
Hamil di luar nikah memang aib sebuah keluarga, terlebih di kampung. Kesucian sangat di junjung tinggi jika di kampung halaman. Tetangga kampung sangat pandai berkomentar sana-sini.
Mungkin sekarang kehamilan Rania cuma di ketahui oleh ibunya, tapi besok? Lusa? Besar kemungkinan satu kampung tau akan aib yang ia punya.
Rania terus menangis di dalam kamar ibunya, tak ikut sarapan dengan adik-adiknya yang lain. Marah, tapi tidak tahu marah pada siapa. Mungkin pada dirinya sendiri yang gampang terlena akan cinta dunia.
"Maafin Rania Pak, Rania udah lempar kotoran ke wajah bapak. Rania udah buat aib keluarga."
Memang pada dasarnya, penyesalan selalu datang di akhir, karena jika diawal itu pendaftaran. Nasib sudah menjadi bubur, Rania hanya bisa menyesali tanpa bisa mengubahnya lagi.
Wanita itu kaget, saat ibunya membuka pintu membawa kantong kecil berwarna hitam yang mungkin saja isinya tespek. Benda yang tak perlu di beli karena sudah jelas Rania hamil.
Winarti menutup pintu, ia juga sudah menyuruh anak-anaknya yang lain pergi agar tidak ada yang menghalangnya untuk mengancam Rania. Wanita itu sangat beruntung karena putrinya pulang dalam keadaan hamil, dimana ia bisa menggunakannya sebagai senjata dengan dalil aib keluarga.
"Buktikan sama ibu kalau kau memang tidak hamil Rania!" Melempar kantong kresek tepat di hadapan Rania yang masih duduk di lantai dengan bersimbah air mata.
__ADS_1
Bukannya mengambil kantong hitam itu, Rania malah berusaha meraih kaki sang ibu untuk meminta maaf, ia tahu kesalahannya sangat besar.
"Maafin Rania bu, Rania salah karena buat aib keluarga. Rania hamil, tapi tolong jangan nyuruh Rania untuk mengugurkannya." Wanita itu mendongak demi menatap ibunya yang tak bergeming sama sekali. "Rania akan pergi malam nanti, biar semua orang tidak tahu kalau Rania hamil."
"Tidak! Kamu tidak boleh pergi kemana-mana. Dasar anak durhaka, kau sudah melempar kotoran kewajah ibu. Sekarang apa rencanamu? Pergi dan melahirkan tanpa seorang suami?"
"Dasar anak tidak berguna!" Mendorong tubuh Rania hingga sedikit terjungkal.
"Permisi, selama siang bu Winarti."
Panggilan dari luar berhasil menerbitkan senyuman di wajah Winarti, akhirnya apa yang ia tunggu datang juga.
Sebelum keluar dari kamar, Winarti menatap tajam Rania. "Hapus air matamu, dan segeralah ikut keluar, ibu punya tamu spesial hari ini!" tukasnya.
Samar-samar Rania mendengar ibunya menyambut tamu begitu lembut san mengalung indah, tak seperti jika bicara dengan dirinya, penuh bentakan dan makian sesekali.
__ADS_1
Rania menurut apa kata sang ibu, menghapus air matanya juga merapikan sedikit penampilan. Ia harus terlihat baik-baik saja di depan tamu ibunya.
Tubuh Rania membeku di ambang pintu untuk beberapa detik setelah mengetahui tamu yang katanya spesial. Di kursi rotan, ada Jeky dan sepasang suami istri yang Rania tidak tahu itu siapa.
Mungkingkah laki-laki itu datang melamar dirinya?
"Nak Rania apa yang kau lakukan disitu? Buatkan minum, dan ikut bergabung dengan kami!" Suara Winarti berhasil menyadarkan Rania.
Wanita itu segera kebelakang, untuk membuat kopi untuk laki-laki dan teh untuk perempuan. Rania mengaduk kopi itu sembari malamun.
"Auwhhh," ringgis Rania saat tangannya tak sengaja di ciprati air panas, tanganya sedikit memerah, semoga tidak melepuh.
"Mbak Rania? Buat kopi untuk tamu ibu ya?" tanya Rayna yang baru saja datang setelah mengantar Relia ke sekolah naik motor butut peninggalan bapak, gadis itu juga mampir ke pasar untuk membeli ayam buat Rania.
Rayna meletakkan belanjaanya di atas meja. "Biar Ina aja Mbak yang bawa kedepan. Mbak jangan kedepan, nanti Mbak di godain sama bang Jeky."
__ADS_1
Sebelum benar-benar menganggat nampang, Rayna kembali bicara. "Kalau ibu maksa Mbak buat nikah sama bang Jeky dengan alasan utang bapak, nggak usah di turutin Mbak, lawan aja ibu! Toh kalau ibu mau bayar utang, mobil bisa di jual." Saran Rayna.
...****************...