa kata orang di luar sana.


Rangga baru pulang kerumah setelah jam 10 malam dan di sambut hangat oleh sang istri.


"Kenapa belum tidur, hm?"


"Nungguin mas pulang, nggak tenang rasanya sebelum liat mas pulang dengan selamat," jawab Rania membantu Rangga melepas jas.


Tangan wanita itu berhenti saat melihat noda yang sedikit mengusik pikiran juga hatinya.


"Kenapa sayang?"


"Ng-nggak papa mas. Mas udah makan?"


"Udah sayang."


Sepeninggalan Rangga ke kamar mandi, Rania memandangi noda yang terdapat di kemeja Rangga. Walau warna kemeja itu gelap, Rania tahu noda itu adalah noda lipstis berbentuk bibir walau hanya samar-samar.


"Cuma sebulan lebih, apa mas Rangga nggak bisa nahan?" gumam Rania.


Rania buru-buru menyimpan kemeja itu di keranjang kotor saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia langsung menuju Ranjang dan segera tidur. Tak ingin membahas hal-hal sensitif apa lagi Rangga pasti lelah.


"Kok wajah kamu tiba-tiba murung Yang?"


"Efek ngantuk kayaknya mas."


"Yaudah, sini mas peluk biar tidurnya makin nyenyak." Rangga menarik tubuh Rania untuk di peluknya, pelukan hangat yang selalu ia berikan sebelum tidur.


"Mas Rangga akhir-akhir ini kok nggak pernah minta jatah atau semacamnya?"


"Heh, nggak ada pertanyaan lain? Kamu ngeledek mas karena udah lama nggak dapat jatah? Mas tau kamu belum bisa sayang, masa nifas kamu belum berakhir. Liat aja setelah resepsi selesai, mas bakal buat kamu lelah semalaman."


...****************...

__ADS_1


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2