
Rania menatap nanar taman yang bisa ia lihat dari ruang rawatnya. Ia memikirkan semua perkataan Agas tadi.
Anak itu anugerah dari Allah Ran, bukan sebuah aib apa lagi beban. Banyak orang di luar sana pengen punya anak tapi nggak bisa. Seharusnya lo senang di beri tanggung jawab besar seperti ini walau di waktu yang nggak tepat.
Rawat calon anak lo, sayangin dia, setidaknya buat dia jadi tujuan hidup lo sekarang. jangan terus putus ada dan diam di tempat seperti ini. Gue siap jagain lo, dan ada di saat lo butuh, gue janji.
Gue kenal Rangga sejak SMP dan tau dia luar dalam. Sebejat dan segoisnya dia, dia nggak mungkin ngingkarin janji gitu aja. Mungkin saja di sana dia lagi berjuang buat lo.
Isi otak lo dengan pikiran-pikiran positif, jangan sedih berlarut-larut. Orang yang membenci lo bakal tertawa saat liat lo rapuh.
Rania menitikkan air matanya, menyesal karena hampir membunuh darah dagingnya sendiri. "Maafin mama," gumam Rania. "Mama janji bakal jagain kamu sampai lahir."
"Udah bangun ternyata," ucap seseorang membuat Rania menoleh. "Gimana perasaan lo udah lega setelah di tinggal sendiri?" tanya Agas.
Laki-laki itu sengaja meninggalkan Rania seorang diri beberapa jam, hanya untuk menengkan diri.
"Udah kak, makasih."
__ADS_1
Agas hanya mengangguk. "Kata dokter lo boleh pulang, tapi tetap jaga kesehatan. Gimana sih lo, harusnya lo itu bisa jaga kesehatan tanpa di beritahu. Lo itu calon dokter, tahu mana yang baik dan buruk bagi kesehatan lo sendiri," omel Agas.
"Aku janji bakal jaga kesehatan dan anak aku," ucap Rania yakin.
Bukannya senang, Agas malah mencebik dengan raut wajah kesal. "Gue nggak mau pegang janji lo lagi."
"Kali ini aku beneran janji kak," ulang Rania.
"Nggak bohong lagi?" tanya Agas memastikan di jawab anggukan oleh Rania.
***
"Kalau ada sesuatu yang ibu dengar di rumah calon istri saya, tolong segera kabarin ya bu," ucap Agas menyerahkan no nya pada wanita paruh baya itu.
"Iya nak. Oh iya, kamu pacar baru Rania? Kemarin-kemarin lain lagi."
"Ah iya bu, tolong calon istri saya di jaga dengan baik." Sopan Agas setelahnya kembali menemui Rania di rumahnya.
__ADS_1
Agas duduk di kursi rotan sembari memperhatikan Rania yang berjalan mendekat sembari membawa secangkir teh.
"Kak Agas dari mana?"
"Dari tetangga sebelah, nitip kamu.",
"Kok di titip, aku bukan barang," protes Rania di jawab senyuman oleh Agas.
"Gue udah bicara sama bos lo di Cafe. Gue bilang lo nggak bakal kerja lagi jadi Waitress."
Rania memelototkan matanya, baginya ini sudah terlalu lancang, bukan mudah mencari pekerjaan part time di kota. Jika ia berhenti kerja ia mau makan apa? Tidak mungkin ibunya berbaik hati mengirimi ia uang.
"Tenang aja, lo tetap bisa nyanyi di sana kata Dewi. Lagian kerja saat hamil bagi gue itu nggak baik deh. Sebenarnya nyanyi gue juga nggak setuju, tapi mau gimana lagi, lo nggak bakal mau nerima uang dari gue."
Rania bernafas lega mendengar kalimat selanjutnya. "Makasih kak."
"Bosan gue dengarnya." Agas beranjak. "Jangan lupa istirahat, gue pulang."
__ADS_1
"Hati-hati kak."
...****************...