Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 109 - Bukan Aku Ternyata


__ADS_3

Setelah wawancara berlangsung, Rania dan Rangga pamit undur diri pada direktur yang mengundangnya. Selama melewati lobi, Rangga tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari sang istri, membuat beberapa staf iri melihat kemesraan keduanya.


Bagaimana tidak, mereka semua menyaksikan siaran langsung yang sedang terjadi di mana kemesraan mereka di umbar, apa lagi tatapan Rangga yang penuh cinta setiap kali membahas Rania.


"Istri mas cantik bangeett," puji Rangga setelah mereka di dalam mobil. Laki-laki itu memajukan tubuhnya untuk membantu sang istri memasang seatblet.


Cup


"Mas, kok di cium?" protes Rania saat Rangga mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Ck." Rangga hanya berdecak, langsung menarik tengkuk Rania kemudian *******, menyesap bibir yang merah itu karena lipstik. Ia menghapus lipstik yang ada di bibir sang istri dengan bibirnya.


Sudah cukup Rangga mempertontonkan istri cantiknya di depan semua orang, sekarang tidak lagi. Cantik Rania hanya untuknya seorang.


"Eeeuummm." Rania langsung mendorong tubuh Rangga saat akan kehabisan nafas. Meraup oksigen sebanyak-banyaknya. "Mas mau bunuh aku?" tanyanya dengan nafas tersengal-sengal.


"Galak banget bumilnya Rangga," gumam Rangga mengusap bibir Rania seraya memandangnya penuh cinta. "Sekarang semua orang sudah tau kamu istri mas, jadi kalau ada yang ngatain lagi, lawan oke?"


"Iya."

__ADS_1


"Termasuk kalau ketemu Melisha! Dia cuma mantan, sementara kamu istri mas, jangan takut sama dia, mas akan selalu bela kamu."


"Iya." Hanya itu jawaban yang terus keluar dari mulut Rania, wanita itu masih sibuk mengatur nafas.


Rania membalas tatapan cinta Rangga setelah nafasnya kembali normal. "Mas aku boleh nanya sesuatu?"


"Apa sayang?"


"Sambil nyetir aja biar sampai di rumah lebih cepat."


Rangga mengangguk, mulai menyalakan mobilnya untuk meninggalkan basemen bawah tanah.


"Mau nanya apa?"


"Nggak pernah, kalau mas mabuk, mas nggak pernah pulang kerumah. Itu yang mas takutkan makanya nggak pernah nyentuh dia," jawab Rangga. "Kenapa sayang? Kamu takut Mas bakal balik karena dia hamil, itu nggak mungkin terjadi." Rangga mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala sang istri.


Rania mengangguk mengerti dengan senyumannya, sekarang tidak ada yang perlu di takutkan lagi. Teror yang sering mengintainya juga sudah tidak ada sejak Rangga menganti kartunya.


Wanita itu duduk sedikit mering mengadap Rangga. "Berarti aku yang pertama tidur sama mas? Sama kayak aku yang pertama mas dapatkan?" Wajah Rania berbinar, pertanda sangat bahagia.

__ADS_1


Itu semua malah semakin membuat Rangga gugup. Laki-laki itu diam membisu, mengatur nafasnya agar tidak terliat mencurigakan. Tentu saja Rania bukan yang pertama untuknya, sebelum mengenal Rania, Rangga sempat menjelajah.


"Mas aku yang pertama kan?" ulang Rania.


"Mas, ish ... kok nggak di jawab? Oh bukan aku ya?" gumam Rania melepaskan ngenggaman tangannya, merubah posisinya menghadap jendela.


"Sayang?"


"Iya atau Nggak?" tanya Rania tanpa menatap Rangga.


"Nggak," jawab Rangga jujur.


"Pantesan ahli, suhu ternyata," sindir Rania.


"Sayang dengerin mas dulu, itu cuma masalalu kok," jelas Rangga. Laki-laki itu menepikan mobilnya di tempat sepi ingin menyelesaikan semuanya, kenapa pula wanitanya tiba-tiba bertanya seperti itu padahal hari ini ia sangat bahagia.


"Iya tau, aku nggak marah kok mas, wajarlah, Mas kan laki-laki pasti punya pacar sebelum aku."


"Kamu pacar mas yang pertama dan terakhir!" tegas Rangga, dan itu sontak membuat Rania memelototkan matanya. Rangga baru saja menyiram bensin pada api.

__ADS_1


...****************...


Tabur bunga jangan lupa💃💃💃💃💃💃


__ADS_2