Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 118 - Kang Paket


__ADS_3

Sudah 4 hari setelah kepergian Rangga dinas keluar kota, dan hidup Rania benar-benar kesepian. Apa lagi jika adik-adiknya sudah berangkat sekolah.


Seperti saat ini, setelah tidak ada orang, dan semua pekerjaan selesai. Rania mengunci pintu rapat-rapat sesuai perintah Rangga.


Duduk di kursi busa kesayangannya di halaman belakang dengan pemandangan kebun yang lumayan hijau. Rania menyibukkan diri dengan membaca buku kedokteran seperti biasa.


Dalam hatinya paling dalam, Rania masih ingin mencapai cita-citanya menjadi seorang dokter. Tapi apa boleh buat, ia sudah menikah dan sebentar lagi punya anak. Terlebih, Rania tidak mungkin menyusahkan Rangga lagi.


Gendoran pintu terdengar dari halaman depan, membuat fokus Rania terganggu. Wanita berbadan dua itu berjalan secera pelan seraya memegangi perutnya.


"Paket!" teriak seorang dari luar pintu.


Rania tidak langsung membukanya, melainkan memperhatikan dari jendela. Di depan sana, seseorang memakai pakaian hitam dengan topi menutupi wajahnya.


"Paket, apa ada orang?" teriak kang paket untuk ke sekian kalinya.


Rania mengigit bibir bawahnya, ia harus bagaimana? Di rumah tidak ada orang, tapi ia juga tidak boleh ngabaikan tamu begitu saja, terlebih itu adalah kang paket.


Kasian jika ia harus menolak, Rania tahu bagaimana susahnya mencari uang sekarang ini.


Rania memejamkan mata sejenak sebelum menyahut.


"Paket untuk siapa?" tanya Rania tanpa membuka pintu.


"Untuk pak Rangga Nona. Boleh buka pintunya untuk menerima sekaligus tanda tangan."


"Iya tunggu sebentar."

__ADS_1


Rania berlari ke kamarnya untuk menelpon sang suami, menanyakan paket apa yang datang itu. Namun, panggilan atau pesannya tak ada yang di balas.


"Apa mas Rangga sibuk ya?" gumam Rania.


"Nona!"


"Iya sabar!"


Rania berjalan perlahan menuju pintu utama. Memberanikan diri membuka pintu, siapa tau itu paket penting suaminya.


"Maaf lama," sopan Rania.


"Tidak apa-apa nona, silahkan di tanda tangani."


Rania langsung menandatangani keterangan tanda serah terima, mengambil paket di tangan kurir ini, baru saja akan berbalik, tanganya di tarik sangat kasar hingga terjerambah di kursi teras.


"Tolong!"


Plak


Telinga Rania berdeging mendapat tamparan begitu nyaring di pipinya, ia hampir hilang kesadaran detik itu juga. Namun, kesadarannya sadar saat melihat pria itu mengelurkan belatih hendak menutusuk perutnya.


"Kamu dan anakmu tidak boleh hidup!"


"Aaaakkkkkhhhhh"


"Mbak Nia!" teriak Relia yang baru saja melintas di pagar, berhasil menghentikan aksi pria pertopi tersebut.

__ADS_1


Mengetahui ada seseorang selain targetnya, pria bertopi itu hendak kabur. Namun, terlambat karena cekalan seorang laki-laki yang jauh lebih perkasa darinya.


"Mau kemana lo ha? Banci beraninya sama peremuan doang. Sini lo maju ban*gsat!" Arga yang kebetulan mengantar Relia pulang karena lupa membawa tugas kelompok mereka ke sekolah.


Bugh


Arga langsung melayangkan tendangan putar pada pria bertopi itu, kemudian mengunci pergerakannya.


"Nyali lo cuma gini tapi berani jadi pembunuh bayara? Cih." Arga meludah tepat di samping wajah pria bertopi yang sedang tengkurap mencium tanah.


"Lepasin!"


"Enak aja, kenalan dulu kita. Gue Arga cowok paling bandel di sekolah, bangga nggak lo ketemu gue?"


"Anj."


"Sssttthhh, kata Mommy gue nggak boleh ngomong kasar."


Arga menarik tubuh pria bertopi itu agar berdiri. "Karena lo berani ganggu calon kakak ipar gue, lo harus tanggung jawab," ancam Arga padahal keduanya tidak punya hubungan apa-apa.


"Lia, gue bawa dia kemana ini?"


"Ng-nggak tau," sahut Relia panik, Rania sedari tadi sudah memangis seraya memeluk perutnya sendiri. "Ke kantor polisi aja Ga, makasih."


"Ok, nanti gue kabarin."


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa pencet tombol voteπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


__ADS_2