Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 140


__ADS_3

"Aaarrrrggghhhh." Teriakan histeris dari ruang rawat terdengar begitu nyaring.


Melisha, wanita itu mengacak-acak rambutnya dengan mata memerah menahan amarah. Sampai kapanpun ia tidak akan rela jika Rangga jatuh ketangan Rania.


Dari kecil hingga sekarang apa yang ia inginkan selalu tercapai sesuai kehendaknya. Dan hanya karena gadis kampung, ia harus kehilangan semuanya.


Harta, Rangga, kehormatan segala telah sirna karena wanita bernama Rania.


"Kau harus mati Rania!" pekik Melisha mengepalkan tangannya. "Kau harus mati dengan bayi sialanmu itu, aku akan membunuhmu."


Wanita itu melepas selang infus begitu saja, berjalan keluar ruangan ingin menemui Rania dan membunuhnya. Jika ia tidak bisa mendapatkan Rangga, maka Raniapun tidak boleh.


Langkah Melisha tertahan di ambang pintu karema cekalan dua orang polisi yang selalu berjaga di depan pintu.


"Lepasin saya! Saya harus membunuh Rania. Kalaupun harus mendekam di penjara tidak apa-apa yang penting saya berhasil membunuhnya!" jerit Melisha seperti orang kesetanan.


Membuat cengkraman polisi semakin erat, hingga pergelangan wanita itu memerah.

__ADS_1


"Diamlah Nona, atau kami akan menyeret Anda ke penjara tanpa memperdulikan kesehatan anda!" tegas pak polisi.


Namun, Melisha seakan tuli terus memberontak, di otak wanita itu hanya membunuh Rania saja, maka semuanya akan selesai. Ia akan mendekam di penjara tanpa ada penyesalan sama sekali.


"Panggil suster!" perintah salah satu polisi.


Lama polisi menghentikan pemberontakan yang di lakukan Melisha, hingga suster datang dan langsung menyuntikkan obat penenang. Setelah Melisha terkapar lemas, ia di angkat kembali ke brangkar. Salah satu tangannya di borgol di pembatas brangkar.


Wanita itu kembali terbangun malam harinya, dan mendapati semuanya gelap. Ia mengumpat karena tangan kirinya di borgol.


"Halo, kau menginginkan Rania kan? Kau mencintainya?"


"Lalu?" tanya seorang laki-laki di seberang telpon.


"Saya bisa membantumu untuk mendapatkannya. Kau mendapatkan Rania dan saya mendapatkan Rangga." Melisha menyeringai, mengira tawaran yang ia ungkapkan akan membuat laki-laki di seberang sana akan tergiur.


Tawa diseberang telpon terdengar, bukan tawa kebahagian melainkan tawa mengejek. "Gue emang suka sama Rania, tapi hanya sebatas suka tanpa ada embel-embel ingin memiliki. Kalau gue mau gue bisa milikin dia tanpa bantuan siapapun. Gue nggak mau hanya karena perempuan persahabatan yang selama ini gue jalin harus berantakan. Kenapa harus memisahkan dua orang yang saling mencintai? Kenapa lo nggak sama gue aja? Mau ke hotel? Kuy gue bakal muasin lo, lebih dari yang lo harapkan dari Rangga," ujar Agas di seberang telpon.

__ADS_1


Ya Melisha, baru saja menghubungi Agas, berharap laki-laki itu mau membantunya karena selama ini Melisha tahu Agas mencintai Rania. Tapi sepertinya ia salah menghubungi seseorang. Agas tidak seperti dirinya.


"Gimana, lo mau gue puasin hm? Saat lo bilang iya, gue bakal berangkat sekarang."


Tut


Melisha langsung memutuskan sambungan telpon kemudian melempar ponselnya ke lantai hingga layarnya pecah.


"Aku bersumpah saat melahirkan nanti Kau dan bayimu meninggal Rania!" pekik Melisha di tengah kegelapan malam.


Wanita itu tidak peduli dengan pasien di ruangan sebelah, yang ia ingingkan hanya satu membunuh Rania.


Melisha tertawa puas. "Kau akan mati di tanganku Rania. Kau akan mati bersama bayimu!"


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2