
Mendengar suara mobil memasuki garasi, Rania langsung beranjak dari duduknya dan membuka pintu ia tahu pasti itu adalah suaminya.
"Malam sayang," sapa Rangga saat Rania mengecup punggung tangannya. "Enak ya di sambut sama istri, lelahnya langsung hilang."
"Bisa aja mas, ayo masuk."
Rangga mengangguk, menyerahkan kantong berukuran sedang pada sang istri. "Mas nggak sengaja lewat depan penjual mie ayam, jadi keingat kalau istri mas suka. Siapin gih, mas lapar."
Rangga langsung menuju kamar untuk mengati seluruh pakaian yang membuatnya sangat gerah, cuci muka sebentar agar terasa lebih segar barulah menghampiri sang istri di dapur.
"Ayo makan mas, aku panggil Ina sama Lia dulu."
"Hm," gumam Rangga.
Laki-laki itu sengaja membeli empat porsi, tidak mungkinkan ia dan Rania makan sementara adik iparnya tidak? Terlebih mereka tinggal dalam satu rumah.
Prinsipnya, jika ingin makan sesuatu tapi uang tidak cukup untuk 4 orang, maka lebih baik jangan demi menjaga perasaan istrinya. Tidak ada kakak yang rela jika adiknya di telantarkan begitu saja.
"Wah mie ayam," girang Relia langsung menarik kursi, baru mencium wanginya saja ia sudah tergoda.
Beruntung sekali ia mempunyai kakak ipar yang sangat pengertian dan tidak pelit.
"Makasih mbak, bang," ujar Rayna duduk di samping Relia.
__ADS_1
"Makan gih, jangan malu-malu," perintah Rania.
Wanita berbadan dua itu melirik ketiga orang yang ia sayang, sangat menikmati makanannya. Hanya sebuah mie ayam tapi begitu berarti, bukan karena mienya, tapi perhatian Rangga.
Tangan Rania terulur mengambil botol saos di dekat Rangga. Namun, tangannya langsung di cegat.
"Nggak ada, makan seadanya saja," ujar Rangga menatap Rania.
"Tapi hambar mas," keluhnya.
"Mas aja nggak pakai."
Rania mendesah pasrah, memakan mie ayamnya tanpa ada rasa pedas sedikitpun. Usai makan malam, Rania mengikuti Rangga ke kamar dan mendapati suaminya sedang bertelpon dengan seseorang. Di dengar dari cara bicara Rangga, sepertinya laki-laki itu sedang emosi.
Bagaimana tidak emosi, saham yang ingin ia jual pada orang lain harus gagal karena tidak ada persetujuan dari pemegang saham lainnya.
"Investasi gimana?"
"Belum ada kabar dari salah satu perusahaan tuan, kalau begini kita tidak bisa melanjutkan proyek karena kekurangan dana."
Tangga Rangga mengepal, suntikan dana yang ia harapkan kini gagal karena ulah mantan istrinya, itu pasti.
"Pergunakan dana yang ada dulu, sebelum kita dapat suntikan dana!" perintah Rangga.
__ADS_1
Laki-laki itu memijit pangkal hidungnya, kapalanya tiba-tiba berputar mendengar kabar buruk. Baru saja ia bertemu dengan desainer interior dan menjalin kerjasama, tapi yang menjadi penghalang suntikan dana terbesarnya gagal.
Rangga tersentak saat sebuah tangan melingkar di dadanya, dan ia tahu siapa pemilik tangan mungil itu.
"Mas ada masalah?" tanya Rania masih memeluk sang suami dari belakang. Sebenarnya tanpa bertanya Rania sudah tahu, tapi tidak ada salahnya bertanya bukan?
Rangga berbalik dengan senyuman. "Nggak ada sayang, cuma masalah hotel dikit."
"Kekurangan dana?"
Rangga diam, tak ada niatan menjawab pertanyaan sang istri. Ia manarik Rania menuju sofa dan membimbingnya duduk.
Ia berjongkok di depan Rania memeluk pinggang wanita itu dan menyembunyikan wajahnya tepat di perut bunci Rania.
"Mas lelah," gumam Rangga.
Rania tersenyum, mencoba menghibur sang suami. "Yaudah istirahat aja dulu mas, namanya juga pemula kan, menemui kegagalan itu pasti," ujar Rania seraya mengelus rambut lebat Rangga.
"Jangan menyerah dan bersedih hanya karena sebuah kegagalan, tapi jadikan kegagalan itu sebagai tumpuan untuk kita maju mencapai kesuksesan."
Pelukan Rangga semakin erat di pinggang Rania. "Ish Papa manja yang nak."
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa tebar mawar dan kopi biar babang Rangga semangat melewati ujiannya hidup🌹🤗. Vote, di tekan ya.