Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 107 - Stasiun Tv


__ADS_3

Rangga duduk di sofa ruang tamu menunggu sang istri bersiap-siap untuk ikut dengannya ke acara hiburan yang di maksud semalam. Sebenarnya masih lama, tapi ia ingin membawa Rania ke salon terlebih dahulu sebelum ke acara.


Kali ini Rangga akan membiarkan Rania tampil cantik walau sedikit tak rela. Namun, semua ini lakukan demi wanita itu juga.


Rangga sesekali melirik arloji di pergelangan tangannya, baru saja akan menyusul ke kamar, sang istri sudah keluar dengan pakaian sederhana tapi terlihat sangat cantik dan anggun.


Ia berdiri dan segera mengamit pinggang sang istri, membukakan pintu seperti ratu. Ya memang Rangga menganggap Rania adalah ratu di hati juga rumahnya.


"Adik-adik kamu nggak sekalian Yang? Mas lewatin sekolah sama kampus mereka loh," ujar Rangga urung menjalankan mobilnya.


Rania hanya melirik sekilas, tumben sekali Rangga berkata seperti itu, biasanya rela mengeluarkan uang buat ongkos daripada harus berangkat bersama.


"Bukannya mas nggak mau ya?" tanya Rania balik.


"Ya mas nggak mau karena nggak ada kamu sayang. Sekarang kamu ikut, jadi nggak masalah kalau mereka ada di mobil mas," jawab Rangga.


Rania mengangguk mengerti, hendak turun tapi tangannya malah di tarik oleh sang suami. "Nggak usah turun ntar cape, telpon aja!" perintah Rangga.


Lagi-lagi Rania hanya mengangukkan kepalanya, menelpon Rayna untuk segera menyusul ke mobil. Sedikit lama menunggu, akhirnya kedua gadis belia itu muncul juga dan membuka pintu mobil.


Rayna mengeluarkan laptop di dalam tasnya, kemudian menyerahkan pada Rania, ia lupa mengembalikannya di rumah.


"Punya bang Rangga mbak," ujar Rayna.


"Bawa aja dulu, siapa tau ada tugas lain," sahut Rangga tanpa menoleh sedikitpun.

__ADS_1


"Oh ... oke bang, makasih."


"Hm."


Relia? Gadis itu sangat jarang ngomong, memang dasarnya seperti itu, ia akan ngomong jika di ajak bicara saja atau ada keperluan.


***


Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya Rania selesai dari salon. Awalnya wanita itu menolak, menganggap semuanya berlebihan, tapi jangan lupa sikap pemaksa Rangga yang kadang kumat tiba-tiba.


Laki-laki itu tersenyum melihat wajah sang istri yang berseri-seri dan juga tambah cantik. Rangga mengenggam tangga mungil itu.


"Mas jadi nggak yakin," gumam Rangga, belum apa-apa hatinya mulai di landa rasa cemburu melihat kecantikan sang istri.


"Huh?"


"Ya udah sih mas tenang aja. Sebanyak apapun yang liat, kan aku tetap milik mas," jawab Rania santai menyandarkan kepalanya di lengan sang suami yang tengah menyetir dengan sebelah tangannya.


Lama keduanya berkendara hingga sampai di perusahaan hiburan yang di maksud Lingga, Rangga tak langsung turun, ia menghubungi sekretarisnya terlebih dahulu.


Setelah memastikan Lingga sudah ada di dalam, barulah Rangga menyusul. Sepanjang melewati para karyawan atau staf-staf lainnya menuju ruangan tempat pertemuan, Rania memasang senyum manis, karena memang ia ramah pada semua orang.


"Jangan senyum mulu sayang, apa lagi sama laki-laki, kalau ngelanggar mas bakal hukum pulang nanti," bisik Rangga.


"Ya ta-tapi kan mereka senyum lebih dulu," gugup Rania mendapat tatapan tajam Rangga.

__ADS_1


"Ck, tetap aja mas nggak rela."


Keduanya berbelok sebelah kanan setelah keluar dari lift dan bertemu Lingga di depan sebuah ruangan. Laki-laki itu langsung membuka pintu mempersilahkan bosnya masuk bersama sang istri, di dalam sana sudah banyak orang ya siap dengan pekerjaan masing-masing dengan kamera di tangan.


Ya Rangga di undang ke stasiun Tv, sebagai bintang tamu.


"Halo pak Rangga, senang bisa bertemu dengan Anda secara langsung," sambut pak Rayyan seseorang yang mengundang Rangga, sekaligus Direktur stasiun Tv yang lumayan terkenal di kalangan masyarakat.


"Senang juga bertemu dengan anda pak Rayyan. Oh iya kenalkan, dia istri saya namanya Rania," ujar Rangga memperkenalkan sang istri setelah berjabat tangan dengan pak Rayyan.


Keduanya duduk di sebuah sofa, menunggu acara di mulai, juga brifing topik yang akan di bicarakan saat di depan kamera nanti.


Rangga membaca beberapa pertanyaan yang akan di tanyakan nanti, setelah membacanya ia melirik pak Rayyan sebentar.


"Kenapa pak Rangga? Apa pertanyaan kami ada yang kelewat batas?"


"Ah tidak pak, saya hanya ingin mengajukan satu permintaan," jawab Rangga.


"Silahkan!"


"Tolong di akhir acara, di tambahkan pertanyaan tentang pasangan," pinta Rangga.


"Ini serius pak? Wah tentunya bakal seru, mereka pasti penasaran tentang ini. Sebenarnya kami sudah berniat, tapi berpikir itu terlalu privasi. Karena pak Rangga yang meminta makan kami akan melakukannya."


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa tebar kembang sebanyak-banyaknya.💃💃💃💃💃🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Uhuy, apa yang bakal di lakuin babang Rangga? Kok kayak rencanain sesuatu?🤭


__ADS_2