Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 92 - Pertemuan


__ADS_3

Setelah makan siang bersama, Rania membereskan bekas makanan mereka, kemudian beranjak mendekati sang suami di kursi kebesarannya.


"Mas aku pulang ya," izin Rania yang kini berdiri tepat di samping sang suami.


Rangga yang sedang sibuk dengan laptopnya segera menoleh. "Yang ngizinin siapa, hm? Duduk sini!" Ia menarik Rania agar duduk dipangkuannya.


"Eh," kaget Rania langsung melingkarkan tangan di leher sang suami.


"Pulang bareng nanti," gumam Rangga memperbaikan posisi Rania, menumpu dagunya di pundak sang istri, dan kembali fokus pada laptopnya.


"Pulang nanti mas ada urusan sama CEO Anggara Group kalau mas lupa," peringatan Rania seraya memperhatikan apa yang di kerjakan sang suami.


Di layar laptop banyak sekali gmbar-gambar interior sederhana. Namun, terlihat sangat mewah.


"Terus kenapa hm? Kamu istri mas, nggak masalah dong ngajak kamu ketemu orang penting. Biar mereka tahu di balik kesuksesan mas nanti, ada wanita cantik yang selalu mendukung mas," bisik Rangga. "Jadi diamlah, temenin mas di sini."


Rania mendesah pasrah, duduk mematung di pangkuan Rangga.


"Mas aku ada ide."


"Apa sayang?"


"Gimana kalau kita buat nuansa yang berbeda sama hotel-hotel terkenal lainnya. Misalnya fasilitas di dalam setiap kamar?"

__ADS_1


"Gimana tuh?"


"Kita buat ada yang khusus penganting, keluarga kecil, dan umum. Khusus kamar pengatin, kita buat di kamar VIP aja, nuansa harus romatis. Kalau untuk keluarga kecil yang punya anak imut-imut, di dalam ruangan harus ada taman bermain kurang lebih ukurannya 2 meter persegi. Ih pasti cantik deh." Antusias Rania, membayangkan dirinya yang bermalam di sebuah hotel bersama Rangga dan anaknya nanti. Anaknya tidak rewel karena ada taman bermain di ruangan itu.


"Bagus juga ide kamu, nanti mas bicarain sama desainer interiornya. Nggak salah sih, istri mas pintar banget."


"Bisa aja buat aku malu."


"Sayang, bantuin mas milih interior yang menurut kamu cantik, ini dari desainernya."


Rania mengangguk, meneliti semua model di laptop Rangga. Sementara laki-laki itu sibuk mengelus perutnya yang buncit.


***


Keduanya memasuki restoran yang sangat mewah. Rangga tak pernah melepaskan ngenggaman tangannya pada sang istri.


"Meja atas pesanan Anggara Group?" tanya Rangga setelah pelayan menghampirinya.


Memang dasarnya restoran yang mereka masuki tidak sembarangan duduk. Tiga jam sebelum kesini, kita harus memesan tempat terlebih dahulu.


"Oh mari saya antar Tuan," sopan sang pelayan mengantar Rangga dan Rania menuju lantai dua di mana ruangan VIP yang telah di pesan CEO Anggara Group.


Keduanya sampai di sana, dan mendapati sepasang suami istri sedang bercengkrama.

__ADS_1


"Selama sore Tuan, maaf kami telat," ujar Rangga sopan setelah berada di hadapan CEO Anggara group.


"Tidak masalah, saya juga baru datang," sahut Alvi CEO Anggara Group dan mempersilahkan sepasang suami istri itu duduk.


"Hay," sapa Alana pada Rania.


"Aa aku kesana ya," izin bumil cantik itu. "Ayo ikut saya," sopan Alana memanggil Rania ikut bersamanya. Kebetulan ruangan itu di isi dua meja yang sedikit berjauhan, dan Alvi sudah memboking semuanya.


Rania ikut begitu saja, karena memang tidak tahu harus berbuat apa di samping Rangga yang mulai membahas tentang pekerjaan.


"Makasih Nyo ...."


"Sttt, saya paling tidak suka di panggil nyonya, panggil Alana aja!" perintah Alana.


"Terimakasih Alana."


"Senang deh pak Alvi punya rekan kerja istri hamil juga," girang Alana.


Rania hanya menanggapi dengan senyuman, wanita di depannya terlihat sangat aktif dan tentu saja cantik.


...****************...


Jangan lupa tebar kembang sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Aduh-aduh, pasangan bucin hadir nih🤭, mana hamil lagi.


__ADS_2