
Lelah berkeliling seharian hingga mereka melewatkan makan siang. Alhasil makam siang mereka tertunda dan baru terlaksana sore harinya setelah merasakan lapar.
Terlalu senang dan bergembira hingga mereka lupa waktu. Kini mereka berada di restoran yang terdapat di Mall itu. Duduk bertiga dengan berbagai macam makanan di hadapannya.
Sesekali acara makan mereka di selingi tawa atau pembahasan-pembahasan ringan lainnya. Tentu saja yang memulai topik adalah Alana sebagai wanita yang sedikit cerewet. Saling pamer layaknya sosialita pada umumnya? Itu tidak mungkin terjadi di pembahasan mereka.
Alana hanya akan memamerkan kekayaanya sebagai Ceo, Pengacara, dan istri pengusaha jika bertemu orang yang tidak di suka saja.
"Katanya kamu punya adek ya Ran se usia Arga, sekolah dimana?" tanya Alana seraya menyesap dalam-dalam jusnya karena sangat haus.
"Iya kak, sekolah di SMA angkasa kelas 10."
"Eh beneran? Satu sekolah sama Kara dong," sahut Salsa.
"Anak-anak kalian juga sekolah di sana?" Rania memastikan.
"Iya, Arga juga sekolah di sana, kelas 10 juga. Adek kamu ambil jurusan apa? Ntar aku tanyain Arga biar nggak gangguin dia, soalnya suka jahil sama cewek." Alana tertawa sendiri seraya mengelengkan kepalanya setiap mengingat tingkah Arga yang jauh berbeda dengan suaminya.
Laki-laki itu mencopy semua sifat sepupunya.
"10 IPS 1 kak," jawab Rania.
"Satu kelas Al." Salsa tertawa, sudah pasti Adik Rania menjadi santapan lezat si playboy Arga, apa lagi kalau cantik.
"Kalau anak kak Salsa?"
__ADS_1
"Angkara 11 IPA 1 ketua osis, jarang gabung dia sama yang lain, cuek orangnya."
***
Setelah lama berbincang dan sudah lelah keliling, mereka bertiga memutuskan pulang dan berpisah di parkiran. Rania sebenarnya di tawari pulang bareng, tapi ia menolak dengan alasan Rangga akan menjemput dirinya.
Wanita berbadan dua yang perutnya semakin besar itu, duduk di salah satu pembatas menunggu sang suami menjemput dirinya.
Baru saja akan menelpon, mobil hitam sudah berhenti tak jauh darinya. Rania berdiri dan menghampiri sang suami, meraih tangan laki-laki itu untuk ia cium.
"Seru jalan-jalannya? Lelah?" tanya Rangga seperti biasa mengecup kening sang istri.
"Iya mas."
"Bumilnya Rangga belanja apa aja hari ini?"
"Banyak," jawab Rania merilekskan tubuhnya seraya bersandar di lengan sang suami yang tengah mengenggam tanganya.
"Mana ada banyak, itu kurang dari sepuluh paper bag."
"Iya, aku cuma beli baju anak yang lucu-lucu menurut aku, beberapa kemeja juga jam tangan buat mas, kan besok udah berangkat."
Rangga menghembuskan nafas kasar, selalu saja jika Rania keluar belanja seorang diri, wanita itu tidak pernah belanja untuk dirinya sendiri. Pasti yang lebih utama, kebutuhan Rangga.
"Emamg kamu nggak suka sesuatu? Pengen tas atau baju gitu? Atau takut boros? Sayang, jangan mikirin nominal harga plis, aku kerja buat kamu bukan orang lain."
__ADS_1
"Aku tau mas."
"Terus?"
"Ya semua punya aku masih bagus, ada yang belum ke pakai juga. Tadi sempat pengen tas yang kaya punya kak Alana tapi nggak jadi deh."
"Tas apa?"
"Tas Burberry cantik banget, tapi harganya bisa buat makan 2 bulan," cengir Rania. Sebenarnya ia di tawari oleh Alana tapi menolak karena tidak enak, lagian ia cuma tertarik dan tidak harus memilikinya.
Bagi Rania, uang puluhan juta lebih baik di tabung daripada harus membeli benda mahal seperti itu. Masih banyak tas cantik di bawah harga. Toh ia juga tidak suka pamer.
Rangga tertawa, kenapa istrinya berbeda? Ayolah sekarang Rangga memang sedang merintis usaha dari bawah, tapi bukan berarti terlalu miskin.
"Ngapain ketawa? Ngejek aku ya karena katro?"
"Nggak sayang." Rangga membanting setir kemudi, memutar arah menuju Mall.
"Kok putar mas?"
"Kita beli tas yang kamu mau, sekalian beli yang lain."
...****************...
Ingat hari ini Senin, tebar bunga yang banyak dan jangan lupa tekan vote kalianπΉπΉπΉπΉπππππππππππ. Beberapa part terakhir sepi, ramaiin dong. Maksa nih.
__ADS_1