
Kali ini Rania bangun lebih pagi dari biasanya, sibuk menyiapkan keperluan sang suami yang akan berangkat ke luar kota karena urusan pekerjaaanya.
Wanita itu sibuk di dapur menyiapkan sarapan juga bekal untuk perjalanan nanti. Setelah semuanya siap, barulah ia kembali ke kamar untuk membangungkan Rangga.
Di lihatnya Rangga tidur dengan posisi tengkurap, ia mendekat, sedikit menunduk kemudian mengecup kening sang suami.
"Bangun mas, udah pagi, kak Lingga juga udah ada di depan," bisik Rania. Namun, hanya di balas gumaman oleh laki-laki itu.
"Papanya anak-anak aku nanti, bangun yuk udah pagi. Mas Rangga sayang," panggil Rania.
Rania menghembuaskan nafas panjang, sangat susah membangungkan Rangga di pagi hari kecuali dengan satu cara yaitu memberi morning kiss.
Wanita itu berjongkok di pinggir ranjang. Mendekatkan bibirnya dengan sang suami dan sedikit *******, tak lupa memberikan gigitan kecil. Dan semuanya berhasil, laki-laki itu bangun dengan senyuman manis di wajahnya.
"Ayo mas mandi dulu, pesawat mas take of jam delapan."
"Lagi!" pinta Rangga manja tentu saja suara serak khasnya yang membuat Rania merinding.
"Setelah mandi, takutnya mas telat."
Cup
Rania memegangi bibirnya yang baru saja di kecup, sementara sang pelaku sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.
Ia segera membereskan tempat tidur, juga menyiapkan pakaian kerja untuk sang suami.
"Ponsel mas Rangga di mana?" tanya Rania sedikit berteriak.
__ADS_1
"Di meja sayang," sahut Rangga.
Langkah wanita itu mendekat kemeja, mengambil ponsel Rangga dan hendak membukanya, tapi terkunci dan ia tidak tahu kuncinya apa.
"Ish kok di kunci," gumam Rania sedikit kesal. "Mas Rangga!"
"Dalem sayang," bisik Rangga yang sedari tadi berada di belakang Rania. Tangan kekar itu langsung melingkar di perut buncit Rania.
"Tangal jadian kita," lanjut Rangga.
"Udah selesai mandi?" heran Rania.
"Udah, cuma mandi, nggak butuh waktu lama, ya kecuali kalau main, lain cerita. Buka gih, emangnya mau ngapain di ponsel mas?"
"Jangan bilang mas cepat-cepat mandi karena takut aku periksa hp nya?" tuding Rania.
"Periksa aja, kalau dapat yang aneh-aneh, nggak dapat jatah sebulan!" tantang Rangga.
Tanpa mendengarkan laki-laki itu, Rania langsung membuka aplikasi hijau, kemudian mencari kontak Melisha, lalu mengklik Block.
"Kok di block?"
"Nggak suka?"
"Su-suka sayang, nggak papa block aja."
***
__ADS_1
Rania mengantar sang suami hingga di depan pintu, setelah mengalami drama manja-manja Rangga yang tidak rela perpisah dengan sang istri.
"Udah mas, lepasin. Kasian kak Lingga dari tadi nunggu di mobil. Ini bekalnya aku sengaja buat banyak untuk kak Lingga juga. Kalau udah sampai telpon ya, biar aku nggak khawatir."
"Ck, kok nggak di cegah sih Yang?" cemberut Rangga.
"Apaasih mas kayak bocah aja, sana ih. Kan bisa telponan nanti." Rania berjinjit mengecup bibir Rangga. "Kiss pengantarnya udah juga."
"Kok kamu tega sih Ran? Biarin mas pergi."
"Mas Rangga! Aku getok palanya ya, dari tadi drama mulu. Yang mau ninggalin siapa, yang nggak rela siapa. Udah jam 7 sejam lagi persawat yang mas tumpangi Take Of. Apa mau di antar ke bandara?"
"Nggak usah, ntar kamu lelah. Mas pegi kalau gitu, jang diri baik-baik, kalau Lia sama Ina udah pergi, kunci pintu jangan bukain siapapun yang bertamu!"
"Iya sayang, mas juga hati-hati. Dadah Papa sayang, kalau balik jangan lupa oleh-olehnya ya."
Pip
"Nah kan, kak Lingga mulai ngamuk." Rania tertawa saat suara klakson berbunyi. Sepertinya Lingga sudah tidak sabar melihat ke uwuan di pagi hari.
Cup.
"Mas pergi."
...****************...
Tebar kembang yang banyak jangan lupa, vote di tekan ya
__ADS_1