Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Pàrt 75 - Pelan-pelan Mas


__ADS_3

"Aaaahhhhh Mas pelan-pelan nusuknya," desis Rania sembari memejamkan mata, tapi Rangga seakan tuli dan terus melakukannya.


"Sebar sayang, ini juga Mas udah pelan-pelan," sahut Rangga tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Tapi sakit Mas, udah," mohon Rania, air mata kini membanjiri pipinya.


"Nanggunh sayang, dikit lagi."


"Mas!" erang Rania menjambak rambut Rangga saat tusukan itu lepas. "Udah, sakit mas."


"Yah berdarah, padahal pas pertama nggak." Rangga mengusap keningnya senejak, kembali melakukan aktivitasnya, kali ini ia menjilatnya hingga jambakan Rania semakin menjadi.


"Jangan di jambak rambut Mas sayang, nggak busa fokus ini."


"Makanya jangan di jilat geli."


"Biar lebih keliatan."


"Aaaahhhh Mas."

__ADS_1


Rangga bernafas lega setelah tusukannya kembali terlepas, kali ini apa yang ia inginkan tercapai. Pecahan beling di kaki sang istri akhirnya keluar juga.


Laki-laki itu berdiri, menghapus air mata Rania. "Maaf buat kamu nangis, kalau nggak kayak gini, belingnya nggak bakal keluar sayang, ntar infeksi terus kaki kamu di aputasi."


Rangga membimbing sang istri berdiri. "Coba jalan, masih sakit nggak?"


Sesuai perintah, Rania menjejakkan kakinya ke lantai dengan sedikit ringinsan, ya sakitnya tidak seperti tadi.


Salah dirinya juga, Rangga menyuruhnya siap-siap tapi ia malah berjalan kedapur membawa gelas bekas kopi sang suami, karena tangannya berkeringat dan licin, gelas itu jatuh dari tangannya dan pecah.


Rangga sudah memperingatkan agar dirinya tidak bergerak, tapi ia ngeyel dan melewatinya tanpa tahu pecahan beling sangat kecil ada di sekitar meja.


Rania segera meninggalkan Rangga seorang diri di kamar, laki-laki itu hanya bisa mengeleng melihat tingkah istrinya yang terbilang aktif. Tapi memang begitulah Rania sejak awal mereka bertemu, ramah dan murah senyum. Hanya saja beberapa bulan terakhir semua itu sempat hilang dalam diri Rania karena kesalahannya.


Sakit saat Agas menceritakan bahwa selama ini Rania seperti orang introvet, sering menyendiri tak seperti biasanya. Wanita yang dulu aktif dan berubah pendiam dan menghindari banyak orang, bukankah pertanda masalah yang tengah di hadapi sangatlah serius?


Rangga mengernyit saat Rania kembali membawa sebuah kotak sedang. "Kemeja ini pas nggak buat Mas? Ini kemeja bapak dulu, aku beliin pas dapat uang menang dari lomba untuk pertama kali. Tapi bapak nggak sempat pakai karena ...." Rania tak sanggup menceritakan kejadian tragis bapaknya. "Cobain deh."


Dengan penuh senyuman, Rangga mengambil kemeja yang menurutnya tidak buruk, kemudian memasang di tubuhnya. Pas, sangat pas.

__ADS_1


"Cantik banget deh di Mas," girang Rania.


"Pilihan istri Mas nggak pernah salah, buktinya sekarang punya suami tampan, perhatian, pengertian dan juga jago ...."


"Iya deh," lerai Rania kalau tidak, Rangga akan memuji dirinya sendiri hingga puas. Hal itu sudah biasa untuk Rania. Keduanya pacaran cukup lama, dan tahu kebiasan dan sesuatu yang tidak Rangga sukai, begitupun sebaliknya.


"Jago di ranjang pula," bisik Rangga setelahnya tergelak karena wajah Rania yang seketika bersemu merah.


"Mas tunggu di luar ya." Rania mengangguk, setelah Rangga keluar dari kamar, barulah wanita itu menganti bajunya.


Siap dengan dress melewati lutut yang sedikit longar agar perutnya tidak terlalu terlihat, tak lupa ia memakai cardigan sedikit besar, tapi masih pas di tubuhnya.


"Ayo mas," ucap Rania seraya merapikan tasnya.


Ia terkejut saat sesuatu menyentuh telinganya. "Biar nggak dengar apapun," ujar Rangga seraya memasang headset di telinga sang istri, Rangga tidak ingin Rania bersedih karena celotehan tidak berfaedah dari para tetangganya.


Terlebih saat memihat ibu-ibu di pos ronda malah semakin ramai.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2