
"Kalian dari mana?" Pertanyaan itu berhasil menghentikan langkah Rayna dan Relia yang baru pulang kerumah untuk mengurus sesuatu.
Keduanya tidak akan tinggal diam jika Mbaknya akan menjadi tumbal keserakahan Winarti. Sudah cukup wanita itu menjual nama mereka untuk memeras Rania saat di kota dulu.
Terlebih Rayna sekarang punya sedikit harapan untuk membatalkan pernikahan, tinggal mengulur waktu menunggu kedatangan pacar mbaknya.
"Kita-kita dari kebun bapak, bu. iy-iya kan Lia?" ucap Rayna melirik Relia, gadis yang sering kali latah jika di tanya sesuatu.
"Iya, bu. Kita dari kebun bapak nyari mangga muda buat mbak Rania, tapi nggak ada buahnya," sahut Relia yang masih bisa di ajak kerjasama.
"Awas kalau kalian macam-macam!" ancam ibunya kemudian berlalu.
Keduanya mengelus dada lega, melangkah masuk kerumah untuk menemui mbaknya di kamar. Rayna sudah mengirim bukti lahan ganja di kebung Jeky pada Agas.
"Mbak Nia jangan sedih, kita nggak bakal biarin pernikahan mbak sama bang Jeky terjadi," ucap Rayna ikut duduk di samping Rania yang sedang membereskan isi lemari.
"Jangan buat sesuatu yang bisa buat ibu marah dek, mbak nggak mau kalian dalam bahaya. Maafin mbak juga nggak bisa ngapa-ngapain. Mbak pengen banget bawa kalian pergi dari kampung ini, tapi mbak nggak punya uang dan rumah di kota, kalian bisa saja kelaparan," lirih Rania di ambang ke bimbangan.
__ADS_1
Dirinya sangat ingin kabur setelah mengetahui semuanya, tapi bagaimana dengan adik-adiknya? Membawa pergi? Rania akan memberi mereka makan apa? Terlebih Relia masih sekolah.
Alhasil Rania menerima keinginan ibunya demi melindungin Rayna dan Relia.
"Kita nggak bakal ngelakuin apapun kok mbak. Kita cuma minta sama mbak, besok kalau bisa ulur waktu biar akadnya nggak cepat terlaksana ya!"
"Baiklah, mbak bakal nurutin permintaan kamu yang satu ini, tapi jangan buat ibu marah!"
***
Sore harinya saat ketiga perempuan cantik sedang duduk di kursi rotan dengan pekerjaan masing-masing. Rayna yang bermain ponsel, mencari pekerjaan lewat media sosial, Rania dan Relia sedang membaca buku.
"Ayo kalian bersiap-siap, kita akan kerumah Jeky sore ini, biar nggak capek bolak-balik nanti. Lagian pesta akan berlangsung di sana!" ujar Winarti membuat ketiganya mendengus dan segera bersiap-siap.
Mungkin jika Rania nurut karena tak ingin ibunya marah dan berimbas pada yang lain, tidak dengan Rayna dan Relia. Kedua gadis itu nurut agar Winarti lengah dan tidak menyadari rencananya.
Sesampainya di rumah Jeky yang sangat besar dengan tiga lantai itu. Rania terus di tempeli oleh adik-adiknya, bukan tanpa alasan, keduanya tak ingin Jeky macam-macam.
__ADS_1
Sama seperti sekarang, setelah makan malam usai, Jeky mengedor-gedor pintu kamar yang di tempati Rania. Namun, yang membukanya adalah Relia.
"Kenapa bang?" tanya Relia sedikit ketus. Relia dan Rayna tidak seperti mbaknya yang mudah di tindas.
"Mau ketemu calon istri saya," jawab Jeky.
"Mbak Nia lagi tidur, lagian nggak sabar banget sih. Besok juga mbak Nia bakal jadi istri abang," gerutu Relia.
Kalau pernikahannya lancar
Gadis cantik itu senyum sinis tanpa Jeky sadari. "Malam ini hari terakhir mbak Rania sama kita, jadi kita mau ngabisin waktu dulu!"
Brak
Relia mendorong pintu sedikit keras hingga Jeky mundur karena tak ingin kejepit.
"Sialan, awas aja kalau saya udah nikah. Saya pastikan kalian nggak bakal seberani ini!" geram Jeky.
__ADS_1
Laki-laki berusia 30 tahun itu, mengepalkan tangannya, baru kali ini ada gadis belia tidak sopan padanya. Tidak tahukah mereka, semua orang di kampung menyegani dirinya karena harta yang ia punya?
...****************...