Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 57 - Cukup Mbak Saja


__ADS_3

Tubuh Rania membeku dalam pelukan ibunya, sudah lama iya tidak mendapatkan pelukan hangat seperti ini.


"Katanya ibu sakit? Gimana keadaan ibu?" gumam Rania membalas pelukan ibunya.


"Ibu baik-baik aja nak, ibu bohong karena kangen sama kamu." Winarti melerai pelukannya, menarik Rania masuk ke rumah di ikuti Rayna dan Relia.


Kemeempatnya duduk di kursi rotan. "Bu, di luar itu mobil siapa?" tanya Rania.


"Itu mobil ibu, cantik kan? Iya dong, sampai tetangga yang lain iri," jawab Winarti dengan bangga.


"Mobil ibu?" gumam Rania sedikit tidak percaya. Darimana ibunya mendapatkan uang sebanyak itu untuk membeli mobil? Apa ibunya ngutang lagu di Jeky? Semoga tidak.


"Rayna, antar mbak kamu ke kamarnya!" perintah Winarti dan segera pergi.


Karena lelah setelah menempuh perjalanan cukup jauh, Rania masuk ke kamar. Rumah mereka tidak terlalu kecil, ada dua kamar, dapur, kamar mandi untuk semua, juga ruang tamu yang sedikit lebih besar dari kamar.


Karena cuma memiliki dua kamar, otomatis malam ini Rania, Rayna dan Relia tidur bertiga di ranjang yang tidak terlalu besar.


Rayna muncul membawa teh hangat untuk Rania. "Minum dulu mbak, kayaknya mbak lelah banget, pucat gitu," ujarnya.

__ADS_1


"Mbak nggak papa Ina."


Rania tersenyum penuh haru saat kedua adiknya langsung mendekap tubuhnya erat. "Kita kangen sama Mbak, tapi kita nggak mau mbak kembali kesini, besok Ina bantu mbak pergi setelah ibu nggak ada," gumam Rayna menangis di pelukan Rania.


"Jangan khawatir, mbak baik-baik aja, udah jangan nangis. Lia juga, cengen banget, kalian bukan anak kecil lagi. Ibu nggak mungkin tega," ujar Rania menenangkan walau dirinya juga sedikir takut semua itu akan terjadi.


Setelah makan malam bersama dengan makanan seadanya, ketiga perempuan itu kembali ke kamar, bercerita banyak hal. Yang paling cerewet di antara ketiganya adalah Rayna.


Gadis cantik itu menceritakan kegiatan yang paling berkesannya di kampungnya saat Rania tidak ada, Relia juga tidak ingin kalah, sering kali memotong pembicaraan Rayna.


"Adek mbak sekarang udah pada besar ya," ujarnya mengacak-acak kedua rambut adik-adik yang sangat ia sayangi. "Pasti udah punya pacar."


Keduanya tersipu malu, mereka malu mengakui pada mbaknya bahwa masing-masing sudah mempunyai pacar.


"Secinta apapun kalian pada pasangan kalian masing-masing, jangan pernah menyerahkan tubuh dan kesucian kalian ya. Karena suatu saat, bukan mereka yang akan menanggung aib, tapi kalian sendiri."


Jangan seperti mbak, yang mudah terlena dan berakhir terhina di mata orang lain. Cukup mbak saja yang seperti ini, kalian jangan.


Rania tersentak, saat Relia menghapus air matanya. "Kok mbak nangis?"

__ADS_1


"Mbak nangis karena terharu bisa ketemu kalian setelah dua tahun," jawab Rania langsung menghapus air matanya.


"Ayo kalian harus tidur, Lia besok sekolah, dan Ina?" tanya Rania pada adik pertamanya.


"Biasanya Ina nyari kerja, tapi karena mbak ada di rumah, Ina mau tinggal nemenin mbak."


Tidur di ranjang yang lumayan sempit tak membuat ketiganya keberatan. Rania tidur di tengah di apit adik-adiknya. Karena tak biasa tidur telentang setelah hamil, Rania tidur menghadap kiri dimana Rayna tidur.


"Mbak gemukan ya."


"Masa sih?" tanya Rania tak percaya.


"Iya mbak gemukan, makin cantik pula."


"Cantikan juga adik mbak. Oh iya Ina, ibu dapat uang dari mana buat beli mobil?"


"Oh itu Ina juga nggak tau mbak, tapi hari itu ibu dapat telpon dari seseorang, setelahnya ibu pamit mau pergi, pulang-pulang bawa mobil."


Rania menghela napas panjang. "Nggak minjam sama bang Jeky kan?"

__ADS_1


"Nggak mbak," jawab Rayna.


...****************...


__ADS_2