Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 43 - Menata Hidup Menjadi Lebih Baik.


__ADS_3

"Nenek mau kemana?" Rania berlari menyusul wanita tua yang masih terlihat segar bugar itu saat akan pergi. "Rania ikut boleh?" tanyanya.


Wanita tua itu berbalik seraya tersenyum. "Nenek mau ke ruko depan dulu nak, mau liatin para karyawan nenek," jawabnya menunjuk jalan Raja yang tak jauh dari rumahnya.


Langkah Rania semakin dekat, meraih tangan Nenek Nena. "Rania ikut ya Nek, siapa tau Rania bisa bantu sesuatu," pintanya.


"Kamu harus istrihat di rumah Nia, kamu sedang hamil muda."


"Aku baik-baik aja nenek, lagian Rania nggak kerja apapun di rumah, janji nggak bakal nyusahin."


"Anak ini, yaudah," pasrah nenek Nena membuat Rania tersenyum lebar.


Wanita cantik berbadan dua itu mengikuti langkah nenek Nena hingga sampai di sebuah ruko pinggir jalan.


"Nenek buka jasa jahit?" tanya Rania sedikit cerewet memperhatikan isi ruko yang berisi berbagai macam kain juga gaun yang sudah jadi. Banyak karyawan berkeliaran, juga pelangan.


"Iya, ini usaha nenek dari dulu. Kadang nerima pesanan gaun juga dari pelangan."


"Hebat, Rania boleh ikut kerja juga? Tapi ... Rania nggak bisa jahit," lirihnya.

__ADS_1


"Bisa dong, bantu lipat atau jadi kasir juga nggak papa."


"Boleh?" mata Rania berbinar, ia sangat beruntung mendapat nenek sebaik nenek Nena.


"Asal jangan terlalu lelah, kasian janin kamu." Nenek Nena manarik tangan Rania ke segerombolan karyawan yang sedang istirahat.


"Anak-anak, gimana hari ini? Ada keluhan?"


"Nggak nenek, semua berjalan lancar," jawab salah satu dari mereka.


"Karyan baru Nek?" tanya perempuan berambut pendek seraya melirik Rania.


"Baik Nenek."


"Salam kenal kak Nia."


***


Usai sarapan dan sedikit berbincang dengan orang tuanya, Agas berangkat kuliah seperti biasa, hari ini ia mengendarai motor karena sudah tidak ada Rania.

__ADS_1


Ada sedikit lega di hatinya karena Rania menjauh dari kehidupan Rangga. Bukan maksud untuk merebut kekasih sahabatnya sendiri. Namun, wanita cantik itu sedikit tersiksa juga selalu menjadi bahan gunjingan jika berada di lingkungan Rangga.


Tidak ada yang bisa di benarkan dalam hal ini. Dari sudut manapun Rania tetaplah pelakor. Tapi balik lagi, wanita yang sedang di gunjing dan di hina bukan satu-satunya orang yang bersalah dalam hal ini.


Kenapa hanya seorang perempuan yang di permasalahkan keperawanannya? Lalu bagaimana dengan laki-laki yang sudah tidak perjaka laki? Lebih parahnya mereka bebas memilih pilihan hidupnya tanpa gunjingan, sangat berbeda dengan perempuan yang harus menangung aib.


Bukan hanya wanita yang pantas di gelar murahan, laki-lakipun pantas. Bahkan lebih pantas karena bisa mengagahi beberapa wanita tanpa di hakimi oleh siapapun.


Menurut mereka perempuanlah yang selalu benar. Namun, menurut orang lain, perempuan selalu salah, apapun yang di lakukan perempuan akan selalu salah di mata orang lain, terlebih jika sudah ternoda.


Usai dari kampus, seakan tidak ada lelahnya, Agas langsung menancap gas ke ibu kota untuk menemui Rangga dan memberinya pelajaran. Hatinya belum cukup tenang sebelum menghajar laki-laki itu setelah apa yang di alami Rania.


Perampokan?


Sangat tidak masuk akal, apa lagi saat Agas menyelidikinya. Banyak rumah di sekitar kontrakan Rania yang lebih berada, tetapi kenapa hanya rumah Rania?


Aku tidak ingin anakku mati di tangan keluarga ayahnya sendiri!


Kalimat Rania sudah bisa menjawab pertanyaan Agas tentang perampokan itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2