
Tanpa sepengetahuan Rania, Rangga juga menyuruh Agas untuk menjual mobil sportcarnya untuk membeli rumah yang layak untuk Rania dan adik-adiknya nanti.
Laki-laki itu tidur dalam pelukan Rania. Tubuhnya terasa remuk naik mobil seharian, dan sekarang lelahnya terbayar karena bisa bersatu dengan orang yang sangat ia cintai.
Elusan Rania di kepala Rangga membut laki-laki itu semakin nyenyak. Tak ada aktivitas suami istri pada umunya yang di lakukan di saat malam pengantin.
Getaran ponsel di samping bantal membuat Rania urung menutup matanya, ia segera mengecek siapa yang mengirim pesan tengah malam seperti ini.
"Kak Agas?" gumam Rania.
Agas: Lo udah tidur?
Rania: Belum kak, kenapa? Kak Agas butuh sesuatu?
Agas: Rangga udah tidur?
Rania: Udah
Agas: Lo bisa ke belakang rumah bentar? Gue mau ngomong sesuatu sama lo. Tapi jangan sampai Rangga tau.
__ADS_1
Tanpa membalas lagi, Rania segera meletakkan kembali ponselnya. Bergerak perlahan agar terlepas dari pelukan sang suami.
Rania sempat menahan napas karena Rangga semakin mengeratkan pelukannya. Akhirnya setelah susah paya, Rania terbebas juga. Wanita itu memakai cardigan untuk menutupi tubuhnya, berjalan keluar kamar dan menemui Agas.
Di lihatnya Agas sedang berdiri membelakangi pintu, mendongakkan kepala memandangi bintang yang menemani bulan. Untung saja di belakang rumah Rania ada lampu walau sedikit temarang.
"Kak Agas mau ngomong apa?" tanya Rania setelah berdiri di belakang laki-laki itu.
Agas berbalik dengan senyuman yang sangat manis, salah satu tangannya bertender di saku celana. Penampilan Agas sudah rapi seperti saat tiba tadi.
"Gimana perasaan lo setelah nikah sama Rangga? Bahagia dong."
"Udah gue duga. Malam ini gue bakal balik, baru ingat ada kuliah," ujar Agas.
"Tapi .... udah jam 12 malam kak, kakak nggak ngantuk?" protes Rania.
"Udah biasa juga. Sebelum pergi gue mau ngomong sesuatu sama lo. Terlebih mungkin kita nggak bakal sering ketemu lagi, gue sibuk di Bandung dan lo bakal tinggal di ibu Kota." Agas sedikit bertele-tele demi menetralisir degup jantungnya yang tak karuan.
"Rania gue suka sama lo." Kalimat Agas berhasil membuat Rania mematung.
__ADS_1
Wanita itu sedikit mendongak untuk menatap wajah tampan laki-laki yang selalu ada untuknya. Berusaha mencerna kalimat yang baru saja terucap dari mulut Agas.
Mungkinkah? Tapi kenapa? Dan apa maksud Agas mengutaran ini semua setelah ia sudah menikah. Mungkin jika belum, ia akan mempertimbang sebagai bentuk terimakasih.
"Ka-kak Agas, ak-aku ...," gugup Rania.
"Jangan di potong, biarin gue bicara dulu!" protes Agas. "Gue suka sama lo Rania, jauh sebelum lo pacaran sama Rangga. Lo ingat saat pertama kali kita ketemu?" tanya Agas di jawab anggukan oleh Rania.
Bagaimana wanita itu bisa lupa, sejak pertama kali bertemu, Agas sudah menjadi malaikat penolongnya. Hari pertama Ospek, Rania mendapat hinaan sebagai gadis miskin dan kampung karena pakaiannya, dan Agas bak panggeran datang membela Rania. Dengan kalimat yang sampai sekarang tak mungkin Rania lupakan.
Memangnya kenapa kalau dia gadis kampung? Apa gadis kampung nggak pantas menempuh ilmu di Kota? Harusnya kalian malu sama gadis kampung, dengan serba kerbatasan fasilitas sekolah, mereka bisa mendapat beasiswa. Anak kota bukan berarti mereka pintar dan jauh lebih segalanya.
Apa gadis kampung nggak pantas di hargai? Bukannya mereka juga manusia?
Dan saat itu juga tidak ada lagi yang mengolok-olok Rania, terlebih setelah mengenal Rangga lewat Agas sendiri.
"Saat itu, gue langsung tertarik untuk ngenal lo lebih dekat lagi."
...****************...
__ADS_1