Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 113 - Para Istri Pengusaha


__ADS_3

Usai memutuskan sambungan telpon dengan Melisha, Rania menatap Rangga yang kini melayangkan tatapan yang sulit di artikan. Wanita itu meletakkan benda pipi di tangannya sangat pelan. Percayalah, ia takut Rangga marah jika ia bersikap kasar seperti tadi.


Rania menunduk. "Maaf mas. Emosi aku nggak stabil dari pagi, aku nggak suka aja kak Melisha nelpon mas. Sekarang mas cuma milik aku kan?" lirih Rania.


Wanita itu menelan salivanya kasar saat Rangga beranjak tanpa mengatakan apapun. Baru saja akan menyusul. Sebuah pelukan terasa di tubuhnya.


"Mas senang kamu bisa lawan dia sayang, mas suka. Sering-sering ya jangan mau di tindas. Uh mas makin cinta sama adek." Rangga mengecup seluruh wajah Rania yang masih benggong.


"A-adek?" Pipi Rania bersemu merah, ah kenapa ia baper hanya karena Rangga memanggilnya Adek?


"Kenapa nggak suka? Yaudah, sayang aja." Rania mengeleng, membalas pelukan Rangga.


"Ekhem, Ina lapar mbak," ujar Rayna lagi-lagi menganggu kemesraan keduanya.


Sebenarnya Rayna sudah lama menunggu Rania dan Rangga keluar dari dapur, bahkan berkali-kali memeriksanya. Tapi rasa laparnya tak tertankan lagi, jadilah ia menganggu.


Resiko serumah dengan kakak yang baru saja menikah, ia harus di suguhkan pemandangan yang membuat iri setiap harinya. Ayolah, ia sedang LDR dengan pacarnya, jangan sampai rindunya semakin menumpuk.


"Ah iya, mbak udah masak makan aja," jawab Rania melerai pelukannya.


Sepasang suami istri itu menutuskan keluar dari dapur.


"Mas besok aku di ajak jalan sama kak Alana, boleh? Janji nggak boros."

__ADS_1


"Boleh, sama istrinya pak Alvi kan? Boros juga nggak papa, jarang-jarang kamu mau belanja gini. Mau di temenin?"


Rania mengeleng. "Nggak usah, kak Alana juga nggak ngajak suaminya. Ini urusan ibu hamil."


***


Sesuai dengan apa yang di katakan Rania. Wanita itu berangkat menjelang siang untuk jalan-jalan bersama Alana istri rekan kerja sang suami. Baru kali ini Rania menemukan orang kaya dan sangat terpandang tapi ramah pada semua orang. Wajah saja yang terlihat galak, tapi tidak dengan hatinya.


"Kak Alana!" panggil Rania saat melihat Alana berdiri di depan Mall bersama seorang wanita yang tak kalah cantik.


"Hay, kirain nggak bakal datang. Oh iya kenalin sahabat aku namanya Salsa," sapa Alana.


Ya sejak pertemuan pertama mereka di restoran itu, hubungan Rania dan Alana lumayan dekat.


"Rania kak." Rania menyambut uluran tangan Salsa, di antara mereka tentu saja usia Ranialah yang paling muda.


Anak pertama Alana sekarang sudah sekolah SMA 10, sementara anak pertama Salsa kelas 11, bisa di bandingkan bukan perbedaan umur mereka?


"Ish kalian bikin iri aja, aku kan jadi pengen hamil lagi," cemberut Salsa membuat kedua ibu hamil itu tertawa.


Setelah basa-basi, akhirnya mereka menjelajahi isi mall terlebih dahulu sebelum membeli. Rania tidak pernah menyangka, istri sesukses pak Alvi saja mengejar diskonan apa lagi dirinya?


Ketiga wanita cantik itu keliling mall, tak lain mencari barang diskonan terlebih dahulu sebelum belanja, membandingkan harga satunya dengan harga lainnya berulah mereka beli jika cocok.

__ADS_1


"Seru ya jalan bareng gini," ujar Alana dengan wajah berbinar.


Istri-istri pada pengusaha tengah berkumpul, walau Rania sangat terbanting karena tak sebanding. Namun, ia sama sekali tidak di kucilkan.


"Lucu nggak sih kalau kita beli ini?" antusias Alana memperlihatkan baju bayi berwarna biru pada Salsa dan Rania.


"Luci banget," sahut Rania.


"Kita beli yuk, bayi kamu laki-laki juga kan? Kita samaan."


"Mau beli juga nggak Sal? Suruh Kara pakai!" ledek Alana.


"Ya kali, yang ada aku di ketusin sama dia," sahut Salsa. Bisa-bisanya Alana menawarkan benda lucu itu padanya, padahal anakya sangat cuek melebih ayahnya.


...****************...


Hihi senangnya Rania dapat teman baru yang baik hati😘😘😘😘😘


Kisah Salsa dan Alana ada novelnya juga loh, coba deh intip.


"Cinta dan Masalalu"


"Hay pak Guru"

__ADS_1


__ADS_2