Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 139


__ADS_3

Karena kecelakaan yang terjadi dan membuat Melisha harus di larikan kerumah sakit, alhasil penanggakapan tetunda. Tapi tetap saja ruang rawat Melisha di awasi 24 jam oleh polisi secara bergantian.


Keputusan telah keluar, dimana setelah Melisha keluar dari rumah sakit, maka pihak polisi akan menjemputnya dan akan tinggal di balik jeruji besi seraya menunggu keputusan hakim.


Kali ini Alana turun tangan menjadi pengacara Rania sebagai penuntut, dan Rangga mengajukan penjaran seumur hidup, berharap gugatannya di setujui oleh hakim.


Hari ini, Rangga berkunjung ke rumah sakit bersama Rania, bukan untuk menjenguk. Melainkan mengantar surat cerai yang baru saja keluar beberapa hari yang lalu.


Dan mendengar bawah Melisha sudah siuman, Rangga memutuskan untuk menemuinya tanpa membung waktu lagi. Rangga tidak sabar untuk menjadikan Rania istri seutuhnya, sah di mata agama maupun hukum.


Berbeda dengan Rangga, Rania masih mempunya sedikit simpati pada mantan istri suaminya itu, di lihat apa yang di lakukan Rania sekarang. Wanita itu langsung mempertanyakan keadaan Melisha.


"Gimana keadaan kak Melisha? Apa jauh lebih baik?" tanya Rania tulus.


"Kenapa? Apa kau tidak sabar ingin melihatku mendekam di penjara?"


"Iya!" jawab Rangga tegas. "Tidak ada maaf bagi iblis sepertimu. Mungkin jika hanya sekali percobaan, aku masih punya hati, tapi tidak untuk 5 kali percobaan!" tegasnya.

__ADS_1


"Aku kesini buka ingin melihat keadaanmu, tapi aku menginginkan tanda tanganmu." Rangga menyerahkan surat cerai pada Melisha.


Wanita itu tertawa menatap Rania dan Rangga secara bergantian. "Apa kau mengira aku akan menandatanganinya? Itu tidak akan terjadi. Selamanya aku tidak akan rela jika Rania menjadi istrimu!" bentak Melisha melempar pulpen di tangannya.


Sampai kapapun, Rangga hanya akan menjadi miliknya, harta dan kekayaanpun sama. Ia ingin menjadi nyonya satu-satunya. Jika ia melepaskan Rangga maka ia akan hidup sengsara dan tidak akan di pandang hormat lagi oleh siapapun.


"Kau yakin tidak ingin menandatanganinya? Kau tahu sendiri, sebelum surat cerai ini di tanda tangani kau tidak akan mendapatkan warisan sedikitpun. Ada atau tidaknya tanda tangamu, Rania akan tetap menjadi istriku." Rangga senyum sinis, mengambil kembali kertas itu, lalu menarik Rania pergi dari sana.


Namun, langkahnya terhenti karena kalimat Melisha. "Aku akan menandatanginya, tapi ringankan hukumanku!"


"Akan aku pikirkan," jawab Rangga.


Senyuman Rangga mengembang setelah keluar dari ruang rawat Melisha. Akhirnya sekarang ia benar-benar terbebas dari wanita licik itu. Mengurangi hukuman, itu tidak akan terjadi. Kalau perlu, Rangga ingin menghukum mati Melisha.


Alasan ia ingin menghambiskan uangnya untuk merawat wanita itu, karena tak ingin Rania hidup dalam rasa bersalah dan menganggap dirinya pembunuh.


"Mas Rangga!" panggil Rania yang sedari tadi terdiam, sedikit iba akan kondisi Melisha, tapi juga tidak ingin jika wanita itu berkeliaran lagi dan membahayakan dirinya juga anaknya.

__ADS_1


"Kenapa sayang?"


"Perut aku keliatan aneh nggak mas? Aku ngerasa kok makin turun ya?" khawatir Rania.


Perut yang dulu buncit rata, kini sedikit merosot kebawah, dan Rania takut terjadi sesuatu pada bayinya.


"Kamu ngerasain sakit yang?" Rania mengeleng.


"Ya udah sebelum pulang kita mampir ke dokter Obgyn dulu biar lebih pasti."


"Iya mas," gumam Rania.


"Makin hari kok kamu makin seksi sih yang," bisik Rangga seraya membuka pintu mobil untuk Rania, bahkan ia mengambil kesempatan untuk mengecup bibir sang istri.


"Itu mah otak mas aja," jawab Rania.


...****************...

__ADS_1


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2