
"Aragh." Erang Rania saat rambutnya di jambak oleh salah satu dari mereka.
Pria yang lebih tinggi langsung mematikan ponsel Rania saat tersadar tersembung pada seseorang.
"Lepasin aku!" mohon Rania dengan sakit yang tak tertahankan. Air matanya kembali mengalir.
"Gugurkan kandungan kamu sekarang juga!" bentak pria yang berdiri di hadapan Rania.
Mata Rania terbelalak, sembari mengelengkan kepalanya, ia tidak mungkin mengugurkan kandungannya kali ini.
"Siapa yang nyuruh kalian! Aku nggak akan gugurin anak aku!" tantang Rania dengan mata berkaca-kaca menahan sakit.
Kini ia tidak bisa berbuat apa-apa, kakinya di ikat, rambutnya di jambak sangat keras kebelakang hingga wanita itu sedikit mendongak.
"Kita nggak bakal lepasin gitu aja. Ayo berteriak sepuas yang kau mau, nggak bakal ada yang mendengarnya," ucap Pria lebih pendek.
Kedua pria bertopeng itu sepertinya sudah merencakan penyerangan sebaik mungkin, datang di waktu semua tetangga Rania sedang tidak ada di rumah masing-masing.
"Jangan siksa aku. Aku mohon," pinta Rania.
__ADS_1
Laki-laki itu menyeringai, mengeluarkan belatih di saku jaketnya kemudian mengarahkan pada perut rata wanita itu.
"Jangan! Aku mohon!" teriak Rania histeris refleks mengenggam benda tajam itu hingga darah mengalir di telapak tangannya.
Rania berusaha bergerak, meraih kaki salah satu dari mereka untuk memohon. Ia tidak ingin anaknya celaka.
"Jangan sakiti anak aku. Aku akan melakukan apapun yang kalian inginkan, asal jangan melukainya."
Tubuh Rania tepental karena tendangan laki-laki yang baru saja ia raih kakinya. "Tidak bisa, kami di perintahkan untuk membunuhnya!"
Pria bertopeng itu berjongkok, menarik dagu Rania sangat kasar. "Malang sekali nasibmu berurusan dengan mereka," ucapnya penuh tekanan.
"Aku akan melakukan apapun, katakan pada mereka, aku tidak akan mengusik hidupnya," lirih Rania.
Ia tidak tahu siapa yang penjahat itu maksud, tapi ini jalan satu-satunya agar anaknya selamat.
Kedua pria itu saling melirik, hingga salah satu dari mereka angkat bicara. "Jauhi Tuan Rangga, menghilang dari hidup dan sekitar lingkungannya, jika kau ingin selamat. Ini peringatan terakhir, jika kau melangggarnya maka kami tidak segang mengambil nyawamu."
"Aku akan menajuhinya, aku janji. Tolong lepaskan aku!" mohon Rania tanpa berpikir lagi, benda tajam itu masih mengarah pada perutnya.
__ADS_1
Brugh!
Tubuh Rania di hempaskan ke tembok. "Aaaakkkhhhh," rintihnya.
Dengan sisa kesadaran yang ada, Rania memandangi kedua laki-laki menyeramkan itu keluar dari kamarnya. Perlahan-lahan penglihatannya buram, samar-samar ia masih mendengar seseorang memanggil namanya sebelum tak sadarkan diri.
***
Agas terus mondar mandir di depan ruang ICU menunggu kabar Rania, apakah baik-baik saja atau tidak.
Ia sangat khawatir saat mendengar teriakan ketakutan Rania di telpon, saat akan menelpon ulang, ponsel wanita itu sudah tidak aktif.
Saat sampai di rumah Rania, pintu kontrakan wanita itu terbuka lebar, saat masuk Agas mendapati Rania terbaring mengenaskan di lantai, dengan darah mengalir di telapak tangannya.
Agas mengepalkan tangannya saat teringat sesuatu. "Kalau sampai ini ulah istri dan ayah lo, maka jangan harap lo bakal dapatin Rania kembali," gumam Agas dengan gigi bergemulutuk.
Agas sudah cukup berbaik hati menyatukan Rangga kembali, tapi sepertinya laki-laki itu tidak ada pendirian sama sekali dan berakhir Rania tersakiti.
...****************...
__ADS_1