
Dua hari kemudian, mereka berangkat ke ibu kota setelah mengurus semua keperluan di kampung. Surat pindah Relia dan ijazah Rayna juga sudah mereka dapatkan. Mata Rayna dan Relia sedikit bengkak karena menangis, mungkin belum siap LDR dengan sang kekasih.
Mereka sampai di ibu Kota jam 10 malam, dan tentu saja sangat lelah terutama Rangga yang menyetir kurang lebih 10 jam.
"Udah sampai bang?" tanya Rayna setelah mobil yang mereka kendarai memasuki halam sebuah rumah sederhana berlantai satu. Walau sedeharan, tapi terlihat elegan dan sangat nyaman di pandang mata.
Halaman cukup luas dengan taman kecil juga kolam ikan di dekat garasi.
"Udah, kalian boleh turun," sahut Rangga dengan suara sedikit lirih karena tak ingin membangungkan Rania yang terlelap.
Keduanya nurut turun dari mobil tanpa menimbulkan kegaduhan. Kedua gadis cilik itu berdiri di depan rumah menunggu Rangga mengunjungi satpam untuk meminta kunci rumah.
Setelah di buka, barulah keduanya masuk. Sementara Rangga langsung mengendong sang istri tanpa berniat membangungkannya. Rangga langsung membuka kamar utama yang terletak paling depan, kamar yang lebih luas dari kamar yang lainnya.
"Nyeyak banget tidurnya," gumam Rangga mengecup kening sang istri sebelum meninggalkan kamar. Ia harus mengurus adik iparnya juga walau lelah.
"Ina, Lia, kalian pilih kamar mana aja, kebetulan masih ada sisa dua kamar," ujar Rangga.
__ADS_1
"Makasih bang," ujar keduanya masing-masing mengeret koper ke kamar. Rangga hampir tertawa melihat berdebatan adik iparnya di ambang pintu. Sepertinya mereka berdebat mau tidur di mana padahal kamar keduanya sama² luas hanya tempat yang berbeda.
Untung saja harga mobilnya lumayan mahal, hingga bisa membeli rumah sekalian dengan perabotan lainnya walau belum lengkap sepenuhnya.
Tapi itu semua bisa Rangga penuhi nanti jika ada uang sedikit demi sedikit.
***
Sama seperti hari sebelum-sebelumnya Rania akan mual di pagi hari, tapi tidak terlalu lemas. Setelah dari kamar mandi, ia menghampiri Rangga di tempat tidur, sedikit berjongkok dan mengecup kening sang suami dengan bibir pucatnya.
"Bangun Mas," bisik Rania.
"Kata orang tua, nggak baik tidur sampai siang, ntar rezekinya ke patok ayam."
"Mas nggak tidur, cuma tiduran aja."
"Ngejawab mulu," gumam Rania.
__ADS_1
Rania sedikit memperbaikan posisi tidurnya, turun dari tubuh kekar Rangga, mencari tempat nyaman, pinggangnya masih terasa sakit karena duduk kelamaan di mobil.
"Masih sakit?" tanya Rangga di jawab anggukan oleh Rania.
Laki-laki itu langsung bangun, mengambil tas Rania untuk mencari minyak kayu putih. "Hadep kiri sayang, biar mas pijat dikit."
"Nggak udah mas, bentar lagi juga reda."
"Ck, ngeyel mulu bawaannya. Nurut kata suami kalau nggak mau dosa."
Mengalah, itulah yang di lakukan Rania karena tak ingin Rangga marah pagi-pagi seperti ini. Membiarkan laki-laki itu mengurut pinggangnya secara pelan.
Makin lama, tangan kekar Rangga malah semakin menjelajah tidak pada tempatnya. Tangan itu mulai naik dan melepas pengait benda yang membungkus buah yang lumayan besar. Seiring berjalannya kehamilan Rania, buah dada wanita itu juga semakin besar entah karena apa.
"Ma-mas masih pagi," gugup Rania tapi Rangga menghiraukannya.
"Kamu tau gimana rasanya, tidur sendiri tapi bangun berdua?"
__ADS_1
...****************...