Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 40 - Ayo Kita Pergi!


__ADS_3

Agas menghapus air mata Rania dengan ibu jarinya. Kini mereka berdua ada di dalam mobil. Rania terus menangis sesegukan, dadanya terasa sesak mendapat hinaan bertubi-tubi.


"Jangan nangis lagi, hal seperti ini nggak pantas di tangisi," ucap Agas menenangkan.


"Sebenarnya gue nggak pantas ngomong gini dan nyuruh lo berhenti nangis. Gue tau ini sulit buat lo. Sabar ya Ran."


"Aku bukan penggoda kak," lirih Rania. "Aku pacaran sama kak Rangga sebelum tahu statusnya, dan saat tahu dan mulai menjauh, aku malah hamil," lirih Rania seraya mengatur nafas. Hidungnya mulai tersumbat karena terus menangis.


"Gue rindu Rania yang dulu. Rania yang selalu ceria dan tertawa bukan lemah dan sering menangis seperti ini."


Agas tak henti-hentinya menengkan Rania, setelahnya mengantar wanita itu pulang ke kontrakannya. Bukannya pulang setelah mengantar, Agas malah ikut masuk kerumah Rania.


Laki-laki itu mengernyit heran melihat koper lumayan besar ada di ruang tamu. Ia menatap Rania. "Lo mau pergi?" tanyanya dengan intonasi tak biasa.


"It-itu aku ...."


"Kemana?" tanya Agas di jawab gelengen oleh Rania.

__ADS_1


Sampai sekarang wanita itu belum tahu mau kemana.


"Lo serius mau pergi dari hidup Rangga?"


Rania menunduk seraya menganggukan kepalanya membuat Agas menghela nafas panjang.


"Kenapa nggak jujur sama gue Ran? Jadi tujuan lo minjem uang buat pergi? Kalau gue tau, nggak bakal gue kasih,"


"Aku janji bakal bayar kak, aku nggak bakal lari kemanapun."


"Bukan itu yang gue maksud Ran!" Suara Agas meninggi. "Gue nggak mau lo pergi sendiri dalam kondisi hamil seperti ini. Bisa nggak sekali aja lo nggak keras kepala? Jangan mikirin diri sendiri, tapi pikiran anak lo juga."


Rania berjalan kekamarnya untuk mengambil tas. "Makasih selama ini kak Agas peduli dan selalu lidungin aku," ucap Rania seraya mengerek kopernya keluar dari rumah kontrakannya.


Namun, langkahnya berhenti kerena cekalan Agas yang lumayan keras. "Lo mau pergi dan menjauh dari Rangga 'kan? Maka ikut gue, gue bakal pastikan Rangga nggak bakal nemuin lo," ucap Agas dengan tegas, memgambil alih koper di tangan Rania kemudian memasukkannya kedalam bagasi.


"Tunggu apa lagi? Lo mau pergi kan? Ayo." Panggil Agas. Namun, Rania tetap bergeming di tempatnya.

__ADS_1


Merasa tidak yakin pada Agas, terlebih laki-laki itu sangat dekat dengan Rangga. Ia juga tidak ingin bergantung lagi pada siapapun.


"Aku bisa pergi sendiri, kenapa kak Agas selalu ikut campur urusan aku? Apa kak Agas nggak punya kehidupan sendiri?"


Pergerakan Agas yang hendak membuka pintu terhenti, ia menatap Rania dengan tatapan yang sulit di artikan. "Gue punya kehidupan sendiri, tapi hidup gue lebih berwarna saat di dekat lo. Lo orang paling penting di hidup gue, jadi berhenti pertanyakan kebaikan gue selama ini!" Suara Agas bergetar juga terdengar sangat dingin.


"Setelah tahu lo hamil dan Rangga menghilang, hari itu juga gue mau bawa lo pergi Ran. Tapi gue hargai keputusan juga perasaan lo yang masih ingin bertahan. Sekarang lo mau pergi dari hidup Rangga dan memulai hidup baru? Gue bakal bantu semampu gue."


"Kak ... kak Agas suka sama aku?"


Agas tertawa. "Gue nggak bilang suka sama lo Ran. Dan gue nggak tau perasaan gue sama lo seperti apa, intinya gue mau ngelindungin lo dari orang-orang yang selalu menyikitin fisik dan hati lo."


"Lo mau ikut kan sama gue?"


Rania bergeming, ia takut mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


"Nenek gue tinggal sendiri di kota lain, lo bisa tinggal di sana nemenin dia. Gue nggak bakal tinggal di sana, setelah nganter lo, gue bakal balik. Terlebih gue masih kuliah."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2