Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 68 - Mas Rangga?


__ADS_3

Rania. Wanita cantik berbadan dua itu duduk termenung di tepi tempat tidur setelah mengganti baju. Pikirannya kacau, antara bahagia dan sedih bisa menikah dengan orang yang sangat ia cintai.


Decitan pintu berhasil mengalihkan atensinya, di sana ada sosok laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya. Laki-laki itu tersenyum, berjalan semakin dekat dengannya.


Bersujud tepat di depannya, meraih tangannya yang sedari tadi berada di paha.


"Kenapa Hm? Kamu sakit?" tanya Rangga sangat lembut, mengenggam kedua tangan sang istri. Rania menjawab dengan gelengan.


"Maaf, udah buat kamu kecewa sama janji yang aku ucapkan dulu. Maaf, karena aku, kamu harus ngalamin hal-hal sulit kayak ginu. Percayalah Ran, aku nggak pernah berpikir nyakitin kamu dengan sengaja," ucap Rangga sunguh-sunguh mengecup tangan Rania, membuat wanita yang sedari tadi menahan tagis tak bisa membendung lagi.


Air mata tumpah begitu saja membasahi pipinya juga tangan Rangga. Rania tidak tahu harus mengatakan apa. Bahagia? Jangan di tanya bagaimana rasa bahagia yang di rasakan Rania saat ini. Namun, ada satu ketakutan yang membuatnya bersedih.


"Maafin aku juga karena nikahin kamu tanpa persiapan apapun. Kita beli cincin pernikahan setelah di Kota."


"Apa kak Rangga beneran udah cerai?" Dari sekian banyak kalimat maaf yang terlontar di mulut Rangga, tak satupun masuk ketelingan wanita itu.


Yang harus Rania pastikan hanya status Rangga sekarang.


Rangga tersenyum, sangat manis dan tampan. Ia berdiri, kemudian mendekap Rania di dadanya. Mengelus rambut indah wanitanya dengan sayang.


"Aku udah pisah secara agama sama dia. Sabar ya sayang, aku juga udah ngajuin percaraian ke pengadilan agama. Setelah surat cerainya keluar, dan anak kita udah lahir. Aku janji kita bakal nikah, dan di saksikan semua orang. Aku akan jadiin wanita satu-satunya di dalam hidup aku."


"Eh nggak deh ...." Rangga mengulum senyum, mengecup bibir Rania yang kini mendongak menatapnya.

__ADS_1


"Kenapa nggak?" tanya Rania.


"Takutnya anak kita perempuan sayang."


"Kirain," gumam Rania.


"Kirain apa, Hm?" Rania mengeleng.


Rangga menuntun Rania agar berdiri, setelah itu ia yang berjongkok tepat di depang sang istri. Mendongak dengan senyuman manisnya.


Laki-laki itu mendekatkan wajahnya tepat di depan perut Rania, membenamkan bibirnya di sana cukup lama dengan mata terpejam.


"Maafin papa juga karena udah nelantarin kamu. Kamu anak hebat, mempu jagain Mama selama ini."


"Kak Rangga bisa jamin kesalamatan anak aku?" tanya Rania. Dirinya di landa rasa takut yang berlebihan.


Sedari tadi, wanitanya belum juga memperlihatkan senyuman indahnya.


"Kenapa, Hm? Cerita sama aku. Aku suami kamu sekarang."


"Ak-aku takut Ayah atau mantan istri kak Rangga nyelakain anak aku kayak ancamanannya dulu. Mungkin aku sanggup kehilangan kakak, tapi nggak buat anak aku," lirih Rania.


Sedari tadi itulah yang menganggu Rania. Takut anaknya dalam bahaya.

__ADS_1


Jauhi Tuan Rangga!


Kalimat itu selalu menghantuinya setiap kali mengingat Rangga. Namun, sekarang ia menginkari janjinya dan malah menikah dengan laki-laki itu.


"Nggak bakal, mereka nggak bakal berani nyakitin kamu, aku janji. Sekarang udah lega kan? Sini peluk suami kamu dulu." Rangga merentangkan tangannya.


Rania langsung menghambur kepelukan laki-laki yang sangat dirindukannya. "Aku kangen sama kak Rangga. Maaf udah raguin kak Rangga. Aku cuma takut anak aku kenapa-napa kak."


"Anak kita sayang," ralat Rangga membalas pelukan Rania yang terasa sangat nyaman.


"Kak?"


"Jangan panggil kakak terus, aku bukan kakak kamu, aku suami kamu Ran," protes Rangga tak suka. Sekarang status mereka sudah beda, dan Rangga ingin panggilan khusus dari biasanya.


"Terus aku manggil apa? Mas?" tanya Rania di jawab gelengan oleh Rangga.


"Itu panggilan Melisha dulu. Abang aja gimana?"


"Aku nggak papa kok, lagian panggilan itu bukan dia yang ciptain kan? Aku mau panggil Mas aja."


"Yaudah, coba panggil!" perintah Rangga dengan senyuman jahil.


"Ma-mas Rangga?"

__ADS_1


"Dalem sayang?"


...****************...


__ADS_2