Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 102 - Album Usang


__ADS_3

Sejak pesan beberapa minggu yang lalu di dapatkan Rania, Wanita itu jadi sangat waspada terhadap dirinya sendiri, apa lagi dengan anak di kandungannya. Ia takut di siksa seperti dulu karena mengingkari janji.


"Sayang, ngalamun mulu, ngapain sih? Akhir-akhir ini kamu aneh, sering diam juga."


"Aku nggak papa mas, mungkin efek hamil," jawab Rania seraya berdiri, merapikan dasi Rangga.


"Mas Rangga beneran bakal lindungin aku sama anak aku kan?" tanya Rania mencari kepastian dalam manik Rangga.


"Ngapain tiba-tiba nanya gitu? Ada yang ngancem kamu? Bilang sama mas. Pastilah mas ngelindungin kalian, kalian tuh harta mas yang paling berharga."


Rania diam sejenak, sebenarnya ia tidak ingin memberitahu Rangga ini, tapi sudah sebulan ia terus mendapat pesan ancaman dari nomor yang berbeda-beda setiap harinya.


"Sayang, mas nggak suka kalau kamu nyembunyiin sesuatu kayak gini."


"Ak-aku selalu dapat pesan dari orang nggak di kenal mas, tapi isinya itu-itu mulu. Pertama kali dapat pesan setelah kejadian rem mobil mas blong," jawab Rania jujur.


Ia kembali menunduk saat merasakan tatapan teduh Rangga berubah tajam padanya. Sekarang Rangga tahu kenapa Rania jadi aneh seperti ini, bahkan sedikit posesif dan melarangnya ini itu apa lagi jika akan pergi di malam hari.


"Kenapa baru sekarang?"

__ADS_1


"Takutnya cuma orang iseng, tapi makin lama aku makin takut mas, maaf."


"Nggak papa, lain kali jangan gini lagi." Rangga mengelus punggung sang istri. "Jangan terlalu di pikiran, mereka nggak mungkin nyakitin kamu, ada mas di sini."


"Beneran?"


"Iya sayang, nggak mungkin mas biarin kalian beruda celaka. Mas berangkat dulu ya, jaga diri di rumah."


"Iya, mas jangan lupa makan siang."


Rania menutup pintu rumah setelah mobil Rangga menghilang di balik pagar. Kini ia sendiri di rumah, Rayna mulai sibuk ospek, sementara Relia sibuk dengan sekolah barunya.


"Dengar sendiri nak, Papa bakal jagain kita jadi Mama nggak boleh panik," gumam Rania mengelus perutnya.


Sekarang kandungannya sudah jalan 6 bulan dan tentu saja semakin besar. Saat memeriksan kandungan bersama Rangga kemarin, dokter mengatakan jenis kelamin anaknya adalah laki-laki, dan sudah mulai aktif di dalam sana.


Rania iseng masuk ke kamar Relia dan menghembuskan nafas kasar. Relia tak serapi Rayna. Kondisi kamar mereka saja sangatlah berbeda, kamar Relia sangat berantakan.


Karena tak ada kerjaan lain, Rania memutuskan membereskan kamar adik bungsunya itu, buku dan sebagainya di simpan pada tempatnya. Ia mengernyit saat melihat buku. Bukan, sepertinya itu bukan sebuah buku melainkan album yang sudah sangat usang.

__ADS_1


Karena penasaran, Rania mengeluarkan album usang itu, kemudian meletakkannya di atas meja, melanjutkan rapi-rapi kamar setelah itu pergi membawa album yang ia dapatkan.


Sesampainya di kamar, Rania membukanya dan tersenyum melihat tiga anak kecil di depan rumah lumayan besar.


Rania, Rayna, Relia.


Rania membaca tulisan di setiap kepala anak balita itu, senyumnya mengembang melihat betapa lucunya dirinya.


"Ih lucu banget." Ini pertama kalinya Rania memihat foto masa kecilnya juga adik-adiknya. Dulu saat usianya 5 tahun, kata bapaknya ia pernah kecelakaan dan sempat koma beberapa minggu.


Di bukannya lembaran berikutnya, dan mendapati foto keluarga lengkap, bapaknya, adik-adiknya tapi seorang wanita yang sedang mengendong bayi bukan Winarti ibunya.


"Apa benar aku bukan anak kandung ibu?" gumam Rania masih tak ingin percaya walau Winarti sendiri yang mengatakan itu saat di kantor polisi.


Rania langsung mengambil foto keluarga itu dan memasukkanya kedalam laci, setelahnya langsung mengembalikan album pada tempatnya.


...****************...


Jangan lupa tebar bunga sebanyak-banyaknya, dan ramaikan kolom komentar💃💃💃🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2