Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 49 - Aku mencintaimu Mas!


__ADS_3

Emosi Rangga kian tak tertahankan, saat masuk ke ruanga pribadinya dan tak mendapati buku satupun. Ia kembali ke lantai dasar, menatap Melisha yang bisa saja menjadi tersangka utama.


"Dimana semua buku yang ada di dalam ruangan aku!" tanya Rangga dengan nada membentak, mungkin jika ia punya riwayat penyakit jantung, ia sudah wafas sejak tadi karena naik darah menghadapi kelakuan istrinya sendiri.


Wajah lugu dan suara lemah lembut tak menjamin hati yang baik, contohnya Melisha, Rangga dan Ibunya sampai tertipu.


"Aku sudah membakarnya!" jawab Melisha.


"Rangga, sudah!" lerai Edwin.


"Diam kau!" murka Rangga.


"Sebenarnya apa yang kau ingingkan Melisha? Jika kau hanya butuh harta orang tuaku, kau bisa mengambilnya tanpa menghalangi cita-citaku. Dengan aku sukses, maka aku bisa menceraikanmu lebih cepat!"


"Sudah aku katakan aku mencintaimu mas, aku melakukan ini semua agar kau tidak meninggalkanku. Aku tahu setelah bercerai saham yang di percayakan ibumu akan jatuh ketanganku, itulah mengapa aku tidak ingin kau mendapatkan perkerjaan dan berakhir meninggalkanku!"


"Dan kedua aku benci seorang dokter! Dokter bagiku adalah pembunuh mas! Karena dokter ayahku meninggal!" teriak Melisha tak kalas histeris.


Katakan ia di butakan akan cinta suaminya, apa itu salah? Ia selalu berusaha menarik perhatian Rangga tapi laki-laki itu tidak pernah meliriknya sedikitpun.


Tidak mendukung Rangga? Jawabannya sudah jelas, ia tidak ingin di tinggalkan.

__ADS_1


Menyakiti Rania? Apa itu salah?


"Itu bukan kesalahan dokter, dan dokter bukan seorang pembunuh, ayahmu meninggalkan karena sudah takdirnya, kenapa pikiranmu sangat sempit?"


"Tidak, ayahku tidak akan meninggal jika dokter tidak teledor!"


"Cukup! Aku tidak melarangmu membenci seorang dokter! Tapi jangan halangi aku karena kebencianmu itu!"


"Nikmatilah semua kekayaan ibuku!"


Usai meluapkan emosinya, Rangga meninggalkan mansion mewah itu, melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata menuju kota Bandung untuk menemui Rania.


Sayangnya saat sampai di kontrakan wanita itu, ia tak menemukan siapapun.


"Nak Rangga?" sapa tetangga yang selalu menolong Rania. "Kemana aja ibu baru liat? Nak Rania sudah tidak tinggal di sini, setelah seseorang memasuki rumahnya dan menyiksa nak Rania. Dia juga sudah tidak melanjutkan kuliahnya."


Rangga memejamkan mata mendengar penuturan tetangga Rania. Rasa bersalah kian menjalari hatinya, kenapa ia tak pernah tahu kondisi Rania? Kenapa ia begitu bodoh selama ini?


"Ibu tau Rania ada di mana?" tanya Rangga penuh harap.


"Ibu nggak tau nak," jawab wanita itu.

__ADS_1


Rangga meninggalkan kontrakan Rania dengan penuh rasa kecewa. Jangan sampai Rania benar-benar meninggalkan dirinya.


"Bodoh, lo emang bodoh Ga. Nggak ada perempuan yang akan bertahan dalam sebuah hubungan tanpa kepastian, terlebih dia sedang hamil," lirih Rangga, ia mengusap wajahnya kasar. Maniknya mulai berkaca-kaca karena takut kehilangan.


"Maaf, gue emang bodoh Ran," gumam Rangga.


Rangga terus menghubungi Rania. Namun, sialnya, kontaknya di blokir oleh wanita itu, membuat perasaan Rangga semakin kalut.


Dengan tak tahu waktu, Rangga menelpon Agas, padahal jam sudah menunukkan angka 3 pagi. Beberapa panggilannya tidak di jawab, tapi Rangga tak putus asa.


"Rania ada dimana?" tanya Rangga langsung pada intinya, setelah Agas menjawab panggilannya.


"Gue nggak tau, cari aja sendiri," jawab Agas.


"Agas sialan!" bentak Rangga.


"Udah telat, lo nggak usah nyari dia lagi. Sepertinya dia udah bahagia tanpa lo."


Tut


Shiitt

__ADS_1


Rangga memukul setir mobilnya karena emosi.


...****************...


__ADS_2