
"Nia?" Rania yang hendak masuk ke kamar segera mengurungkan niatnya saat mendengar panggilan dari nenek Nena.
Wanita berbadan dua itu segera menghampiri nenek Nena di ruang tamu. "Ada apa Nek? Nene butuh sesuatu?" tanyanya sopan.
"Duduk dulu, Nenek mau bicara sama Nia!" ujar sang Nenek.
Menuruti apa kata wanita tua itu, Rania duduk di samping nenek Nena. "Bicara apa Nek? Rania punya salah ya?"
Nena menggeleng. "Nenek mau cerita-cerita aja sama Nia, boleh kan?"
"Boleh Nek," jawab Rania seraya mengangguk.
"Bukannya nenek mau ikut campur tentang masalah yang kamu hadapi. Nenek di sini cuma mau ngasih patuah dikit." Nenek Nena mengenggam tangan Rania.
"Nenek tidak tahu apa masalah kamu dengan suamimu Nia. Tapi ada pepatah yang mengatakan, jika kukumu tidak sengaja melukai tubuhmu, jangan pontong tanganmu, tapi potonglah kukumu." Nenek Nena menjeda. "Sama halnya dengan hubungan nak. Kalau ada masalah dalam sebuah hubungan, jangan putuskan hubungannya, tapi selesaikan masalahnya," ucapnya.
Rania menunduk, entah apa yang harus ia katakan pada Nenek Nena. Karena kebohongan Agas yang mengatakan dirinya sudah bersuami dan sedang bertengkar, ia harus ikut berbohong juga.
Bagaimana aku bisa menyelesaikan masalahnya Nek, sementara yang menjadi masalah adalah aku sendiri, aku yang menjadi orang ketiga di antara hubungan mereka.
__ADS_1
Rania tersentak saat pundaknya di elus oleh tangan keriput. "Nenek hanya memberitahumu, bukan tidak suka kamu tinggal di sini, tapi nenek tidak mau Nia salah langkah untuk kedepannya. Kalaupun memang hubungan kalian tidak bisa di perbaiki lagi, jangan di paksakan."
"Iya Nek," lirih Rania.
"Suami kamu tidak main tangan 'kan? Yang Nenek takutkan adalah laki-laki yang sering main tangan pada istrinya, laki-laki seperti itu tidak pantas untuk di pertahankan. Itu tandanya dia ringan tangan, dan tentu saja kesalahan yang sama akan terulang lagi saat kalian bertengkar."
Rania tak tahu harus mengatakan apa pada Nenek Nena, terlebih ia belum menikah. Entah apa reaksi wanita tua itu saat tahu yang sebenarnya, mungkin ia akan di usir juga dari sini.
"Itu aja yang ingin Nenek katakan, sekarang kamu istirahat, udah tengah malam juga," ucap nenek Nena mengakhiri pembicaraan.
"Nenek juga jangan lupa istirahat," ucap Rania beranjak dan masuk ke kamar.
Mata yang akan terpejam itu kembali terbuka mendengar deringan ponselnya, ia tersenyum melihat siapa sang penelpon.
"Halo kak Agas," ucap Rania setelah sambungan terhubung.
"Malam bumil, gimana? Seru nggak di sana?"
Rania mengangguk padahal Agas tidak akan melihatnya. "Seru kak, nenek juga baik sama aku. Oh iya aku kerja di toko jahit nenek."
__ADS_1
"Emang lo pintar ngejahit?"
"Nggak, tapikan bisa belajar kak, nenek juga mau ngajarin."
"Antusias banget, dari suaranya lo emang lagi bahagia sih. Senang dengarnya."
"Ini berkat kak Agas," jawab Rania.
"Salah. Bukan berkat gue, tapi berkat lo sendiri. Mau gue ajak lo keliling dunia sekalipun, kalau emang lo nya nggak mau bahagia sama aja." Ralat Agas.
"Tapi tetap aja ...."
"Iya deh, debat sama bumil salah mulu perasaan. Eum ... gue mau ke sana lusa, lo mau nitip sesuatu? Bukan ngunjungin lo, tapi gue cuma kangen sama Nenek." bohong Agas.
"Tau kok, nggak mungkin juga kak Agas kangen sama aku. Kak Agas mau nggak beliin aku buah Naga? Satu aja ... eh dua deh," lirih Rania tak enak, tapi ia ingin makan itu.
"Boleh, nanti lusa gue kesana pasti bawa. Udah dulu ya Ran, gue ngantuk, dah."
...****************...
__ADS_1