Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 21 - Ketawa Lo Cantik!


__ADS_3

"Nggak usah di liatin mulu!" tegur Dewi. "Aku nggak tau masalah kamu apa dan aku nggak maksa buat kamu cerita. Yang pasti aku yakin kamu perempuan baik-baik yang nggak bakal jadi selingkuhan dengan bodohnya," ujar Dewi menepuk pundak Rania.


"Mau nyuruh ngikhlasin tapi aku tau itu sulit."


"Nggak papa kok Wi, aku baik-baik saja. Salah aku juga main nerima gitu aja tanpa nyelidiki dulu."


Rania melanjutkan pekerjaanya di Cafe, berusaha menyibukkan diri agar tidak terlalu mengingat sosok Rangga.


Hingga sore menjelang, Rania tidak istirahat sedikitpun, sibuk berkerja sana-sini. Bahkan ia mengerjakan yang bukan pekerjaannya saat sengang.


Karena masih ada kelas sebelum hari gelap, Rania kembali ke kampus yang mulai sunyi, hanya beberapa mahasiswa yang berlalu lalang.


Sembari menunggu dosen, Rania membaca beberapa artikel tentang kesehatan. Ia bukannya tidak punya teman, tapi ia sendiri yang mengucilkan diri karena tahu diri.


Tak lama kemudian, dosen yang di tunggupun datang. Rania menyimak dengan seksama materi yang di bawakan dosen, hingga tak terasa hari mulai gelap dan kelaspun selesai.


Karena jarak rumah dan kampus sangat dekat, Rania hanya menempuhnya dengan jalan kaki. Mungkin aktivitas Rania sekarang tidak jauh dari bekerja dan belajar.


Berbeda dengan dulu. Ada Rangga yang selalu mengajaknya kemanapun hanya untuk menghilangkan stress.


Ia menghembuskan nafas kasar saat membuka pintu kamar dan mendapati boneka beruang lumayan besar pemberian Rangga.


"Kasian pemiliknya udah pergi," gumam Rania.

__ADS_1


***


Tak ada yang berbeda dari kehidupan Rania, tidak ada yang tahu bahwa ia memendam rasa sakit yang begitu dalam. Wanita cantik dengan dagu sedikit lancip itu selalu bisa menyembunyikan luka dengan senyuman, hingga orang-orang berpikir Rania sama sekali tidak punya beban.


Lelah berjalan dari rumah, Rania mendudukkan diri di bangku taman kampus, mengusap kening yang penuh akan keringat.


Ia mendongak saat bayangan seseorang menghalaunya dari sinar matahari.


"Buat lo, haus 'kan?" ucap Agas menyodorkan sebotol minuman.


"Makasih kak," balas Rania segera mengambil minuman itu lalu membukanya. Kebetulan ia sangat haus tapi belum sempat ke kantin.


Agas ikut duduk di samping Rania. "Gue liat akhir-akhir ini lo sering melamun, kenapa? Kangen sama Rangga?"


"Serius?" Rania mengangguk.


"Syukurlah," gumam Agas menatap anak-anak yang sedang bermain basket yang tak jauh dari sana.


"Huh?"


"Eum ... kak Rangga beneran udah balik ke ibu kota? Nggak bakal kesini lagi? Dia baik-baik aja kan? Setelah wisuda dia udah nggak ada kabar." Rania menunduk.


Setelah kejadian siang itu, Rangga bagai di telan bumi, tak ada pesan atau apapun yang dititipkan pada Rania. Bahkan satu kalimat putus saja tidak.

__ADS_1


"Baik."


"Kak Agas pernah ketemu sama istri kak Rangga?"


"Pernah beberapa kali, tapi ya gitu. Melisha nggak kayak lo, dia orangnya sedikit sombong, entahlah mungkin cuma perasaan gue."


Rania mengangguk mengerti. "Maaf waktu itu nggak dengerin peringatan kak Agas, kalau aku dengerin pasti aku nggak bakal ngerusak hubungan mereka."


"Ada nggak nya lo emang hubungan mereka nggak pernah baik-baik aja Ran, jadi jangan nyalahin diri sendiri. Hari itu gue peringetin lo, bukan karena takut lo ngerusak hubungan Rangga, tapi lebih ke enggak mau lo sakit hati kayak sekarang ini."


"Rangga itu rada sensitif, senggol bacot. Dikit-dikit emosian. Dia butuh dukungan dari seseorang, tapi keluarganya ya gitu nggak ada yang dukung, punya istri juga percuma nggak ke urus dianya."


"Hah?" Rania semakin bingung akan pembicaraan Agas.


Ya begitulah Agas, mulutnya sedikit lemes jika sudah bercerita.


"Melisha nggak pernah mau nyentuh alat-alat dapur dan lo pasti tau Rangga kayak gimana. Dia tuh penggenya di perhatiin 24 jam. Udah kek bayi, bukan deh, melebihi malah."


Rania tertawa, cara bicara Agas sangat lucu menurutnya, apa lagi laki-laki itu jika berbicara pasti organ tubuhnya ikut bergerak.


"Nah kan cantik kalau ketawa gini." Agas mengacak-acak rambut Rania gemes, membuat wanita itu sedikit terkejut.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2