
"Kau mengira orang yang sedang hamil perutnya akan tetap seperti itu? Tidak Rania, perutmu tidak akan berkembang kedalam, tapi keluar! Kau tidak perlu memikirkan tentang Jeky dan kehamilanmu, menikahlah dengannya itu sudah cukup!"
Rania memejamkan matanya, tidak tahuka ibunya bagaimana sosok Jeky. Ia bisa saja di siksa habis-habisan jika ketahuan berbohong. Bagaimana jika setelah menikah Jeky tahu semuanya? Pasti penderitaan Rania akan lebih kejam dari ini.
Wanita berbadan dua itu bangkir dari duduknya. Ia belum makan sejak pagi, tububnya terasa sangat lemas.
"Rania tidak akan menikah dengan Jeky ibu! Rania akan pergi!" putus Rania membuka pintu hendak meninggalkan ibunya.
Namun, langkahnya urung saat mendengar kalimat wanita paruh baya itu.
"Pergilah! Pergi sejauh yang kau mau. Jika kau gagal menikah dengan Jeky, maka Rayna yang akan mengantikan dirumu!"
"Ibu!"
"Ibu sama Mbak kenapa?" tanya Rayna, gadis itu segera menyusul saat mendengar keributan.
"Mbak nggak papa dek," jawab Rania.
"Dan kau!" Winarti menunjuk Rayna. "Jangan coba-coba bawa mbak mu pergi, atau Relia akan menanggung semuanya!" ancam Winarti.
"Makanlah, perbaiki suasana hatimu. Ibu tidak ingin mata kamu bengkak saat akad nanti."
"Ap-apa? Akad? Ibu beneran bakal nikahin Mbak Nia sama Bang Jeky? Kenapa ibu tega? Jual saja mobil ibu, kenapa harus mencari jalan seperti ini!"
__ADS_1
Plak
Rania meringis saat pipinya kembali di tampar oleh Winarti. Sebenarnya tamparan itu bukan untuknya tapi untuk Rayna. Namun, Rania berusaha melindungi adiknya itu.
Deringan terlpon terdengar di antara suasana mencekam di dalam rumah itu, Rania langsung mengambil ponselnya dan melihat siapa sang penelpon.
Kak Agas is calling ....
Baru saja akan menjawab, ponsel itu sudah di rebut paksa oleh Winarti.
"Ponsel kamu ibu sita!" ucap wanita itu dan segera pergi entah kemana.
Rayna langsung memeluk Rania erat dengan air mata, tak tega mbaknya selalu di tuntut ini itu oleh ibunya.
Gadis itu tak sengaja mendengar pembicaraan ibu dan mbaknya di dalam kamar.
"Maaf, mbak gagal jadi contoh yang baik untuk kamu dan Lia," sesal Rania.
Gelengan kepala terasa di pundak Rania. "Mbak masih panutan kami berdua. Tentang kehamilan, Ina memang kecewa mbak, tapi balik lagi. Manusia tak luput dari dosa dan khilaf, yang penting ada keinginan mau berubah, maka semuanya tidak masalah."
Rayna melepas pelukannya, menghapus air mata Rania. "Mbak harus makan, kasian anak mbak," ucapnya mengingatkan.
Rania mengangguk, berjalan menuju meja makan untuk mengisi perutnya yang terasa kosong. Di sana sudah ada ayam goreng kesukaannya.
__ADS_1
"Jangan nangis sambil makan mbak," tegur Ina kembali menghapus air mata Rania.
"Lia pulang!" teriak Relia di ambang pintu, gadis itu sengaja pulang cepat karena ingin kembali bercerita dengan Rania. "Kok Mbak Ina, sama Mbak Nia nangis?" tanyanya.
"Nggak papa, ayo makan dek."
Karena tak membiarkan mbaknya makan seorang diri, Rayna dan Relia ikut makan bersama. Di sela-sela makannya, Rayna sedikit bertanya tentang kehidupan Rania di kota.
"Pacar mbak tau kalau mbak hamil?" tanya Rayna hati-hati.
Rania mengangguk. "Kalau begitu mbak telpon pacar mbak, biar kesini dan bawa mbak pergi."
Rania mengeleng. "Dia udah punya istri Ina, mbak nggak mungkin rusak rumah tangga mereka."
"Tapi ...."
"Jangan pikirkan masalah mbak. Mungkin memang ada baiknya mbak menikah sama bang Jeky, biar kalian juga aman."
"Nggak boleh, mbak nggak boleh nikah sama duda mesum itu," sanggah Relia dengan mulut penuh makanan.
Gadis kelas 1 SMA itu sangat lahap. Mungkin karena selama ini hanya makan telur dan mie saja. Winarti selalu saja makan di luat tanpa memikirkan kedua anaknya di rumah. Keduanya akan makan ikan atau ayam, jika mempunyai uang jajan lebih.
...****************...
__ADS_1