Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 93 - Kebahagian


__ADS_3

Alvi mengeluarkan beberapa berkas tentang pengajuan Rangga dulu di perusahaanya. Ia meminta datang di waktu jam kerja selesai karena sang istri yang tengah hamil anak ke empat mereka ingin ikut.


"Saya tertarik untuk menjalin kerjasama dengan anda pak Rangga. Saya merima pengajuin iklan yang anda tawarkan, sekaligus saya akan menjadi insvestor."


Mata Rangga terbebelak tak percaya. Benarkah ini semua bukan mimpi? Mendapatkan kerjama dengan Anggara Group perusahaan lumayan terkenal, sekaligus dua.


"Apa ini benar Tuan?" tanya Rangga tak percaya. Bagaimana tidak, ia baru pemula tapi langsung mendapatkan kejutan yang luar biasa.


"Saya serius," jawab Alvi dengan wajah datarnya.


Semua orang tahu siapa Alvi dan seberapa teliti laki-laki itu dalam menjalankan sesuatu, dan Rangga sangat beruntung bertemu denganya. Bukan tanpa alasan Alvi menerima begitu saja pengajuan kerjasama Rangga padahal masih merangkak.


Pertama, proposal yang di ajukan Rangga sangat rapi dan jelas. Visi, misi yang sangat menjanjikan dan realistis, membuat Alvi mengambil resiko untuk berinvestasi besar-besaran sekaligus akan memasukkan hotel itu kedalam perusahaan periklanan yang ia miliki.


Alvi tidak akan menyia-nyiakan perusahaan yang akan berkembang pesat nantinya, dan laki-laki itu yakin perusahaan Rangga ini akan membawa keuntungan besar untuknya nanti.


"Tapi saya ingin bertanya sesuatu tentang kejanggalan yang saya temui. Bukankah hotel ini dulu tidak berdiri sendiri? Hotel ini di bawah naungan Fan Group." Alvi kembali bicara.


"Benar Tuan, hotel ini dulunya berada di bawah naungan Fan Group, tapi sekarang sudah tidak lagi. 100 persen tidak ada sangkut pautnya."

__ADS_1


Alvi mengangguk-angguk mengerti. "Sayang sekali mereka membuangnya tanpa memikirkan hal kedepan nantinya," gumam Alvi senyum remeh. Meremehkan CEO Fan Group.


Laki-laki itu mengeluarkan sebuah map coklat yang berisi kotrak kerjasama yang harus di tanda tangani.


"Kontrak pengajuan ada sedikit yang saya ubah, silahkan di baca ulang sebelum di tanda tangani. Setelah semuanya beres, Anda bisa langsung mengirimnya ke asisten saya."


"Terimakasih atas kepercayaannya Tuan, saya akan melakukan yang terbaik."


"Tentu saja, jangan buat kepercayaan saya hilang."


Setelah membicarakan tentang perkejaan, Rangga hendak pamit. Namun, Alana yang sudah ikut begabung dengan mereka segera mencegah


"Boleh," sahut Alvi dan Rangga berbarengan.


Kedua pasangan itu akhirnya memutuskan makan malam sebelum pulang kerumah masing-masing. Di antara ke empatnya Alanalah yang paling antusias mengajak Rania berbicara.


"Kapan-kapan kalau ada waktu boleh dong kita jalan. Pasti seru belanja sesama ibu hamil, banyak nyambungnya. Boleh nggak A?" tanya Alana pada sang suami.


"Boleh, sepertinya menyenangkan," sahut Rania sedikit canggung.

__ADS_1


Kedua sepasang suami istri itu berpisah di parkiran. Setelah berada di dalam mobil, Rangga langsung memeluk sang istri sakin bahagianya.


"Mas kok langsung meluk?" bingung Rania.


"Mas lagi bahagia sayang, dan ini semua berkat kamu. Kamu selalu dukung mas apapun yang terjadi," gumam Rangga tak terasa menitikan air mata.


Ya anggaplah dirinya lebay menyikapi keadaan. Namun, itulah yang ia rasakan, perasaannya langsung lega saat Alvi memutuskan untuk bekerjasama dengannya.


Sangat sulit bisa bekerjasama dengan perusahaan itu, dan sejak awal Rangga tidak pernah berharap akan bertemu langsung dengan CEO nya yang terkenal di majalah bisnis. Keluarga mereka turun-temurun memiliki perusahaan masing-masing, karena memang di isi orang-orang yang cerdas.


"Kerjasamanya lancar mas?" tanya Rania.


"Iya sayang."


"Selamat mas, aku ikut bahagia."


...****************...


Jangan lupa tebar kembang sebanyak-banykanya

__ADS_1


Ada yang penasaran bagaimana kisah Alana dan Alvi? Coba intip "Hay pak Guru"


__ADS_2