
Tanpa sepengetahuan siapapun, Rania diam-diam mengunjungi ibunya di kantor polisi untuk memperjelas sesuatu. Sebelum memasuki kantor polisi, ia mengepalkan tangannya seraya menghembuskan nafas panjang, mempersiapkan diri akan sesuatu yang akan terjadi.
Ia tidak boleh menangis apa lagi bersedih, itu janjinya pada sang suami. Setelah berbicara dengan polisi tentang tujuannya, Rania duduk di ruang besuk khusus tahanan menunggu sang ibu datang.
Ia bangkit saat melihat ibunya mengulurkan tangan tapi lagi-lagi ditepis. Ok tidak masalah, selama ia sudah berusaha bersikap sopan.
"Ada apa lagi?" ketus Winarti.
Rania tersenyum, ia akan langsung pada intinya, basa-basi pada Winarti tak ada lagi gunanya, pasti ia akan di bentak. Ia mengeluarkan satu lembar foto di dalam tasnya, foto yang ia ambil dari album usang.
"Ibu tau siapa wanita yang mengendong Lia? Apa dia benar ibu kandung aku?" tanya Rania.
__ADS_1
Winarti bergeming dengan tatapan tajamnya. "Ya dia ibumu puas? Sekarang setelah tau kalau kau bukan anak kandungku, kau akan membiarkanku memdekam di penjara tanpa mau berbalas budi?" sahut Winarti sedikit ketus.
Rania memejamkan mata sejenak lalu kembali menatap Winarti. "Lalu dimana ibuku, bu? Kalau memang dia sudah meninggal, di mana makamnya? Dia meninggal karena apa?"
"Ibu!" Rania sedikit menuntut jawaban.
"Apa imbalannya kalau ibu menjelaskan semuanya padamu? Kau bisa membebaskan ibu?"
"Iya, Nia bakal bujuk mas Rangga buat bebasin ibu dari penjara, Nia janji. Jadi Nia mohon beritahu Nia yang sebenarnya!" ucap Rania menyanggupi semuanya walau ia belum yakin Rangga akan setuju.
Rania mengepalkan tangannya, berusaha untuk tidak tersulut emosi agar bisa mendengar cerita selanjutnya. Jika boleh jujur hatinya sedikit sakir mendengar Winarti mengatai ibunya seorang Ja*lang, mereka memang tidak pernah bertemu, tapi entah telinga Rania panas mendengar sebutan itu melekat pada ibunya.
__ADS_1
"Dan saat kamu sadar dari koma, kau menggapku ibumu entah apa alasannya. Karena aku memang suka sama bapak kamu dengan senang hati aku mengantikan posisi nyonya di rumah besar itu. Sayangnya kasih sayang Rama bapak kamu hanya tertuju pada kalian tidak untukku. Aku menyesal menikah dengan Rama apa lagi saat ia jatuh bangkrut dan memutuskan pulang ke kampunya menjadi guru honor dan sok-sok ingin menyekolahkanmu tinggi-tinggi. Puas? Mau tau alasan aku membencimu? Karena Rama tidak pernah menggapku benar-benar istrinya! Dia menikahi karena kau yang meminta!" Winarti langsung menunjuk wajah Rania yang sedang duduk termenung.
Emosi Winarti selalu saja tersulut jika melihat Rania, anak yang merebut cinta suaminya. Malam itu Winarti sengaja menyabotase rem mobil ibu Rania dan berharap keduanya meninggal dunia, dan ia bisa menguasai harta kekayaan Rama. Dulu ia sudah bosan melihat keromantisan Nyonyanya itu.
"Pak polisi!" panggil Rania saat Winarti ingin melukai dirinya. "Saya sudah selesai."
"Jangan lupakan janjimu anak sialan, dasar wanita Jala*ng, aku bersumpah jika kau tidak menepati janji maka kau dan anakmu tidak akan selamat saat melahirkan nanti!"
Jantung Rania berdegup sangat kencang, walau terlihat sangat acuh keluar dari kantor polisi, ia tentu saja terganggu akan sumpah yang baru saja di ucapkan Winarti untuknya.
Ia menunduk seraya mengelus perutnya. "Anak Mama kuat, pasti selamat lahir ke dunia," gumam Rania.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa tebar kembang sebanyak-banyaknya 💃🌹🌹🌹