
Sepeninggalan Rangga, Rania kembali seorang diri di rumah, wanita itu tidak terlalu sibuk apa lagi rempong, karena adik-adiknya sebelum meninggalkan rumah sudah rapi apa lagi Rayna.
Rania hanya mengurus putranya yang hari ini sedikit rewel entah karena apa. Wanita itu berjalan mondar- mandir di dalam rumahnya seraya mengendong Rayyan, akan tetapi bayi mungil dan tampan itu tetap saja memanangis.
"Kamu kenapa Nak, ada yang sakit?" Rania sedikit bingung akan kerewelan Rayyan hari ini.
Sudah memeriksa kulit putranya dan tidak ada ruam merah, pempres sudah di ganti mandipun sudah tetap sama Rayyan menangis.
Rania duduk di sofa, kembali menyusui putranya. Namun, hanya sebentar dan bayi mungil itu melepaskan dan kembali menangis.
"Jangan buat mama khwatir nak," gumam Rania dengan mata berkaca-kaca.
Sepertinya ada yang aneh jika Rayyan menyusu, hanya sebentar dan melepasnya lagi. Karena penasaran Rania sedikit menekan payu daranya, dan baru sadar kenapa putranya menangis.
"Anak mama lapar? Maaf ya nak, mama nggak tau kalau Asi Mama nggak cukup buat kamu."
Rania menyesali kecerobohannya yang tidak tahu apa-apa tentang Asi yang mulai hilang, padahal ia sering mengonsumsi sesuatu yang bisa memperbanyak air ASI.
Karena tak ingin Rayyan kelaparan dan terus menangis, Rania segere menghubungi sang suami walau laki-laki itu baru saja berangkat setengah jam yang lalu.
"Halo mas, mas sibuk banget ya?"
"Rania itu Rayyan kenapa nangis Sayang? Kalian baik-baik aja?" tanya balik Rangga saat mendengar suara tangisan bayi.
"Itu dia mas, ASI aku tiba-tiba nggak ada padahal semalam masih banyak, mas bisa pulang bawa susu formula sama dot? Rayya kayaknya lapar."
__ADS_1
"Tunggu, mas pulang sekarang."
Setelah sambungan telpon terputus, Rania kembali memperhatikan putranya, kini Rayyan tak sehisteris tadi saat menemukan mainan baru, yaitu menghisap tangannya.
***
Tak lama kemudian, Rangga datang membawa kresek sedang berisi susu juga Dot sesuai yang ia tahu aman bagi bayi usia 1 bulan. Laki-laki itu langsung melepas jasnya, kemudian menucuci tangan.
Rangga mengambil alih Rayyan dalam gendongan Rania agar wanita itu segera membuat susu untuk putranya.
"Maaf mas," sesal Rania.
"Nggak papa sayang, namanya juga pertama, apa lagi nggak ada orang tua yang dampingin. Nggak papa, Rayyan kayaknya kurang puas sama Asi kamu karena dikit," sahut Rangga tak menyalahkan Rania sama sekali.
Sudah untung Rania cepat paham tentang mengurus bayi, itupun sedikit patuah dari Nenek Nena yang selalu menelpon menanyakan putranya.
"Anak Papa lapar ya? Kasian nggak dapat Asi dari mama," ledek Rangga terus bermain bersama putranya.
Di usia satu bulan keatas bayi sudah bisa di ajak bicara walau respon yang di berikan hanya gerakan tangan atau ekpresi wajah, tapi itu sudah lebih dari cukup.
"Yey, Susu Rayyan udah darang," pekik Rangga tertahan hanya untuk menghibur si bayi.
Rania duduk di samping Rangga, kemudian memberikan dot agar Rayyan segera minum susu.
"Tadi Rayyan rewel banget mas, sampai aku takut dia kesakitan, tau-taunya lapar."
__ADS_1
"Itu biasa sayang bagi bayi, jangan terlalu menyalahkan diri. Liat sekarang anteng setelah kenyang, dih malah nutup mata."
"Ngantuk setelah kenyang kayak Mamanya pas hamil," ledek Rangga berhasil mendapat cubitan di lengan.
"Ledekin aku mulu. Mas nggak lagi sibuk?"
"Nggak ada yang lebih prioritas dibanding kalian berdua, bahkan meeting penting sekalipun kalau kalian butuh mas, mas bakal batalin. Mas nggak mau lewatin pertumbuhan putra pertama mas."
"Sosweet," gumam Rania.
Karena Rayyan sudah terlelap setelah minum susu, Rania memindahkannya ke boks bayi, lalu mengikuti Rangga keluar rumah. Suaminya akan pergi ke kantor lagi karena banyak pekerjaan.
"Rayyan tuh ngerti sama mas sayang."
Rania mengernyit tidak mengerti arah pembicaraan Rangga.
"Rayyan cuma minjem." Rangga melirik bagian Dada Rania yang semakin membesar, mungkin efek menyusui. "Karena dia tahu Papanya bentar lagi buka puasa, makanya di balikin."
"Apaan sih mas."
"Emang gitu kan?"
"Udah sana berangkat, hati-hati Papanya Rayyan."
...****************...
__ADS_1
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐๐๐๐๐๐๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น