Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 38 - Mencari Tempat Ternyaman


__ADS_3

Sembari menunggu Agas ditaman, Rania memakan coklat pemberian seseorang, sebenarnya ia takut, tapi ia sangat menginginkan coklat itu.


"Kak Agas dari mana?" tanya Rania setelah Agas kembali dan duduk di sampingnya.


"Ada urusan tadi, gimana coklatnya enak?"


Rania sontok menghentikan kunyahannya. "Ini dari kak Agas?"


"Hm, lo berharapnya dari siapa? Rangga?"


"Nggak," gumam Rania seraya mengeleng.


Agas melempar tatampannya kedepan, mungkin ini saat yang tepat untuk menanyakan kejadian semalam, ia penasaran dan ingin segera menyelidikinya.


"Gue boleh nanya tentang semalam?"


Rania terdiam, sembari menundukkan pandangannya. Ia tidak mungkin memberitahu Agas tentang perintah orang semalam, itu sama saja ia mengingkari janjinya. Agas bagian dari Rangga.


"Rania?"


"Iya kak?"

__ADS_1


"Lo liat wajah mereka? Mereka ada ngomong sesuatu sama lo? Misalnya ngancem keselamatan gitu?"


"Nggak ada kak, kayaknya mereka murni perampok tapi salah masuk rumah. Mungkin ngira aku banyak uang, nyata-nyata nggak, jadilah mereka cuma nyakitin aku." bohong Rania.


"Yakin? Nggak ada hubungannya dengan Rangga?"


"Ya-yakin."


Lama keduanya duduk di taman, hingga Rania memilih kembali ke ruang rawat untuk istirahat, terlebih ia harus belajar untuk persiapan ujian nanti.


Biarkan ia memendam masalahnya sendiri, ia yakin bisa melewatinya. Lagi pula mungkin lusa adalah hari terakhirnya berada di kota ini. Tinggal di Bandung sama saja ia menginkari janji, karena Rangga tahu keberadaanya.


Tapi sebelum Rania menghilang, setidaknya ia mengikuti ujian semester 5 nya.


Karena tidak ada cedera serius juga kandungannya baik-baik saja, akhirnya Rania di perbolehlan pulang oleh dokter lebih cepat.


Di perjalan pulang, Rania terus melamun, memikirkan kemana ia akan pergi, dan bisa bertahan hidup berbekal uang yang di berikan Agas padanya.


Diam-diam Rania melirik Agas yang fokus menyetir.


Makasih kak udah bantu aku selama ini, aku janji bakal balas semua kebaikan kakak setelah sukses nanti.

__ADS_1


"Jangan lirik-lirik gitu, kalau mau natap, natap aja kali. Gue tau, gue tampan," pede Agas dengan kekehan kecil, membuat Rania sedikit malu.


"Gua cuma becanda aelah. Lo kok akhir-akhir ini jadi kaku sama gue? Gue punya salah?" lanjut Agas.


Laki-laki itu memutar setir kemudi memasuki gang sempit tempat Rania tinggal. Agas sudah menawarkan agar Rania tinggal di rumahnya, tapi wanita itu menolak dengan alasan tidak enak. Padahal kedua orang tua Agas sangat setuju.


"Makasih kak Agas selama ini udah bantuin aku."


"Kalimat lo aneh, seakan-akan ini yang terakhir," ucap Agas tajam. "Awas aja lo bohongin gue!" ancamnya.


"Kak Agas apaan sih, orang cuma makasih doang di curigain. Daripada aku langsung masuk kerumah tanpa makasih kan lebih aneh."


"Iya deh lo menang debat calon buk dokter. Ah ya gue baru ingat." Agas menjentikkan jarinya. "Mentang-mentang lo calon dokter, masuk rumah sakit kek liburan ye keseringan," ledeknya membuat Rania menyungingkan senyuman.


Agas mengacak-acak rambut Rania. "Masuk gih, gue nggak bisa lama-lama, masih ada kelas, 2 lagi."


Baru saja Rania akan menutup pintu, Agas kembali bicara. "Oh ya Rania, tentang Rangga gue ...."


"Dah kak, sampai jumpa," potong Rania melambaikan tangannya, tak ingin membahas Rangga, takut orang yang menyakitinya ada di sekitar sini.


Rania mendudukan diri di pinggir ranjang sembari berselancar di media sosial, mencari-cari tempat yang pas dimana seseorang tidak mengenalinya termasuk Rangga dan Agas.

__ADS_1


Untuk kuliah dan cita-citanya mungkin memang bukan takdirnya menjadi seorang dokter. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan calon anaknya, juga kebahagian dirinya.


...****************...


__ADS_2