Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 54 - Kehilangan


__ADS_3

Sesuai saran yang di berikan Agas, Rangga mengajukan gugatan percerain pada pengadilan Agama, tak lupa ia menyuruh pengacara ibunya untuk mengurus yang lainnya karena ia harus menemui Rania terlebih dahulu.


Sekarang yang Rangga miliki hanya ponsel, mobil, juga beberapa tabungannya selama ini. Sangat di untungkan ibunya memberi warisan berupa hotel yang terpisah dari saham yang bisa aja di usik oleh mantan istrinya.


Karena rasa tak sabar Rangga, membuat Agas kesusahan sendiri. Laki-laki itu meminta Agas untuk menemaninya bertemu sang kekasih.


"Ok gue bakal nemenin lo, tapi nggak sekarang Ga, gue sibuk masih ada kelas, minggu depan dah!" kesal Agas saat dirinya terus di ganggu oleh sahabatnya itu.


Tidak tahukah Rangga bahwa ia sedang bersedih?


"Ck, tapi gue mau ketemu sekarang!" desak Rangga.


"Yaudah sana berangkat sendiri, alamat nya udah ada di tangan lo," ucap Agas setelahnya berlalu pergi.


Bukan tak ingin membatu, tapi dirinya benar-benar sibuk akhir-akhir ini.


***

__ADS_1


Karena tak sabar, Rangga berangkat seorang diri menuju rumah nenek Agas yang ada di luar kota. Karena tak tahu mau menghubungi siapa dan hanya berbekal alamat, Rangga sedikit kesusahan mencari alamat Nenek Nena.


Ia sudah sampai di kota tempat kelahiran Agas. Namun, belum juga menemukan rumah tempat yang akan ia tuju, padahal Rangga sudah keliling hampir satu jam lebih.


"Permisi, maaf kalau menganggu waktunya bu. Alamat ini udah cocok di sini kan?" tanyanya entah kesekian kali.


"Oh benar nak, tinggal masuk lorong di ujung, nanti di sana ada rumah warna hijau, rumah nenek Nena."


"Makasih bu," sopan Rangga dan segera berlalu.


Ia kembali masuk ke mobilnya, memutar setir kemudi masuk ke sebuah lorong yang di tunjuk ibu-ibu tadi. Senyumnya mengembang saat turun dari mobil, jantungnya berdetak tak karuan.


"Nyari siapa nak?" tanya Nenek Nena sedikit menyipitkan matanya. Mencoba mengenali siapa laki-laki tampan beralis tebal di hadapannya itu. Seperti tidak asing, tapi ia tidak bisa mengenalinya.


"Saya nyari Rania nek. Saya Rangga sahabatnya Agas," jawab Rangga sesopan mungkin, ia mengusap keningnya yang penuh akan keringat.


"Kamu suaminya Rania ya?"

__ADS_1


Rangga mengernyit bingung, suami?


"Bu ...."


"Akhirnya kamu datang juga jemput istri kamu nak. Dia wanita yang baik. Sayangnya Nia udah pergi." Nenek Nena kembali melanjutkan kalimatnya.


"Per ... pergi? Kemana? Kata Agas Rania tinggal di sini Nek?"


"Duduk dulu nak!" Ajak Nenek Nena dan di ikuti oleh Rangga, walau perasaan laki-laki itu mulai risau dan tidak enak, jangan sampai Agas membonginya.


"Rania memang tinggal di sini nak, semua barang-barangnya masih ada di dalam. Tapi pagi tadi dia izin sama Nenek pulang ke kampungnya, katanya ibunya sedang sakit parah."


"Nenek tau kampungnya dimana?" tanya Rangga dengan raut wajah serius. Selama ini ia juga tidak tahu dimana kampung halaman Rania, wanita itu tidak pernah bercerita apapun padanya.


"Loh, harusnya kamu tau. Diakan istri kamu Nak!" heran nenek Nena.


Rangga mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, di sisi lain ia bingung akan pembicaraan nenek Nena yang menyangka dirinya suami Rania. Ia ingin menjawab, tapi takut salah, mungkin saja Agas berbohong selama ini agar nenek Nena mau menerima Rania.

__ADS_1


"Saya pamit nek, makasih!"


...****************...


__ADS_2