
Keduanya sampai di kantor polisi setelah menempuh perjalan kurang lebih 15 menit, Rangga membukakan pintu untuk sang istri. Mengenggam tangan wanita itu masuk kedalam, berbincang sebentar pada petugas kemudian duduk di kursi yang berada di ruang besuk khusus tahanan.
Senyum Rania mengembang saat melihat wanita paruh baya berjalan mendekati mereka dengan kaos warna biru. Rania berdiri kemudian mengelurkan tangannya.
Bukannya di sambut, tangan itu malah di tepis sangat kasar.
"Ibu?" panggil Rania kembali duduk di samping Rangga.
Laki-laki itu sedang bermain ponsel tak ingin menganggu keduanya, tapi tak ingin juga meninggalkan Rania seorang diri bersama psycopat seperti Winarti.
"Mau apa kau kesini? Mau menertawakan ibu karena di tahan, dasar anak tidak berguna, percuma saya membesarkan dirimu selama ini!" bentak Winarti berapi-rapi, dendamnya pada Rania semakin besar setelah ia ditahan dan mendengar bahwa Rania menikah dengan Rangga, orang yang melaporkannya.
"Ibu salah, aku datang buat jenggukin ibu, Nia kangen ...."
Brak
Rania tersentak saat Winarti mengebrak meja, salah satu polisi mendekat, takut tahanan melukai tamunya.
"Saya menyesal membesarkanmu juga adik-adikmu yang tidak berguna itu. Kalu lupa, kalu cantik seperti ini karena siapa? Saya yang merawat kalian dari kecil, tapi kalian tidak bisa menghasilkan uang dan malah memenjarakan saya. Dasar anak tidak tahu diri, dan balas budi!" bentak Winarti.
"Ibu ngomong apa sih?" tanya Rania tak mengerti walau matanya mulai berkaca-kaca karena kalimat Winarti yang begitu menyakitinya.
__ADS_1
Sakit hati seorang anak adalah saat ibu meneriakinya dan mengatakan.
Aku menyesal membersarkan anak sepertimu yang tidak berguna.
Rania menoleh saat tangannya di genggam begitu erat oleh Rangga. "Kita pulang," ajak Rangga mulai tersulut emosi. Namun, Rania menolak.
"Saat bapak kamu hidup dia hanya menyayangimu juga adik-adik kamu padahal aku istrinya. Seharusnya kalian ikut ibu kalian keneraka!"
"Cukup!" bentak Rangga berdiri. "Jaga ucapan Anda."
"Oh jadi kau yang melaporkan saya?"
"Ya kenapa?" tantang Rangga masih mengenggam tangan Rania.
Gigi Rangga bergemulutuk, genggaman tangannya semakin erat hingga urat-urtanya menonjol, memejamkan mata agar tidak lepas kendali dan memukul wanita di hadapannya.
"Ayo kita pulang, niat baik tidak selalu di balas dengan kebaikan," ujar Rangga menarik Rania pergi. Namun langkah keduanya berhenti karena kalimat Winarti.
"Apa kau tau Rania? Pria yang ada di sampingmu adalah salah satu orang yang membelimu. Bukankah itu sama saja dia menganggapmu wanita pelac*ur."
Plak
__ADS_1
"Mas!" teriak Rania saat Rangga berhasil melayangkan tangannya tepat di wajah Winarti.
"Kau tidak layak di panggil seorang ibu!" ujar Rangga penuh tekanan, menarik Rania benar-benar pergi dari sana.
Ia menyesal membawa Rania bertemu iblis seperti Winarti.
"Sayang?" panggil Rangga saat Rania terdiam setelah sampai di dalam mobil.
"Ak-aku ng-nggak papa," ucap Rania dengan suara serak menahan tangis.
"Ak-aku nggak sedih." Tangis itu pecah, sekuat tenaga Rania menahannya, tapi air mata itu tetap keluar dari tempatnya.
Dadanya terasa sesak hingga mengambil nafas saja terasa sulit. Gemuruh di dada tak bisa ia tahan. Semua kalimat Winarti tergiang-giang di kepalanya. Lalu jika bukan Winarti ibunya, di mana ibu yang sebenarnya? Rangga membelinya? Apa lagi ini?
"Sayang, tenanglah, kotrol emosi kamu," bisik Rangga mendekap tubuh Rania yang bergetar.
"Ak-aku baik-baik saja," gumam Rania sedikit terbata-bata.
"Jangan di tahan sayang, keluarkan suara kamu. Mas nggak bakal marah kalau kamu nangis. Jangan nyiksa diri sendiri."
Sulit, rasa sakitnya tak terhankan hingga mengeluarkan suara untuk menanggis saja Rania sudah tidak mampu.
__ADS_1
...****************...