
"Nggak mau ikut, yaudah mas aja, tunggu bentar ya sayang." Rangga mencoba kabur dan mengalihkan pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut sang istri.
Rania paling tidak suka jika mengetahuinya memukul seseorang, apa lagi sekarang wanita itu sedang hamil. Tingkat kesensian, ke bawelan, dan kesangarannya di atas rata-rata melebih siapapun.
"Jawab dulu mas," desak Rania menarik kaki baju kaos Rangga.
Menghembuskan nafas Rangga lakukan sebelum berbalik menghadap sang istri. "Ganti baju gimana sih Yang? Mas tadi pergi pakai baju putih, pulang juga sama," jawab Rangga.
"Bohong banget, pas mas pergi tuh di bagian dada ada tulisan, ini pulang-pupang kok polos? Emang dari mana sih? Ketemu teman lama aja ribet banget sampai lupa beliin aku mie ayam."
"Kamu salah ingat kali Yang."
"Nggak bakal salah aku yang nyiapin juga, yaudah kalau mas nggak mau ngaku malam ini tidur di luar ...."
"Mas nggak mau tidur di sofa," rengek Rangga.
"Di luar rumah!" tegas Rania langsung menuju dapur, sia-sia ia menahan lapar dengan suka rela hanya menunggu mie ayam kesukaanya. Tapi Rangga malah melupakan itu semua.
"Iya mas ganti baju, karena tadi ketumpahan jus di cafe."
"Serius?"
"Iya sayang, mas serius, masa bohong sih sama istri mas yang cantik ini." Rangga langsung mengecup pipi Rania. Duduk di samping sang istri yang tengah makan mungkin benar-benar lapar.
Tapi apa boleh buat, Rangga benar-benar melupakan janjinya karena sangat bahagia bisa mengugat Melisha.
"Baju kotornya mana? Biar aku cuci, baju putih kalau nggak di cuci bakal rusak."
__ADS_1
"Udah Mas buang, nggak bisa di cuci pun."
Tak
Suara sendok yang di lentakkan dengan kasar terdengar, pertanda Rania benar-benar marah kali ini. "Tadi katanya aku salah ingat, terus sekarang ngaku beli baju baru karena ketumpahan jus, di minta baju kotornya katanya di buang. Mau bohong gimana lagi? Apa susahnya sih jujur? Atau mas habis jalan sama perempuan lain, dan lipstiknya nggak sengaja nempel di baju gitu?"
"Ya-yaampun sayang, demi apapun mas nggak jalan sama perempuan. Mas nggak mungkin selingkuhin istri cantik mas. Kalau mas berani selingkuh dan ketahuan, kamu boleh potong junior mas," pasrah Rangga.
Rania langsung beranjak dari duduk, mengambil beberapa minuman juga cemilan di laci paling bawah, berjalan meninggalkan dapur dengan Rangga yang mengekorinya.
"Sayang."
"Potong sana junior mas, kalau perlu sampai akar-akarnya aku nggak peduli," kesal Rania, ia hanya ingin kejujuran dari awal, tapi lagak Rangga seperti pencuri saja.
"Ntar kalau kamu pengen gimana?"
Brak
Pintu kamar tertutup, menyisakan Rangga seorang diri di balik pintu. Bukan, bukan kamar mereka berdua, tapi Rania masuk ke kamar Rayna yang tidak mungkin di terobos Rangga begitu saja.
Rangga mengacak-acak rambutnya frustasi. "Gini amat jadi suami ibu hamil, apa-apa salah terus. Jujur salah, bohong salah. Aakhaah," gerutu Rangga.
"Nggak tidur di luar tapi sama aja, sekarang malah tidur sendiri."
Rangga memutuskan ke kamarnya untuk istirahat sejenak, mungkin membiarkan kepala Rania dingin adalah pilihan yang tepat untuknya, lagian masih jam 4 sore, masih lama menjelang malam.
Tak sadar Rangga tertidur dengan posisi tengkurap di kamarnya seorang diri, dan baru bangun ketika hari mulai gelap. Ia mengedarkan padangannya ke seluruh ruangan dan tidak ada siapapun, pertanda Rania belum masuk ke kamar.
__ADS_1
Di ambilnya ponsel di atas nakas lalu menghubungi sang istri, sayangnya tidak di angkat. Rangga tak putus asa, laki-laki itu kini menelpon adik iparnya.
"Halo Ina, mbak kamu mana?" ujar Rangga langsung pada intinya.
Rayna melirik Rania yang sedang bersandar di kepala ranjang. "Mbak Nia lagi nonton di laptop abang, mau cerita?" tanyanya.
"Nggak usah, bilangin aja mas lapar, mas tunggu di meja makan."
"Oke bang."
Usai menelpon adik iparnya, Rangga segera ke meja makan menunggu sang istri. Rania tidak mungkin membiarkannya kelaparan, ia yakin itu. Dan ini saatnya ia akan membujuk bumilnya.
Alis Rangga saling bertaut, kala yang datang bukan Rania melainkan Rayna.
"Mbak kamu mana?" tanya Rangga.
"Mbak Nia katanya malas gerak Bang, jadi aku di suruh nyiapin," jawab Rayna bersiap menyiapkan makan malam untuk Rangga, tapi urung setelah mendengar kalimat kakak iparnya.
"Nggak usah, mas nggak jadi lapar." Rangga langsung beranjak dengan suasa hati tidak baik.
"Lah Mbak Nia sama suaminya kenapa sih?" gumam Rayna tidak mengerti, dan kenapa pula ia yang kena semprot. Tadi saat menyampaikan perintah Rangga, ia juga ikut di ketusin oleh Rania.
"Apaan sih, mereka yang bertengkar aku yang di bawa-bawa, kayak anak kecil."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐๐๐๐๐๐๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1