Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 122- Apa Aku Boleh Egois?


__ADS_3

"Maafin mas karena buat kamu dalam bahaya," gumam Rangga membenamkan bibirnya di puncak kepala sang istri. Mengelus pipi Rania yang masih memerah itu.


"Maafin aku juga udah bentak mas semalam. Aku takut."


"Sssttthh, mas ngerti, dan mas nggak marah sama sekali."


Atensi keduanya harus teralihkan karena kedatangan sepasang suami istri yang tak lain rekan kerja Rangga.


"Eh ganggu ya?" tanya Alana tak enak karena masuk begitu saja.


Ia ikut khawatir setelah Arga menceritakan kejadian kemarin padanya. Ya Arga tahu Rania dari Alana yang memintanya untuk tidak macam-macam pada Relia di sekolah.


"Nggak kok kak, masuk aja. Makasih udah mau repot-repot jengunkin aku," jawab Rania melerai pelukan Rangga. Memperbaiki posisi duduknya.


"Gimana kadaan kamu sama anak kamu, baik kan nggak ada cedera serius?"


"Nggak ada kak, cuma kata dokter harus jaga emosi dan jangan banyak pikiran."

__ADS_1


Alana mengangguk mengerti, tujuannya kesini bukan hanya untuk menjenguk Rania tapi ada sesuatu yang ingin ia katakan.


"Arga udah bawa orang itu ke kantor polisi, tuntut dia sebagai kasus percobaan bunuh diri, biar aku yang jadi pengacaranya. Aku suka kesal sama orang jahat kayak gitu. Hidupnya mungkin kurang bahagia," ujar Alana sedikit mengerutu kesal saat mendengar cerita lengkap dari Arga.


"Terimakasih untuk kesediaanya Bu Alana. Tapi saya rasa itu tidak perlu. Kalau dia di penjara otomatis saya tidak akan tahu siapa pelaku sebenarnya. Saya ingin menyeselaikannya dengan cara saya sendiri," sahut Rangga sedikit tidak setuju akan tawaran Alana.


Kalau saja tak memikirkan perasaan orang yang berniat baik padanya. Mungkin Rangga akan mengatakan bahwa untuk saat ini ia tidak percaya apa itu hukum. Semua orang akan berpihak kepada orang yang beruang.


Tapi orang yang ada di hadapannya adalah orang yang banyak membantunya selama ini.


"Tidak masalah pak Rangga, kita menghargai keputusan kalian. Oh iya saya ada no seseorang yang mungkin bisa bantu." Alana mengambil kartu nama di dalam tasnya lalu menyerahkan pada Rangga.


"Saya pamit kalau gitu masih ada urusan." Alana berdiri di ikuti Alvi yang setia diam sedari tadi, karena memang sikap pria itu sedikit dingin dan tidak banyak bicara.


Sepeninggalan sepasang suami istri itu, Rangga melempar senyum hangatnya pada Rania. Satu yang ia kesalkan pada istri cantiknya, terlalu baik dan naif hingga mudah memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain.


"Kali ini jangan cegah mas melakukan sesuatu!" ujar Rangga tegas walau masih dengan senyuman.

__ADS_1


Rania mengeleng, kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Rangga. "Nggak akan, aku mau dia dapat hukuman karena mau bunuh anak aku. Apa itu salah?"


"Nggak sama sekali. Terkadang bersikap egois itu perlu sayang. Sebelum memikirkan orang lain, kita harus memikirkan diri kita dulu."


"Aku boleh egois nggak biarin Mas Rangga pergi tanpa aku? Aku takut di tinggal sendiri, aku takut orang itu datang lagi dan mau bunuh anak aku."


Cup


Cup


Cup


"Boleh banget, mas nggak keberatan kalau kamu ngintilan mas terus, suka malah. Kedepannya mas nggak bakal ninggalin kamu sendirian lagi, mas janji." Rangga tak henti-hentinya menghujani wajah Rania ciuman bertubi-tubi. Ia hampir gila melihat istrinya jatuh pingsang semalam.


Ingin melampiaskan rasa marahnya karena tidak becus menjaga Rania, tapi tidak tahu pada siapa, alhasil ia hanya menangis di sela-sela menunggu Rania sadar. Sekarang Rangga sangat mengantuk, dari semalam belum tidur karena khawatir.


Rania semakin mengeratkan pelukannya pada Rangga. Memejamkan mata menikmati rasa nyaman yang ia rasakan. Apa lagi Rangga kini mengelus punggungnya seraya mengumamkan kata cinta untuknya.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa tekan Vote dan Fav yaw😘


__ADS_2