Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 28 - Gue Bakal Tanggung Jawab


__ADS_3

Rania sengaja tidak makan apapun dari pagi agar rencana yang telah ia susun berjalan lancar. Rasa laparnya akhirnya tertutupi dengan memakan buah Nanas lumayan banyak, hingga Rania hampir muntah karena memaksakan Nanas itu masuk ke mulutnya.


Rasa kantuk menyerang Rania setelah kenyang, ia tertidur di kursi masih dengan Sisa Buah Nanan juga Durian di atas meja.


Rasa perih di bagian perut berhasil membangungkan Rania dari tidur nyenyaknya, Ia memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Memejamkan mata sembari mendesis, ternyata apa yang ia lakukan benar-benar bisa membuat kandungannya dalam bahaya.


Sekuat tenaga Rania membungkam mulutnya agar tidak mengelurkan suara, takut tetangganya datang dan malah membawanya kerumah sakit.


"Aaaahhhhhh, sakit," rintih Rania merosotkan tubuhnya ke lantai, pingang juga perutnya terasa ingin patah.


Ia mengigit bibir bawahanya, saat merasakan cairan kental mengalir di area pahanya. "Maafin Mama Nak, Mama nggak mau kamu lahir tanpa seorang ayah, cukup mama aja yang jadi bahan ejekan orang lain," gumam Rania memadangi darah di pahanya.


Keringat dingin membanjiri pelipis Rania, sekuat apapun ia berusaha agar tidak bersuara, semuanya sia-sia karena rasa sakit yang tak tertahankan.


"Aaaakkkkhhhh, sakit Ibu!" teriak Rania.


Tarikan kesakitan yang baru saja keluar dari mulut Rania berhasil di dengar oleh tetangga sebelah rumahnya.


Wanita paruh bayah yang selalu baik pada Rania segera berlari untuk mengecek kondisi wanita itu, sangat di untungkan pintu rumah tidak di kunci hingga memudahkan dirinya membuka pintu.


Tetangga Rania mengangga tak percaya melihat pemandangan di depanya.


"Ya ampun nak, apa yang Kamu lakukan? Darah? Kamu hamil?"

__ADS_1


Rania mengeleng, menepis tangan ibu-ibu yang ingin menyentuhnya. "Pergilah bu!" usir Rania.


"Tu-tunggu di sini, ibu bakal manggil orang buat nganter kamu kerumah sakit!" panik tetangga Rania hendak pergi tapi tangannya di cengkram sangat kuat oleh Rania.


"Jangan panggil siapapun, aku mohon. Jangan bawa aku kerumah sakit. Ibu boleh pergi dan kunci pintu!" pinta Rania dengan sisa kesadaran yang ada.


"Jangan bodoh nak, janin kamu bisa celaka."


"Itu yang aku inginkan, jadi pergilah!" bentak Rania sebelum kesadarannya hilang.


***


Rania terbangun saat merasakan seseorang mengelus keningnya, perlahan-lahan iya membuka mata dan mendapati Agas duduk di sampingnya.


Agas tersenyum. "Janin lo baik-baik aja, untung ibu-ibu dekat rumah lo angkat telpon gue tadi."


Beberapa jam yang lalu, Agas menelpon Rania untuk memastikan kondisi wanita itu, tapi yang menjawab orang lain dan mengatakan Rania jatuh tak sadarkan diri.


"Mau kemana?" Cegah Agas saat Rania memaksa untuk bangun.


"Kenapa kamu nolongin aku? Dan kenapa Janin aku masih hidup? Kenapa kak Agas jahat sama aku!" bentak Rania.


"Bukan gue yang jahat Rania! Tapi lo! Kenapa lo tega mau ngebunuh anak yang tidak bersalah?" Agas tak kalah emosi, ia kecewa akan keputusan Rania.

__ADS_1


Kenapa ada wanita sekeras kepala Rania? Bukan hanya Janin Rania yang dalam bahaya tadi, tapi juga nyawa wanita itu. Agas tidak akan pernah membiarkan Rania terluka seujung kukupun.


"Buat apa aku pertahanin janin ini kak? Semetara ayahnya sendiri yang menyuruhku? Kak Rangga nggak mau ngakuin anak ini dan mengatakan ini bukan anaknya tapi anak laki-laki lain!"


Agas memeluk paksa Rania Agas tidak terlalu bergerak. "Rangga nggak mungkin seperti itu Ran, dia pengen banget lo hamil, dia nunggu kabar bahagia ini."


"Bohong! kak Rangga jahat," ucap Rania menyembunyikan wajahnya di dada Agas.


"Ok kalaupun benar Rangga nggak mau tanggung jawab, nggak seharusnya lo nyakitin diri seperti ini Ran!" bujuk Agas dengan nada rendah tak seperti tadi. "Lo nggak tau sekhawatir apa gue tadi, gue ngirq anak lo nggak bakal selamat."


"Kenapa kak Agas peduli?"


"Salah?"


Rania terdiam sejenak. "Aku nggak mau anak aku lahir tanpa ayah."


Agas melerai pelukannya, menatap Rania sangat dalam. "Gue nggak percaya Rangga ngomong gitu, tapi kalau itu benar lo nggak perlu khawatir, gue pastikan anak lo nggak bakal lahir tanpa ayah. Gue yang bakal tanggung jawab."


"Jadi berjanji sama gue, jangan pernah berpikir seperti ini lagi ya!"


"Gue pastiin nggak bakal ada orang yang ngehina lo."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2