
"Mas Rangga?" panggil Rania setelah siap dengan pakaiannya, ia ingin membicarakan sesuatu pada sang suami. Tidak penting sih, tapi Rangga berhak tau.
"Kenapa sayang?"
"Aku ngasih uang Ina sama Lia kasian dia takutnya butuh sesuatu," lirih Rania sedikit tidak enak. Merasa tidak tahu diri, sudah untung Rangga mau membiayai hidupnya, kini ia juga menambah beban laki-laki itu.
Walau Rangga sering berkata tidak apa-apa, tetap aja Rania was-was, hati manusia sangat mudah berubah.
"Berapa?" tanya Rangga sedikit acuh menyugar rambutnya kebelakang agar telihat lebih tampan.
"Dua ratus ribu," lirih wanita itu seraya menunduk.
"Dua ratus ribu?" ulang Rangga menatap Rania tidak percaya, kenapa memberi adik iparnya dua ratus ribu?"
"Janji nggak bakal gini lagi, kalau ada apa-apa aku bakal ngomong dulu sana mas."
Tawa Rangga seketika pecah menguyel-uyel pipi tembeb sang istri yang kini mendongak menatapnya. "Istri mas kok lucu sih. Ngapain izin sama mas? Ya nggak papa lah ngasih mereka uang. Lebih baik malah, pasti mereka malu minta."
"Mas nggak marah?" tanya Rania memastikan.
__ADS_1
Rangga mengeleng, mengambil dompetnya, dan mengeluarkan semua isinya, sekitar 7 lembar sisa beli bensin juga es krim semalam.
"Kasih buat mereka jangan lupa bagi dua, biar nggak saling iri. Uang dua ratus mana cukup sama anak remaja Ran."
"Mas serius ih?"
Rangga langsung memeluk Rania dan mengelus punggungnya. "Serius sayang, buruan kasih kemereka terus kita jalan-jalan."
"Mas aja kalau gitu, biar mereka tau itu uang dari mas."
"Apa bedanya sih? Kamu atau Mas sama aja. Lagian mereka saudara kamu, nggak pas rasanya kalau mas yang ngasih. Okey mungkin hari ini biasa aja, tapi hari-hari berikutnya? Mas takut mereka nggak nyaman, juga kamu. Takutnya kamu malah ada prasangka lain. Jadi sebelum semuanya terjadi, menghindar dari sekarang aja. Mereka bukan anak kecil sayang, mereka udah besar hampir dewasa."
Rania mengangguk mengerti, ia malah mengeratkan pelukannya pada pinggang Rangga. "Suami aku pengertian banget. Moga aja nggak berubah ya."
Ya selama ini Rangga memang tinggal serumah dengan adik iparnya, tapi tak pernah sekalipun mereka berinteraksi langsung terlalu lama, paling menanyakan keberadaan Rania. Yang lainnya, pasti selalu ada sang istri yang menemani.
Ia ambil diri demi keamanan masing-masing, banyak di luar sana terjadi sesuatu yang sangat memalukan.
Rangga tersenyum setelah Rania menyusul ke mobil, membantu memasang seatbelt.
__ADS_1
***
Keduanya sampai di pusat perbelanjaan, tujuan Rangga saat ini adalah tokoh Jewelry untuk memenuhi janji pada sang istri saat di kampung dulu. Terlebih hari ini adalah ulang tahun Rania.
"Kok kesini mas? Kalau mau belanja di pasar aja ih, lebih murah, bisa hemat uang," gumam Rania tetapi terus mengikuti langkah lebar sang suami.
"Nggak setiap hari juga, jangan terlalu mikirin uang," ujar Rangga. Bukan bermasud sombong tapi ia tidak ingin Rania membatasi semua keinginanya karena memikirkan uang.
Laki-laki itu berkerja untuk istrinya, ia ingin Rania hidup tanpa harus memikirkan nominal harga. Ia ingin membebaskan sang istri dari yang namanya kekurangan.
"Ngapain masuk ke toko ini?" bisik Rania sedikit menarik tangan Rangga agar berhenti tetapi laki-laki itu terus berjalan memasuki toko perhiasan.
"Aku nggak butuh," bisik Rania.
"Ck." Rangga bedecak kesal berhenti dan melirik Rania, meraih jari jemari sang istri. "Liat, jari-jari kamu polos tanpa apapun, setidaknya hiasi dengan cincin sayang," bujuk Rangga.
"Mas juga?"
"Iya sayang, cincin couple. Tanda bahwa kita itu pasangan dan udah nikah. Kamu milik aku, dan aku milik kamu!"
__ADS_1
...****************...
Otor nggak bakal bosen ingetin kalian buat nebar kembang yang banyak๐๐๐๐๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น