Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 129


__ADS_3

Setelah mengumumkan status Rania pada semua pelayan, dan menuruti segala perintah wanita itu, Rangga pamit untuk ke kantor sebentar karena masih ada urusan. Ia menitipkan sang istri pada kepala pelayan.


Untuk di mansion, Rangga tidak perlu was-was ada yang mencelakai Rania, itu tidak akan terjadi. Mansion itu sejak dulu tidak bisa di masuki orang asing manapun.


"Mas Rangga!" Panggilan yang bersamaan dari kedua wanita cantik berhasil menghentikan langkah Rangga yang hendak keluar rumah.


Rania lebih dulu menghampiri Rangga, meraih tangan suaminya kemudian mengecup tepat di depan Melisha. Wanita itu sedikit berjinjit untuk mengecup bibir Rangga sekilas.


"Hati-hati mas, pulangnya jangan lama-lama," ujar Rania.


"Iya sayang," sahut Rangga mengecup kening Rania sedikit lama. "Nggak usah takut, kalau Melisha mau ngapa-ngapain kamu, lawan aja. Ingat kamu nyonya di rumah ini, menantu keluarga Fan yang sesungguhnya," bisik Rangga.


"Iya mas tenang aja."


Rania ikut kedepan untuk mengatar kepergian sang suami, melambaikan tangannya. Setelah mobil yang di kendarai Rangga menghilang dari pandangannya, wanita itu berbalik hendak masuk. Namun, urung saat Melisha berdiri di ambang pintu.


Mantan istri suaminya, yang sedari tadi diam saja layaknya orang lugu dan anggun kini menunjukkan taringnya setelah kepergian Rangga.


"Merasa menang kamu udah dapatin hati mas Rangga?" sinis Melisha.

__ADS_1


"Mas Rangga? Sudah aku bilang, dia suami aku dan hanya aku yang berhak memanggilnya seperti itu. Tentang puas? Iya aku puas."


"Dasar wanita tidak tahu diri!" Melisha melayangkan tangannya untuk menampar Rania. Namun, Rania dengan sigap menahannya.


"Maaf kak, aku kesini buka mau adu mekanik, tapi mau ngerawat ayah mertua aku, permisi," ujar Rania sedikit menghempaskan tangan Melisha, setelah itu masuk ke mension, menuju kamar ayah mertuanya.


Pria paruh baya itu sudah sarapan dan minum obat, jadi Rania tinggal memastikan saja, apa mertuanya butuh sesuatu atau tidak.


"Bu, biasanya jam-jam segini ayah mertua saya di apain?" tanya Rania pada kepala pelayan yang terus mengikutinya.


"Biasanya di suruh berjemur sama Nona Melisha, Nona."


"Oh gitu ya, yang angkat ke kursi roda siapa?"


Rania hanya mengangguk, duduk di samping tempat tidur yang kebetulan ada kursi.


"Ayah mau makan buah?"


"Pe-pewrgi," lirih Edwin menatap tak suka pada Rania.

__ADS_1


Pria itu merasa jijik melihat Rania saat mengingat apa-apa saja yang di ceritakan Melisha selama ini padanya. Di pikiran Edwin, Rania hanya memanfaatkan putranya.


"Pergi?" ulang Rania.


Edwin mengangkat tangannya, menunjuk keluar pintu, seakan mengatakan pergi dari rumah saya sekarang. Bukannya tersinggung, Rania malah tersenyum, walau itu hanya palsu, karena tahu keberadaanya tidak di ingingkan di sini.


"Rania nggak bakal pergi, sebelum ayah sembuh. Udah tugas Rania rawat ayah," ujar Rania.


Seraya menunggu pelayan memanggil orang, Rania mengupas buah jeruk untuk cemilan sehat. Setelah selesai, ia menyuapi Edwin. Namun, tangannya di tepis hingga potongan itu terlempar ke lantai.


"Oh, ayah nggak suka jeruk, mau Rania kupasin buah lain?"


Tanpa sadar, sedari tadi kepala pelayan memperhatikan kesabaran Rania merawat Edwin, bukan hanya Rania yang sering mendapat perlakuan tidak mengenakkan, semua yang ada di rumah ini termasuk Melisha juga.


Sejak sakit, emosi Edwin sering tidak terkontrol, mungkin tidak terima akan penyakit yang di deritanya.


"Istri baru Tuan Rangga beda ya? Nggak kayak nona Melisha yang emosian, sampai maki-maki Tuan Edwin," bisik laki-laki yang di panggil kepala Pelayan.


"Iya, moga aja istri baru Tuan Rangga, nggak munafik kayak nona Melisha, baik di depan Tuan Rangga doang."

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa ritual kembangnyaπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


__ADS_2