Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 153


__ADS_3

Sesuai janji Rania pada Ayah mertuanya, wanita itu pindah ke Mansion setelah resepsi pernikahan usai di gelar. Adik-adiknya tidak ada yang ikut dan memutuskan tinggal di rumah lama. Sesekali mereka akan berkunjung di hari libur atau sedang rindu pada ponakan mereka.


Rania menikmati waktu istirahatnya di ruang keluarga seraya memakan kue buatannya. Edwin dan Rayyan sedang tidur siang di kamar masing-masing.


Suara bel rumah berbunyi membuat Rania langsung beranjak untuk membuka pintu tanpa menunggu pelayan, toh dia masih bisa membukanya sendiri.


"Mas Rangga? Ada yang kelupaan?" tanyanya setelah membuka pintu rumah.


"Nggak ada sayang, cuma kangen aja sama istri mas, sekalian makan siang di rumah," jawab Rangga mengecup bibir sang istri.


Kebetulan Rania belum makan siang, ia ikut makan siang bersama sang suami di meja makan. Tak lupa ia menyiapkan piring untuk sang suami seperti biasa.


"Gimana pekerjaan mas?"


"Alhamdulillah, udah jauh lebih baik Yang. Beberapa investor berhasil mas bujuk. Apa lagi kehadiran Rayyan."


"Kok Rayyan?" heran Rania.


"Karena mas anak tunggal mereka takut Fan group seperti dulu lagi, hilang arah tanpa ada pemegang, dengan adanya Rayyan, artinya masih ada generasi selanjutnya jika mas hiatus di dunia bisnis."


Rania memgangguk mengerti. "Mau nambah lagi?"


"Cium aja deh."


"Papanya Rayyan, mesumnya di kurangin ya!"

__ADS_1


"Iya nanti di tambah sayang."


"Tuh kan mulai lagi."


Cup


Mata Rania terbelalak saat Rangga mengecup bibirnya padahal di sana ada beberapa pelayan. "Makan yang lahap, mas mau ketemu Rayyan dulu."


Rania mengigit bibir bawahnya sembari memperhatikan para pelayan, berharap tak ada yang melihat kejadian tadi.


Namun, harapan wanita itu sia-sia, pelayan sudah melihat semuanya. Para pelayan awalnya merasa terkejut, baru kali ini mereka melihat Rangga bermesraan di Mansion. Saat bersama Melisha jangankan bermesraan, makan berdua saja hampir tidak pernah.


Di kamar. Rania mengenyit mendapati Rangga sudah rapih, padahal tadi laki-laki itu mengatakan tidak ingin kembali ke kantor.


"Mau balik?" tanyanya.


"Kita?" ulang Rania.


"Iya sayang, sebenarnya udah dua minggu yang lalu mas di hubungi, tapi bisanya baru sekarang. Mau kan?"


Rania bergeming, melirik putranya yang masih tidur di boks. "Rayyan gimana mas? Mau di bawa juga?"


"Titip sama kepala pelayan bentar, mas nggak mau anak kita menginjakkan kaki di kantor polisi."


Ragu, Rania mengangukkan kepalanya, ia juga sebenarnya ingin tahu bagaimana kondisi Melisha sekarang.

__ADS_1


Sejak lahirnya Rayyan, Rania tidak pernah membesuk mantan istri suaminya, dan kini usia Rayyan hampir tiga bulan.


Sebelum pergi, Rania tidak mempercayakan putranya pada orang lain, melainkan menelpon Rayna agar segera ke Mansion menjaga Rayyan.


Rasa trauma saat di kontrakan dulu masih membekas dalam ingatannya. Takut ada yang ingin membunuh putranya, terlebih semua publik tau Rayyan adalah penerus Fan selanjutnya.


Walau Rangga menampik itu semua, karena tak ingin putranya akan tumbuh dengan otoriter kekuasaan. Rangga berjanji pada dirinya sendiri akan membesarkan Rayyan dengan caranya.


Tak ingin mengulangi sesuatu yang terjadi padanya dulu. Cukup, biarkan hidup berjalan semestinya layaknya air mengalir. Tak perlu melawan ombak, karena itu akan sia-sia.


"Kok sama kak Agas?" tanya Rania setelah Rayna datang bersama Agas.


"Gue tadi nggak sengaja liat dia di halte," jawab Agas.


"Sengaja apa sengaja?" Rangga menatap penuh selidik pada Agas, sementara Rania dan Rayna sudah masuk ke Mansion terlebih dahulu.


"Nggak sengaja bambang, udah untung gua nganter adek lo."


"Ya kali lo jatuh cinta sama adek ipar gue."


"Kalau iya kenapa? lo mau beri restu?" tantang Agas berkacak pinggang.


"Nggak bakal, ntar lo selingkuhin dia lagi."


"Halah, kayak lo benar aja sebelum nikah," cibir Agas

__ADS_1


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2